Selasa, 10 Maret 2020 15:29 WITA

Dibesuk Ketua Umum KONI Sulsel, Legenda PSM Malawing Terharu

Editor: Abu Asyraf
Dibesuk Ketua Umum KONI Sulsel, Legenda PSM Malawing Terharu
Ketua Umum KONI Sulsel, Ellong Tjandra membesuk Malawing yang terbaring di rumahnya, Selasa (10/3/2020).

RAKYATKU.COM - Sudah bertahun-tahun Malawing absen di pinggir lapangan. Mantan pemain Timnas PSSI itu ternyata sedang terbaring di rumah sakit.

Setelah lama gantung sepatu, Malawing mendapat tugas bagian perlengkapan PSM. Itu dulu. Beberapa tahun lalu. Dia yang berjasa mengurus bola yang digunakan latihan dan perlengkapan lainnya.

Sudah 11 tahun dia tak lagi mendampingi tim.  Malawing kini terbaring sakit di sebuah rumah sederhana di Jalan Abdullah Dg Sirua Nomor 44, Makassar. 

Dia didera penyakit asam urat. Membuatnya tidak bisa bangun. Pemain yang pernah membela PSM, Niac Mitra, dan Tim Nasional tahun 1976-1980 ini dikunjungi Ketua Umum KONI Sulawesi Selatan, Ellong Tjandra, Selasa (10/3/2020).

Ellong datang didampingi Wakil Bendahara KONI Abd Gaffar Lewa, Bidang Pembinaan Prestasi Syamsuddin Umar, dan Juru Bicara KONI Sulsel, M Dahlan Abubakar.
 
Dahlan Abubakar menulis tentang kunjungan Ellong Tjandra itu dan kiprah Malawing semasa aktif sebagai pemain. Berikut selengkapnya:

Dibesuk KONI Sulsel, Malawing Terharu 

Sudah lama dia tak pernah kelihatan di pinggir lapangan mendampingi PSM, klub yang memercayakan dia mengurus perlengkapan tim.

Sudah 11 tahun dia tak lagi mendampingi tim.  Malawing kini terbaring sakit di sebuah rumah sederhana di Jl Abdullah Dg Sirua Nomor 44, Makassar. 

Di saat terbaring didera penyakit asam urat dan membuatnya tidak bisa bangun, pemain yang pernah membela PSM dan Niac Mitra dan Tim Nasional tahun 1976-1980 ini terharu dikunjungi Ketua Umum KONI Sulawesi Selatan Ellong Tjandra, Wakil Bendahara KONI Abd Gaffar Lewa, Bidang Pembinaan Prestasi Syamsuddin Umar, dan Juru Bicara KONI Sulsel, M Dahlan Abubakar, Selasa siang (10/3/2020).
 
Malawing mengaku ada gangguan pada kakinya yang bengkak, sehingga membuatnya harus terbaring di tempat tidur. Ditemani istri setianya, ayah lima anak ini mengaku menerima sahabat yang mengunjunginya dalam kondisi terbaring. 

Malawing pernah membawa Niac Mitra menjuarai PialaAgha Khan 1979 di Bangladesh. Meski dalam posisi terbaring, tak berhenti bercerita. Melayani setiap pertanyaan Ellong Tjandra. 

“Jalan-jalan ki. Jangan tinggal terus di rumah,” kata Ellong Tjandra yang duduk di atas kursi plastik warna hijau di ujung kaki Malawing.

“Di mana ki mau pergi,” jawab Mallawing masih tetap dalam posisi terbaring dengan kepala menghadap ke barat. 

“Jalan-jalan ke KONI,” sambung Ellong lagi.

“Tidak tahu di mana,” sahutnya lagi yang membuat Ellong, Gaffar, dan Syam – panggilan akrab Syamsuddin Umar – sempat terkekeh.

Ellong Tjandra dan pengurus KONI Sulsel lainnya terpanggil membesuk Malawing karena sudah lama mendengar mantan pemain PSM ini jarang ada yang membesuknya. 

Dengan kunjungan ini, Ellong berharap akan memotivasi yang lainnya dapat meluangkan waktunya menjenguk pemain yang pernah membawa PSM tampil sebagai juara Piala Soeharto tahun 1974.

“Di tengah mempersiapkan atlet ke PON XX, kita masih dapat meluangkan waktu membesuk Malawing,” ujar Ellong dalam perjalanan pulang ke kantor KONI Sulsel usai membesuk Malawing.
 
Ellong bercerita, Malawing adalah teman mainnya ketika memperkuat Persatuan Olahraga Maluku (POM).

“Saya dulu di posisi bek di POM, Malawing yang membela Persis juga di posisi bek,” kenang Ellong.

Ellong bersama Malawing, Yusuf Malle, Dullah Rahim Wacano, Ronny Patty dan Donny Patty, Simson Rumahpasal, Hafid Ali di belakang bersama Syamsuddin Umar dan Abdi Tunggal di depan, memperkuat tim Remaja Sulsel mengikuti suatu turnamen.

