Sabtu, 14 Maret 2020 21:53 WITA

Putrinya Dilecehkan Kelompok Pemuda, Ayah di Bulukumba Malah Ditahan Polisi

Penulis: Rahmatullah
Editor: Abu Asyraf
Putrinya Dilecehkan Kelompok Pemuda, Ayah di Bulukumba Malah Ditahan Polisi
Warga Sapepe mendatangi Mapolsek Rilau Ale, Sabtu (14/3/2020).

RAKYATKU.COM - Wajah-wajah tegang tampak di halaman Polsek Rilau Ale, Bulukumba. Puluhan orang berkumpul. Mereka umumnya warga Sapepe, Desa Baji Minasa, Kecamatan Rilau Ale.

Pada Sabtu (14/3/2020) siang itu, mereka datang berunjuk rasa. Mempertanyakan tindak lanjut kasus pelecehan seksual dan penganiayaan.

Kanit Reskrim Polsek Rilau Ale, Aipda Muh Anshar Jalil mengatakan, kasus ini diawali pelecehan seksual. Korbannya, EK (18) dan kakaknya. Mereka warga Desa Bajiminasa, Rilau Ale. 

Peristiwa terjadi di Desa Bontobangun, Kecamatan Rilau Ale. Pelaku disebut berjumlah enam orang.

"Karena motif awalnya adalah pelecehan, maka ditangani PPA Polres Bulukumba. Yang kami tangani di sini, karena adanya laporan penganiayaan yang dialami orang tua korban," ujar Anshar.

Salah seorang korban, Asbar menceritakan peristiwa itu. Dia saat itu dalam perjalanan dari Kota Bulukumba menuju kampungnya di Sapepe. Berempat dengan sepupunya. Mereka menggunakan dua sepeda motor.

Saat tiba di Bodobaji, Desa Bontobangun, mereka diadang kelompok pemuda bermotor. Berboncengan. 

Asbar berhasil lolos dari adangan itu. Dua rekannya, termasuk EK, terjebak. EK saat itu dibonceng kakaknya yang juga perempuan. Pelaku memalang motornya lalu melancarkan aksi dengan meraba paha dan payudara korban.

"Saya berhasil kabur ji, tapi adik ini tertinggal. Saat itu saya mencoba melindungi diri, menjulurkan kaki ke pelaku. Saya bilang, kamu kenapa begitu," cerita Asbar.

Beberapa saat kemudian, EK dan kakaknya berhasil lolos. Namun terus dibuntuti komplotan itu sampai ke kampung korban di Sapepe. Hingga korban mampir ke rumah tantenya meminta pertolongan.

Bukannya menghentikan aksinya, komplotan itu malah mengeluarkan kalimat tak senonoh kepada sejumlah warga. Warga marah dan mengejarnya. Ayah korban juga ikut.

loading...

Pelaku sempat dipukul menggunakan mistar kayu. Setelah itu, para pelaku kabur dengan sepeda motornya.

Ahmad, salah seorang orang tua korban pengadangan, penasaran. Dia ingin tahu mengapa anak muda itu mengadang anaknya dan bahkan berani mengikuti korban hingga ke Sapepe.

Ahmad lalu membuntuti pelaku yang kabur hingga ke Bontobangun. Seorang diri. Kesempatan itu dimanfaatkan komplotan anak muda itu membalas lagi. 

"Belum turun dari motor, kuncinya sudah direbut. Lalu memukul. Mereka pakai kayu, bambu. Bahkan ada yang lari ke dalam rumah ambil parang. Padahal niat saya ke sana hanya bertanya, alasannya lakukan hal begitu. Tak mungkin juga saya berani berkelahi karena saya hanya sendiri," tuturnya.

Ahmad menyebut ada sekitar 10 orang pelaku yang mengeroyok dirinya. 

"Ini wajahku, betisku memar. Saya sudah visum di puskesmas," kata dia sembari memperlihatkan wajahnya yang membiru.

Rupanya komplotan anak muda itu melapor balik ke polisi. Mereka mengadukan penganiayaan yang diduga dilakukan ayah korban EK.

Inilah yang memicu kemarahan warga Sapepe sehingga mendatangi Mapolsek Rilau Ale. Mereka memprotes keputusan polisi yang menahan ayah korban. 

"Kenapa orang tua korban ikut ditahan? Padahal, melakukan perlindungan kepada anaknya. Kedua, kami mendesak Polsek segera menangkap komplotan anak muda yang menganiaya dirinya. Perlihatlan keadilan kepada kami," ujar Ahmad yang diiyakan sejumlah kerabat yang hadir.

Saat ini, Polsek Rilau Ale menahan tiga anggota komplotan yang melakukan penganiayaan terhadap Ahmad. Juga menahan orang tua EK karena diduga memukul menggunakan mistar kayu.

Loading...
Loading...