Sabtu, 14 Maret 2020 21:30 WITA

Andi Ina, Suara Azan, dan Kerinduan Rakyat terhadap Wakilnya

Editor: Abu Asyraf
Andi Ina, Suara Azan, dan Kerinduan Rakyat terhadap Wakilnya
Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari (kanan) berbincang dengan Gubernur, Nurdin Abdullah dalam sebuah kesempatan.

RAKYATKU.COM - Andi Ina datang buru-buru, Sabtu malam (14/3/2020). Ketua DPRD Sulsel itu tiba di perumahan Bukit Nirwana Permai (BNP) 1 Moncongloe, sekitar lima menit jelang azan isya.

Warga tak sabar ingin melihat sosok pemilik nama lengkap Andi Ina Kartika Sari itu. Mereka sudah berkumpul sejak usai salat magrib. Masa menunggu itu diisi Yulia Salim. Dosen Teknik Informatika UMI.
 
"Saya di sini membantu Ibu Ina," katanya. Dia menjelaskan secara singkat Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016 Provinsi Sulsel tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Daerah.

Andi Ina datang dalam rangka sosialisasi perda tersebut. Pengurus dan anggota Majelis Taklim Khairunnisa Bukit Nirwana ikut hadir sebagai peserta. Karena Andi Ina telat datang, penjelasan lebih banyak disampaikan Yulia.

Istilah "pengarusutamaan" bikin banyak warga bingung. Apa arti kata itu? Sejak undangan disebar, sudah banyak yang bertanya-tanya. Sampai pertemuan berakhir, istilah itu tetap saja menggantung. Tak ditemukan padanan kata yang sederhana.

Tema kesetaraan dan keadilan gender memicu kalangan "bapak-bapak" untuk bertanya. Salah satunya dari Abdul Syukur Gay. Dia ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Moncongloe Lappara.

Katanya, sebagian wanita karier cenderung memandang rendah suaminya. Apalagi jika jabatan dan penghasilannya lebih tinggi. Ini fenomena yang terjadi di tengah perjuangan kesetaraan dan keadilan gender.

Yulia tak setuju perempuan bersikap demikian. Katanya, setinggi apapun jabatan seseorang di luar, ketika pulang ke rumah tetap saja ibu rumah tangga. Harus saling menghargai dengan suami.

"Mohon maaf Pak, saya hanya bisa menjawab dari sisi perempuan. Terus terang saya juga belum menikah. Belum punya suami," katanya yang disambut riuh hadirin.

Andi Ina, Suara Azan, dan Kerinduan Rakyat terhadap Wakilnya

Tidak lama kemudian, mobil patroli masuk gerbang perumahan Bukit Nirwana Permai 1. Di belakangnya ada mobil yang ditumpangi Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari.

Politikus Partai Golkar itu disambut Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin. Juga tokoh masyarakat, Andi Herman yang sekaligus pelaksana pertemuan tersebut.

Andi Ina yang datang dengan baju kuning bergaris hitam vertikal menyodorkan tangan kepada Andi Herman. Hendak bersalaman. Dengan penuh hormat, Andi Herman mengatupkan kedua telapak tangan dari jauh.  

Aksi itu kembali bikin riuh. "Biar lebih Islami Pak," ujar Andi Herman sambil tertawa.

Dalam Islam, tidak dianjurkan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan nonmahram. Dalilnya tidak main-main. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadisnya shahih.

"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya." (HR. Thabrani)

Andi Herman kemudian mempersilakan Andi Ina untuk berbicara. Tiba-tiba azan terdengar dari masjid yang hanya berjarak sekitar 40 meter dari lokasi pertemuan.

"Kita dengarkan azan dahulu," sahut Andi Ina yang memasuki periode ketiga di DPRD Sulsel.

Dia pertama kali terpilih ke DPRD Sulsel pada periode 2009-2014. Sempat gagal pada Pemilu 2014, putri politikus senior Golkar, Andi Tja Tjambolang itu akhirnya kembali ke parlemen mengisi kursi yang ditinggalkan Andi Pangerang Rahim yang terpilih menjadi wakil wali kota Parepare.

Pada Pemilu 2019, Andi Ina kembali terpilih. Di Dapil VI yang meliputi Maros, Pangkep, Barru, dan Parepare, dia mengumpulkan 19.652 suara. Bukit Nirwana Permai 1 menyumbang sekitar 200-an suara.

"Terima kasih banyak. Alhamdulillah, walau banyak yang belum kenal saya, suara itu ikut mengantar saya kembali ke DPRD Sulsel," kata politikus berlatar belakang notaris itu.

Andi Ina baru memperkenalkan diri saat iqamah kembali terdengar dari masjid. Sebagian besar warga, terutama laki-laki, langsung beranjak dari tempat. Langsung menuju masjid untuk salat isya berjemaah.

