Selasa, 10 Maret 2020 17:28 WITA

Antisipasi Virus Corona, Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan Unhas Tanpa Jabat Tangan Rektor

Editor: Abu Asyraf
Antisipasi Virus Corona, Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan Unhas Tanpa Jabat Tangan Rektor
Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu tidak bersalaman dengan dua guru besar peternakan yang dikukuhkan, Selasa (10/3/2020).

RAKYATKU.COM - Di balik map merah, Profesor Jasmal Ahmari Syamsu merapatkan jari tangan kanannya. Pada Selasa (10/3/2020), dia dikukuhkan menjadi guru besar ke-403 Universitas Hasanuddin.

Profesor Jasmal sedianya mengatupkan kedua telapak tangannya. Namun, tangan kirinya sedang memegang map. Dia hanya memberi isyarat dengan satu tangan.

Di depannya, Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina mengatupkan kedua telapak tangan dengan sempurna. 

Bukan hanya Prof Jasmal. Guru besar Unhas ke-402, Prof Muhammad Irfan Said yang turut dikukuhkan, melakukan hal serupa. Tanpa jabat tangan dengan Rektot Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.

"Ibu Rektor memang dalam beberapa waktu ini mengurangi salaman," kata Ishaq Rahman AMIPR, kepala Subdit Humas dan Informasi Publik Direktorat Komunikasi Unhas.

Sikap Prof Dwia itu tak hanya dilakukan pada pengukuhan dua guru besar ini. Hal sama berlaku pada wisuda mahasiswa Unhas yang dijadwalkan 17-18 Maret 2020.

"Jumlah wisudawan lebih dua ribu. Rapat panitia tadi memutuskan, prosesi jabat tangan rektor dengan wisudawan ditiadakan. Hanya akan ada penyerahan map ijazah, tanpa jabat tangan," lanjut Ishaq.

Berbeda dengan rektor, dua guru besar yang dikukuhkan tetap bersalaman dengan tamu yang menghadiri acara. Seperti terlihat dilakukan Prof Irfan. 

Antisipasi Virus Corona, Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan Unhas Tanpa Jabat Tangan Rektor
 

Sebelumnya, pemerintah melalui Kantor Staf Kepresidenan (KSP) telah menerbitkan lima protokol terkait penanganan Covid-19. Kelimanya yakni protokol kesehatan, protokol komunikasi, protokol pengawasan perbatasan, protokol area pendidikan, serta protokol area publik dan transportasi.

Khusus, protokol area pendidikan, yang diatur adalah di lingkungan sekolah. Pada poin 12, diinstruksikan kepada warga sekolah untuk menghindari kontak fisik langsung, seperti bersalaman, cium tangan, berpelukan, dan sebagainya.


Guru Besar Fakultas Peternakan

Dua guru besar yang dikukuhkan hari ini berasal dari Fakultas Peternakan. Dilakukan dalam rapat paripurna senat akademik. Dimulai pukul 09.00 wita di Ruang Senat Akademik Unhas.

Rapat Senat Akademik dipimpin Ketua Senat Akademik, Prof Dr Dadang A Suriamihardja. Sementara prosesi pengukuhan dan pembacaraan berita acara penerimaan dibacakan Ketua Dewan Profesor Unhas, Prof Dr Ir Mursalim.

Prof Dr Muhammad Irfan Said SPt, MP, IPM menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak.

Dia saat ini menjabat ketua Departemen Produksi Ternak di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. 

Sementara Prof Dr Ir Jasmal Ahmari Syamsu, MSi, IPU, ASEAN Eng diangkat sebagai guru besar dalam bidang Ilmu dan Teknologi Pakan.

Prof Jasmal saat ini menjabat wakil dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Peternakan.

"Guru besar di Unhas cukup banyak. Tetapi kita tetap mendorong kuantitas dan kualitas guru besar kita," kata Rektor Unhas Prof Dwia usai memberi ucapan selamat.

Saat ini, Unhas menjadi perguruan tinggi dengan jumlah guru besar aktif terbanyak kedua di Indonesia. Tahun 2019, Unhas mengukuhkan 26 guru besar baru. Terbesar di antara seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Prof Dwia mengimbau agar guru besar tidak hanya tinggal di kampus. Justru harus memberi kontribusi pada masyarakat dan terhadap pembangunan daerah dan nasional.  

loading...

