Kamis, 26 Maret 2020 20:15 WITA

Pj Wali Kota Bilang Sudah Ada Obat Covid-19 di Makassar, Ternyata Obat Malaria yang Disebut Jokowi

Editor: Abu Asyraf
Pj Wali Kota Bilang Sudah Ada Obat Covid-19 di Makassar, Ternyata Obat Malaria yang Disebut Jokowi
Pj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb

RAKYATKU.COM – Angka kasus positif Covid-19 di Makassar dan Sulsel terus bertambah. Hari ini, sudah mencapai 27 orang.

Penjabat Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb meminta masyarakat tidak terlalu panik. Namun, harus tetap waspada dan mengikuti anjuran pemerintah.

Terkait penanganan pasien Covid-19, Iqbal mengatakan, saat ini obatnya sudah tiba di Makassar.

"Sudah tersedia," kata Iqbal kepada wartawan, Kamis (26/3/2020).

Ternyata obat yang dimaksud Iqbal adalah Chloroquine phosphate. Sebenarnya obat ini untuk malaria. Namun, beberapa negara telah menggunakannya untuk pasien Covid-19.

Salah satu negara yang menggunakan Cloroquine adalah Jepang. Presiden Jokowi sempat mengumumkan dua jenis obat yang disiapkan pemerintah. Salah satunya Chloroquine.

Sebelumnya, penelitian yang dilakukan departemen infeksi dan imunitas di Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai menyatakan obat malaria chloroquine tidak efektif mengobati pasien positif virus corona.

Para peneliti mengatakan pengobatan konvensional selain Chloroquine di tengah situasi belum tersedianya vaksin Covid-19 justru lebih efektif memulihkan kondisi pasien corona.

loading...

Sebab laporan yang diterbitkan oleh Journal of Zhejiang University di China menunjukkan bahwa pasien yang meminum obat Hydroxychloroquine atau Chloroquine tidak menunjukkan reaksi pemulihan. Namun, penelitian itu hanya melibatkan 30 pasien.

Melansir Bloomberg, 13 dari 15 pasien yang diberi obat malaria selama satu minggu dinyatakan tetap positif Covid-19. Sedangkan 14 dari 15 pasien yang tidak mendapatkan Chloroquine juga masih dinyatakan negatif.

Pasien yang tidak menerima Chloroquine mendapat perawatan konvensional dan obat yang direkomendasikan dalam pedoman pengobatan China, seperti Lopinavir dan Ritonavir.

Dalam penelitian itu, peneliti bahkan menyatakan kondisi pasien yang diobati dengan Hydroxychloroquine berkembang menjadi semakin parah selama penelitian.

Selain itu, empat pasien lain yang diberi Chloroquine mengalami diare dan tanda-tanda kerusakan hati yang potensial.

Meski demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian tambahan menggunakan jumlah pasien yang lebih besar diperlukan untuk menyelidiki sepenuhnya risiko dan manfaat obat. Selain itu, hasil penelitian tersebut tidak signifikan secara statistik.

Melansir NPR, Food and Drug Administration AS memperingatkan bahwa antusiasme bahwa Hydroxychloroquine dapat mengobati penderita COvid-19 terlalu premature. Sebab, studi klinis yang besar terhadap obat melawan COVID-19 baru saja dimulai. 

Loading...
Loading...