"Kita pending dulu, kita lanjutkan setelah salat berjemaah," kata Andi Herman yang memandu acara.

Sebenarnya Andi Ina buru-buru ingin pulang. Katanya, hanya bisa memperkenalkan diri karena ada agenda di tempat lain. Namun, kerinduan rakyat terhadap wakilnya sulit dibendung. Banyak unek-unek yang terpendam.

loading...

Selepas isya, satu per satu warga menyampaikan aspirasinya. Dimulai dari Kades Sirajuddin. Dia menyampaikan kebutuhan warga terkait SMP di Moncongloe.

"Ada lahan satu hektare milik PT Asabri untuk fasum. Namun, belum diserahkan ke pemerintah desa. Padahal, Pemkab Maros siap membangun gedungnya," kata Sirajuddin.

Berikutnya, Rizal Tawil. Dia ketua Yayasan Kesehatan Nasional yang membina sejumlah lembaga pendidikan di Sulawesi Tenggara. Di Bukit Nirwana, Rizal salah seorang ketua RT.

Dia menyampaikan bahwa warga sedang membangun masjid di kompleks itu. Masih butuh dana besar untuk merampungkannya. "Sebagai informasi Bu Ketua, Pak Andi Herman ini adalah ketua panitia pembangunan masjid," katanya.

Aspirasi kedua, terkait penyediaan air bersih. Masalah ini sudah berkali-kali diungkapkan warga. Termasuk kepada anggota DPRD Maros dan Pemkab Maros. Namun, sejauh ini belum ada realisasi.

Rizal mewakili warga berharap bisa difasilitasi agar PDAM bisa memberikan layanan air bersih. Selama ini warga mengandalkan sumur bor. Ketika musim kemarau, sebagian sumur warga kering.

Terkait pembangunan masjid, Andi Ina menyarankan agar dibuat yayasan lebih dahulu. Itu syarat untuk mendapatkan bantuan dari Pemprov Sulsel. Jika belum punya yayasan, Andi Ina siap memfasilitasinya.

"Insya Allah kami tidak memungut biaya apapun," katanya.

Setelah yayasan terbentuk, Andi Ina juga berjanji memfasilitasi agar mendapat bantuan dari Pemprov Sulsel. Memang ada anggaran dalam APBD yang ditujukan untuk pembangunan rumah ibadah.

Mendengar jawaban itu, beberapa warga berbisik, "Tidak apa-apa sumbangan pribadi saja dulu Bu sambil menunggu terbentuknya yayasan." Namun, tak sampai terdengar Andi Ina.

Ketua DPRD Sulsel sebelumnya, Mohammad Roem memang kerap memberikan sumbangan insidentil. Mantan bupati Sinjai itu kerap menyumbang masjid dan kegiatan keagamaan lainnya sampai Rp10 juta.

Andi Ina kembali mohon pamit, namun warga belum puas. Masih banyak harapan yang ingin disampaikan. Waktu pun diperpanjang.

Giliran Sudjar Adityadjaja yang berbicara. Dia sekretaris Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sulsel dan mantan ketua RW di Bukit Nirwana 1.

Aspirasinya skalanya sedikit lebih luas. Dia melihat fenomena di setiap pergantian gubernur. Program gubernur lama tidak dilanjutkan oleh penggantinya. Akhirnya muncul bengkalai-bengkalai, padahal telah menelan anggaran besar.

Sudjar yakin Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah tidak akan melakukan hal yang sama. Namun, kontrol dari ketua DPRD Sulsel tetap diharapkan. Program yang baik dari gubernur sebelumnya, sebaiknya dilanjutkan.

Sudjar juga berharap Andi Ina mendorong penyelesaian outer ring road Makassar Mamminasata. Ini kebutuhan mendesak di tengah kemacetan yang kian hari semakin parah.

Ternyata itu bukan yang terakhir. Warga lainnya Muhammad Kurnia tak ingin melewatkan kesempatan. Doktor alumni Jepang itu adalah ketua Program Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) Unhas.

Kurnia menyuarakan kartu tanda penduduk (KTP) nasional rasa lokal. Selama ini, katanya, hanya namanya nasional. Faktanya, KTP Maros tak bisa digunakan di Makassar.

"Kalau Jokowi belum bisa, minimal kita memulainya dari Sulawesi Selatan," katanya.

Akhirnya, Andi Ina yang sedianya hanya beberapa menit, terpaksa melayani aspirasi warga. Dia mencatatnya sendiri. Juga oleh stafnya. Pertemuan baru berakhir pukul 20.20 wita.

Pertemuan singkat itu tak menyelesaikan persoalan. Namun, Andi Ina memberi harapan. "Kantor saya terbuka untuk Pak Desa, Pak Andi Herman, dan warga untuk menyampaikan aspirasinya," tutupnya.

 
 

Loading...
Loading...