“Saya kemudian pindah ke karate karena suka berantem,” papar Ellong sembari terkekeh.

loading...

Malawing, termasuk pemain yang bergabung dengan PSM tanpa melalui seleksi yang ketat. Sebelum bergabung dengan Persis, kemudian PSM, dia sering ditemukan sebagai salah seorang pengecer koran yang banyak beroperasi di sekitar lapangan Karebosi.
 
Pada saat tidak menjual koran, dia kerap bergabung di Lapangan Karebosi menendang-nendang bola. Pada masa itu, banyak anak-anak muda, termasuk pelajar dan mahasiswa yang berlatih sepak bola di lapangan Karebosi. Salah seorang siswa Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Ilham, sering menjadi sparring dengan Ronny Pattinasarany dan Malawing.
 
Sering juga Malawing menyaksikan para pemain PSM berlatih. Mungkin ada yang melihat kepiawaiannya bermain bola, sehingga menemukannya. Malawing pun ditarik sebagai pemain PSM dan memperkuat tim Ayam Jantan dari Timur ini yang kemudian menjuarai Piala Soeharto 1974. 

Sebagai pemain, Malawing hanya pernah membela dua klub, PSM Makassar dan Niac Mitra. Berbagai trofi juara pernah direngkuhnya. Ia pernah memperkuat timnas Indonesia pada 1974-1980.

Bersama timnas, Malawing berhasil membawa Tim Garuda pernah menembus semifinal President Cup 1980 di Korsel. 

"Kala itu persaingan masuk timnas sangat ketat. Alhasil PSSI punya tiga timnas yang kekuatannya sama," ujar Malawing yang tergabung dalam PSSI Banteng seperti dikutip dari buku “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah: (2020).

Namun, sosok yang sederhana ini mengaku sukses terbesarnya adalah membawa Niac Mitra menjuarai Agha Khan Cup 1979. 

"Saat itu semua tim terkuat di Asia ikut tampil. Termasuk klub asal Korsel yang kami kalahkan 4-1 di semifinal," ungkap mantan bek kanan PSM ini.

Semua itu tinggal kenangan, Malawing pernah menghabiskan waktunya sebagai karyawan lepas di lapangan Kerebosi, Makassar. 

Sebelumnya, Malawing sempat bertahun-tahun menjadi ofisial bagian umum PSM Makassar. Ia menjadi sosok yang paling dicari ketika seragam atau perlengkapan Juku Eja kurang lengkap di Liga Indonesia 2000. 

Tapi, pada tahun 2009 manajemen PSM tidak lagi memanfaatkan tenaganya. Kenyataan itu membuat Malawing kembali menghabiskan waktunya tak menentu di lapangan Karebosi. 

Hingga suatu saat dia bertemu dengan Ilham Arief Sirajuddin, wali kota Makassar waktu itu, yang sedang jogging di lapangan itu.

"Beliau meminta saya mengurusi lapangan," ungkapnya seperti yang diunggah melalui google.com 26 Desember 2018.  

Meski honornya kecil, Malawing menerima tugas itu. 
"Bukan semata soal uang, melainkan saya mendapatkan kepuasan karena setiap hari menginjak rumput lapangan Kerebosi,” kata Malawing, yang kerap menjadi wasit dadakan buat tim penyewa lapangan.

Bagi pria yang bertubuh kurus ini, pekerjaan petugas lapangan merupakan titik akhir pengabdiannya sabagai insan sepak bola. 

"Lewat sepak bola, saya sudah mendapatkan segala yang diinginkan. Tempat tinggal, menyekolahkan anak, dan yang utama memberangkatkan orang tua naik haji," katanya.
 
Khusus yang terakhir, Malawing mengaku menyimpan kebanggaan tersendiri. 

"Salah satu alasan saya menerima tawaran Niac Mitra karena nilai kontraknya pas dengan biaya perjalanan haji buat ibu saya, Hajah Kabi (almarhum)," kata pemain yang pertama kali bergabung dengan Niac Mitra pada tahun 1997 tersebut.

Bersama Suryani, istrinya, lelaki kelahiran Bone 16 September 1952 ini memiliki lima anak lelaki, Mashuri, Mansyur, Maksum, Mansir, dan Musda. 
Setelah memperkuat PSM (1972-1977) dan ikut membela PSM merebut Piala Soeharto 1974, Malawing menerima tawaran bermain di Niac Mitra Surabaya yang dilakoninya hingga 1982.  

Pada tahun 1974 Malawing di bawah bendera PSM menjuarai Kings Cup di Bangkok. Setelah bergabung  Niac Mitra dia melawat ke Dakka, Bangladesh, dan menjuarai Piala Agha Khan (1979).

Kini, situasi sudah berbalik pada sosok Malawing. Tubuh yang pernah perkasa dan lincah di lapangan itu, kini tidak dapat menerima kenyataan, usia yang kian tua. 

Dia tidak dapat melawan umur dan kondisi tubuhnya yang “membekuk”-nya harus terus terbaring di tempat tidur dalam kesepian ditemani istri dan anak-anak tercinta. (*).

Loading...
Loading...