Jumat, 10 April 2020 11:53 WITA

Kabar Gembira, Ekspor Coconut  Charcoal Melonjak di Tengah Pendemi Covid-19

Editor: Fusuy
Kabar Gembira, Ekspor Coconut  Charcoal Melonjak di Tengah Pendemi Covid-19
Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan (foto/int)

RAKYATKU.COM, JAKARTA—Ini kabar gembira. Di tengah pandemic Covid-19, Kementerian Pertanian tetap konsisten. Kementerian yang mengurusi “perut” rakyat ini, terus menggenjot produksi dan ekspor komoditas perkebunan. Terkhusus, produk turunan kelapa. Utamanya, coconut charcoal.

Langkah memaksimalkan ekspor itu, dalam rangka akselerasi Gerakan Peningkatan Ekspor 3 kali lipat (Gratieks) hingga tahun 2024. “Coconut charcoal banyak dimanfaatkan. Selain untuk bahan obat dan farmasi, juga digunakan sebagai bahan bakar shisha/hookah atau rokok arab di kawasan Timur Tengah. Sedangkan di kawasan Eropa, digunakan sebagai bahan bakar BBQ/barbaque,” kata Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan.

Kasdi menambahkan, potensi kelapa Indonesia sebagai produsen nomor satu dunia, perlu dimanfaatkan dengan memperkuat hilirisasi. Tentu, dalam menghasilkan produk-produk turunan kelapa yang dapat memberikan nilai tambah langsung ke petani serta memperluas akses pasarnya. 

Merujuk data BPS yang diolah Ditjen Perkebunan bahwa pada 2019 ekspor arang kelapa Indonesia termasuk didalamnya coconut charcoal sebesar 188,05 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai USD145,09 juta. “Produk arang kelapa Indonesia paling banyak diekspor ke negara China, Brazil, Jerman, Lebanon, Malaysia, Belanda, Rusia, Saudi Arabia, Srilangka dan Vietnam,” tambahnya.

Salah satu pelaku usaha atau industri pengolahan coconut charcoal, PT. Tom Cococha Indonesia,  yang berlokasi di Tujurhalang, Bogor, pada Maret hingga April 2020 tetap berproduksi untuk memenuhi permintaan pasar Eropa dan Timur Tengah. 

Saat ini, menurut Asep Jembar Mulyana, Direktur Utama PT. Tom Cococha Indonesia, supply bahan baku masih lancar dan sebagian besar didapat dari petani kelapa di daerah Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. “Bahan baku terus dikirim dengan jumlah 2-3 truk per hari untuk memenuhi order ekspor beberapa bulan kedepan. Sejauh ini,  volume ekspor mencapai 500 ton/bulan dan akan ditingkatkan menjadi 1.000 ton/ bulan,” katanya. 

Selanjutnya, Asep Jembar menambahkan, pada 6 April 2020 dilakukan stuffing container ekspor ke Belgia dengan volume 18 ton. Tanggal 7 April 2020 dilakukan stuffing untuk pasar ekspor Irak dan sejumlah negara di Eropa dengan volume sebesar 45 ton. Sedangkan pada 8 April 2020 dilakukan stuffing container ekspor ke Valencia, Spanyol sebesar 18 ton. Dengan kondisi seperti itu, ekspor coconut charcoal naik signifikan. 

“Kebutuhan arang kelapa atau briket sangat prospektif dan berpotensi dilakukannya perluasan pasar. Karena, sampai saat ini, produk briket dunia terutama BBQ masih dikuasai arang kayu, dan negara-negara maju yang merupakan konsumen terbesar akan produk ini sadar betul berapa besar kerusakan hutan atau pohon-pohon yang ditebang untuk keperluan arang briket. Sehingga kedepan, potensi coconut charcoal ini dapat menjadi produk substitusi dari arang kayu, dimana tidak merusak alam dan aman lingkungan,” tandas Kasdi.

Kata Kasdi lagi, perlu memperluas akses pasar untuk ekspor arang kelapa dan produk turunan kelapa lainnya dengan nilai tambah yang tinggi.  Hanya, lanjut dia, belum banyak dikembangkan di Indonesia, seperti; VCO, dessicated coconut, sabut kelapa, asap cair, isotonic water, CCO, dan minyak goreng kelapa.  Karena, urai Kasdi memberikan contoh, selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor mentah atau setengah jadi seperti kopra. Kemudian, proses nilai tambah itu justru dilakukan negara lain. (*)

Loading...
Loading...

Berita Terkait