Senin, 30 Maret 2020 11:30 WITA

Rumah Sakit Dipadati Pasien Covid-19, Pemerintah Bolehkan Aborsi di Rumah, Pil Dikirim Lewat Pos

Editor: Abu Asyraf
Rumah Sakit Dipadati Pasien Covid-19, Pemerintah Bolehkan Aborsi di Rumah, Pil Dikirim Lewat Pos
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Perempuan dilarang melakukan aborsi di rumah. Berisiko. Itu dulu. Sekarang, pemerintah Inggris melonggarkan undang-undang tersebut.

Perempuan yang hamil dimungkinkan minum pil di rumah untuk mengakhiri kehamilan. Pelonggaran aturan berlangsung dua tahun. Atau setelah wabah virus corona berakhir.

Wanita dapat menggunakan pil hingga pekan ke-10 kehamilan. Mereka harus berkonsultasi dengan dokter melalui telepon atau obrolan video untuk mendapatkan resep. Pil dikirim melalui pos. 

Sebelum pengumuman, aborsi di Inggris hanya dapat dilakukan di rumah sakit. Oleh dokter spesialis atau klinik berlisensi. Perlu disetujui dua dokter untuk menyatakan bahwa itu tidak melanggar ketentuan Undang-Undang Aborsi 1967.

Para juru kampanye telah memperingatkan 44.000 wanita di Inggris dan Wales akan perlu mengunjungi dokter untuk mengakses aborsi medis awal dalam 13 minggu ke depan. Perjalanan seperti itu akan sangat merusak strategi jarak sosial pemerintah. 

loading...

"Keselamatan publik dan akses berkelanjutan ke layanan utama adalah prioritas kami selama periode yang sulit ini," ujar juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial.

"Kami memperbarui pedoman kami sehingga wanita yang membutuhkan aborsi hingga sepuluh minggu dan tidak dapat mengakses klinik dapat menggunakan pil aborsi di rumah. Ini akan bersifat sementara dan harus mengikuti telepon atau konsultasi elektronik dengan dokter," jelasnya.

Kebijakan pelonggaran aborsi itu menuai banyak protes. Namun, Dr Patricia Lohr, direktur medis di British Pregnancy Advisory Service, mengatakan, "Banyak wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan saat ini tidak dapat meninggalkan rumah mereka."

Jika harus melakukan perjalanan jauh untuk mengakses perawatan, maka mereka berisiko terinfeksi virus corona.

Loading...
Loading...