Selasa, 17 Maret 2020 15:25 WITA

Ilmuwan: 250 Ribu Orang Inggris Akan Mati akibat Virus Corona

Editor: Abu Asyraf
Ilmuwan: 250 Ribu Orang Inggris Akan Mati akibat Virus Corona
Lari maraton yang digelar di Inggris di tengah wabah virus corona.

RAKYATKU.COM - Tingkat kepatuhan warga Inggris dalam kasus virus corona tergolong rendah. Konser dan lari maraton yang melibatkan belasan ribu orang, Minggu (15/3/2020), contohnya.

Wajar jika ilmuwan memprediksi 250 ribu orang Inggris akan mati akibat virus corona. Itu bisa tidak terjadi jika ada langkah ekstrem yang dilakukan untuk mencegahnya.

Tim Imperial College Covid-19 yang telah menasihati para menteri mengatakan, rencana "jarak sosial" yang ditetapkan pemerintah, sistem kesehatan akan kewalahan berkali-kali.

Dalam laporan terakhirnya, dikatakan satu-satunya strategi yang dapat dijalankan adalah kebijakan penindasan gaya China. Melibatkan jarak sosial dari seluruh populasi. 

Langkah-langkah seperti itu perlu dipertahankan secara potensial selama 18 bulan atau lebih sampai tersedia vaksin yang efektif. Angka kematian virus corona di Inggris mencapai 55 orang.

Peringatan keras itu datang setelah Boris Johnson meluncurkan langkah-langkah masa damai yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mencoba mengendalikan penyebaran Covid-19.

loading...

"Selain itu, bahkan jika semua pasien dapat diobati, kami memperkirakan masih ada sekitar 250.000 kematian di Inggris dan 1,1-1,2 juta di AS," kata Imperial College dalam laporannya seperti dikutip dari The Evening Standard.
 
Seelumnya, dalam konferensi pers, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson meminta orang-orang untuk menjauh dari pub, klub, dan teater. Juga menghindari semua kontak dan perjalanan yang tidak penting.

Siapa pun yang tinggal di rumah tangga dengan seseorang yang memiliki gejala batuk atau demam terus-menerus diminta untuk mengisolasi diri selama 14 hari.

Panduan khusus akan dikeluarkan oleh NHS untuk 1,4 juta orang yang paling berisiko dari penyakit. 

"Tanpa tindakan drastis, kasus bisa berlipat ganda setiap lima atau enam hari," kata Boris Johnson.

Loading...
Loading...