Dengan kepakaran yang dimiliki, seorang guru besar diharapkan dapat berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan daerah dan bangsa.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Irfan membawakan topik "Optimalisasi Potensi Kulit Ternak Sebagai Sumber Daya Peternakan Menuju Kemandirian Industri Pengolahan Kulit dalam Negeri".

Industri pengolahan kulit salah satu industri strategis yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Ketersediaan bahan baku kulit di Indonesia cukup potensial. 

Berdasarkan data tahun 2013-2017, populasi ternak besar dan kecil sebagai sumber bahan baku kulit di Indonesia masih didominasi oleh ternak kecil, seperti kambing dan domba. Disusul ternak sapi potong yang memiliki populasi terbesar di antara ternak besar lainnya.

Prof Irfan melihat bahwa masih terdapat beberapa permasalahan mendasar dalam pengembangan industri kulit di Indonesia. Setidaknya ada enam masalah.

Pertama, kontinuitas pasokan bahan baku kulit sangat rendah, sedangkan permintaan di dalam negeri sangatlah tinggi.

Kedua, kualitas bahan baku kulit dalam negeri masih tergolong rendah. Belum sesuai harapan industri.

Ketiga, kebijakan karantina terkait impor kulit belum berjalan optimal. Keempat, produksi limbah belum dikelola sesuai standar, berpotensi merusak lingkungan.

Kelima, keterbatasan sumber daya manusia. Keenam, proses produksi dari produk turunan kulit ternak belum maksimal.

"Pemanfaat by-product kulit ternak tidak hanya dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan non-pangan (fashion), namun juga untuk memenuhi kebutuhan pangan," jelas Prof Irfan.

Dia menutup pidato ilmiahnya dengan pernyataan bahwa meskipun kulit ternak hanya sisa hasil dari suatu proses penyembelihan, namun brand yang dibawa dapat melebihi nilai satu ekor ternak itu sendiri.

Antisipasi Virus Corona, Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan Unhas Tanpa Jabat Tangan Rektor

Sementara Prof Jasmal membawakan pidato dengan topik “Signifikansi Limbah Tanaman Pangan Sebagai Pakan Sapi Potong dalam Mendukung Pengembangan Peternakan Integratif”.

Prof Jasmal memaparkan, kualitas sumber daya manusia dipengaruhi tingkat konsumsi pangan. Terutama konsumsi protein hewani asal ternak. Peternakan merupakan faktor penentu kualitas sumber daya manusia.

"Selayaknya peternakan menjadi sektor yang patut mendapat perhatian serius dan butuh keberpihakan. Dengan terpenuhinya kebutuhan produk pangan akan berdampak pada meningkatnya status gizi dan kualitas sumber daya manusia," kata Prof Jasmal.

Selanjutnya dia menguraikan limbah tanaman pangan sebagai pakan sapi potong. Salah satu kendala ketersediaan pakan khususnya hijauan adalah berkurangnya lahan penggembalaan dan ketersediaannya dipengaruhi oleh musim. 

Kendala itu dapat diatasi dengan pemanfaatan pakan limbah tanaman pangan, seperti jerami padi, jagung, kedelai, kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar.

Menutup pidatonya, Prof Jasmal menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi dalam penerapan integrasi sapi potong dan tanaman pangan adalah belum terpadunya antara sub sektor peternakan dan tanaman pangan. 

"Sinergitas kebijakan dan program antar sub sektor peternakan dan tanaman pangan perlu dilakukan untuk pengembangan pola integrasi sapi potong dan tanaman pangan," katanya.

Rapat paripurna senat akademik dalam rangka pengukuhan guru besar ini berlangsung dengan lancar dan khidmat. Berakhir pada pukul 11.30 wita. Rektor UNM, Prof Husain Syam MTP turut hadir.

Antisipasi Virus Corona, Pengukuhan Dua Guru Besar Peternakan Unhas Tanpa Jabat Tangan Rektor

Loading...
Loading...