Senin, 30 Maret 2020 07:00 WITA

Pesan Berantai RSUD Bulukumba Galang Dana untuk APD, Begini Faktanya

Penulis: Rahmatullah
Editor: Abu Asyraf
Pesan Berantai RSUD Bulukumba Galang Dana untuk APD, Begini Faktanya
Humas RSUD Bulukumba, Gumala Rubiah

RAKYATKU.COM -- Manajemen RSUD Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba gelisah. Di tengan wabah Covid-19, mereka harus memutar otak agar kebutuhan penanganan pasien bisa tercukupi.

Alat Pelindung Diri (APD) menjadi kendala besar saat ini. Persediaan terbatas. Anggaran juga minim.

Segala upaya dilakukan untuk membuat mereka tetap aman. Merakit sendiri alat pelindung wajah dengan menggunakan bahan sederhana yang banyak dijual di toko ATK. 

Hingga penggunaan masker yang berulang bagi petugas medis saat berada di rumahnya ketika sedang tidak shift.

Pemda sedang mengusulkan anggaran Rp10 miliar. Telah dibahas di DPRD. Namun itu memakan waktu yang cukup lama.

Kekurangan-kekurangan itu diakui Humas RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, Gumala Rubiah. 

Saat ini, RSUD memang menerima banyak donasi dan bantuan APD dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Seperti yang disalurkan Musafir, warga Bulukumba yang menyumbangkan APD ke RSUD Bulukumba.

Pada Minggu (29/3/2020), pesan berantai di WAG tentang "Open Donation" RSUD Bulukumba sempat heboh. 

Kata Mala, pesan tersebut bukan dari pihak rumah sakit, melainkan dari masyarakat yang peduli dan memutuskan untuk membuka donasi untuk pembelian APD. 

Hanya saja mereka keliru karena mengatasnamakam manajemen atau Humas Rumah Sakit yang meminta langsung.

Pesan Berantai RSUD Bulukumba Galang Dana untuk APD, Begini Faktanya

loading...

Mala mengatakan, terjadi kesalahan komunikasi. Namun Gumala telah menyampaikan permintaan maafnya ke publik untuk hal itu.

"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kepedulian masyarakat untuk membantu kami dalam pemenuhan APD. Perlu kami perjelas bahwa pesan berantai ini bukan dibuat oleh saya, tapi dari teman-teman yang peduli akan kondisi saat ini. Kesalahannya adalah karena mengatasnamakan rumah sakit atau humas," jelas Mala. 

"Saya diminta oleh teman-teman untuk mengelola bantuan dari mereka untuk dibelanjakan membeli APD. Mohon maaf jika penggalangan dana ini salah karena tidak sesuai prosedur karena adanya miss komunikasi. Mohon tidak menyebar broadcast tersebut," lanjutnya.

"Segala bentuk sumbangan yang masuk di rekening saya akan saya laporkan di akun Facebook saya. Silakan menghubungi di 085299380570 untuk saya kirim kembali di rekening teman yang sudah berdonasi," kata Gumala.

Bukan tanpa alasan mengapa APD begitu penting, kata Mala. Karena penggunaan APD di rumah sakit untuk satu pasien saja, petugas bisa menghabiskan banyak APD.

"Mulai masuk hingga rawat ruang isolasi di IGD minimal dua, petugas laboratorium minimal satu, petugas radiologi minimal dua, perawat isolasi minimal dua (3 kali shift/hari), dokter DPJP satu tiap hari. Lanjut dirujuk minimal dua dengan drivernya," ujarnya.

"Jadi minimal 12 baju APD per hari kalau tidak dirujuk. Hanya sekali pakai dengan harga yang sudah tidak rasional seperti halnya harga masker dan yang lainnya. Seperti baju hazmat suitnya saja, belum aksesori lainnya," tambahnya.

Ia berharap masyatakat membantu untuk tetap di rumah saja. Agar bisa meutuskan rantai penularan.

"Jangan memaksa kami memakai baju yang tidak nyaman itu. Jangan memaksa kami menolong Anda dengan APD yang tidak standar karena kita akhirnya akan sama-sama tumbang," tuturnya.


 

Loading...
Loading...