Selasa, 25 Februari 2020 13:14 WITA

Diskusi Publik IPB, Mentan SYL: Pengetahuan Mahasiswa Pertanian Harus Berguna di Desa

Editor: Abu Asyraf
Diskusi Publik IPB, Mentan SYL: Pengetahuan Mahasiswa Pertanian Harus Berguna di Desa
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bersama Rektor IPB, Arif Satria.

RAKYATKU.COM - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta perguruan tinggi untuk bersinergi membangun pertanian. 

Pengetahuan dari mahasiswa pertanian dapat berguna hingga sampai di level desa. 

Mahasiswa juga harus diajak menjadi bibit petani milenial. Membangun pertanian menggunakan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Ilmu yang didapatkan dari kampus bisa dipraktikkan di lapangan.

"Dengan resolusi yang dekat dari satelit yang kita miliki, maka kita bisa lihat sebenarnya daerah mana yang akan panen berapa bulan lagi. Seperti apa kemampuan hara yang ada di daerah," kata Mentan Syahrul, Selasa (25/2/2020).

Mentan hadir dalam diskusi publik di Auditorium Gedung Andi Hakim Nasoetion IPB. Membahas penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

"Ini semua harus dipelajari IPB. IPB harus ada di setiap desa. Kampus pertanian harus ada di setiap daerah. Minimal ilmunya bisa berguna di desa," lanjutnya.

Diskusi Publik IPB, Mentan SYL: Pengetahuan Mahasiswa Pertanian Harus Berguna di Desa

Mantan gubernur Sulawesi Selatan dua periode ini menjelaskan, penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi pertanian bisa meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. 

Sebab, bicara pertanian adalah langsung menyangkut aspek dasar. Menghidupkan masyarakat yang maju dan rumah tangga yang sejahtera. 

"Bicara pertanian juga menemukan solusi harapan dan kebutuhan pangan. Tidak hanya tugas pemerintah tapi melibatkan semua pihak. Dengan begitu, pertanian merupakan sebuah gerakan bersama membangun kebutuhan bangsa dan menyadarkan semua orang yang memliki kepentingan publik untuk sama-sama membangun pertanian," jelasnya.

SYL sangat berharap adanya konsep pembangunan pertanian modern dari perguruan tinggi. Diskusi publik ini sangat penting untuk menemukan solusi dan harapan baru dalam membangun pertanian berbasis teknologi modern untuk menyediakan kebutuhan pangan bagi bangsa dan negara secara berdaulat.

"Cara membangun pertanian tidak boleh lagi menggunakan cara sebelumnya. Harus memakai cara berbasis teknologi digital dan mekanisasi yang canggih," ujarnya.

Peran Perguruan Tinggi

SYL menegaskan perguruan tinggi harus mampu menjawab tantangan pertanian saat ini. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama perguruan tinggi pertanian harus melakukan perubahan yang lebih baik dalam meningkatkan produksi pangan. 

Pasalnya, masalah pertanian dan paradigma-paradigma pertanian sudah bergeser dan harus menemukan cara-cara baru.

"Ada tiga aspek agenda besar yang bisa dilakukan pertanian. Pertama agenda mindset dengan akademik intelektual sesuai tantangan era dan yang harus terjadi antara lain dengan menggunakan online sistem, digital sistem, frekuensi titik-titik, dan mekanisasi baik," tegasnya.

loading...

"Artificial intelligence, internet of thinking system dan segala macam sistem yang harus ada," tambahnya.

Menurut SYL, agenda manajemen harus berubah. Dengan demikian, tujuan pertanian harus makin maju, mandiri, makin modern. Tantangan untuk Indonesia adalah produksi, distribusi, logistik yang tinggi karena di antara pulau. 

"Tantangan ini harus bisa kita peroleh jalan keluarnya dengan kemampuan lain. Produk pertanian kita harus ditingkatkan dengan cara ini dimana agenda intelektual dimainkan lebih kuat. Manajemen agenda kita coba lebih ke bawah. Ke lapangan. Jangan terlalu banyak teorinya lapangannya kemudian mendorong KUR untuk investasi yang besar," ungkap Syahrul.

Di kesempatan tersebut, Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria mengapresiasi langkah-langkah Kementan di bawah komando Syahrul Yasin Limpo. Khususnya dalam memperbaiki basis data sebagai salah satu upaya meningkatkan produksi hasil pertanian. 

Menurutnya, adanya AWR yang saat ini berada di Kementan menjadi langkah ter-update dalam membantu pemantauan permasalahan pertanian hingga kecamatan dan desa.

"Isu pangan selalu update, karena isu yang abadi di dunia adalah soal pangan. Ada indeks ketahanan pangan, isu kemiskinan, isu kelaparan dan regenerasi petani. Dengan data yang baik, bisa turut menghasilkan keputusan yang baik. Keseimbangan antara teknologi dan aliansi bisa lebih baik sehingga bisa membangun pertanian lebih baik," terangnya.

Diskusi Publik IPB, Mentan SYL: Pengetahuan Mahasiswa Pertanian Harus Berguna di Desa

Selain itu, Arif Satria pun mendukung penuh penerapan program Pertanian Masuk Sekolah (PMS) yang dijalankan Kementan. Itu jalan keluar atas minimnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian. 

Program tersebut, bisa menjadi kunci majunya pertanian Indonesia yang berjalan secara mandiri dan modern.

"Memang seharunya program PMS itu ada di mana-mana. Karena kalau bicara pertanian, tidak boleh berada di menara gading yang terlalu asyik dengan teori dan diskusi. Akan tetapi, anak-anak kita juga harus belajar konsep, teori, dan definisi praktik di lapangan," lanjutnya.

Arif Satria pun mengapresiasi kelembagaan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) dan pusat data Agriculture War Room (AWR) yang dibangun Kementan secara singkat.

Menurutnya, dari aspek intelektual, kedua terobosan ini patut diapresiasi karena erat kaitannya dengan dunia teknologi yang sedang dikembangkan kampus IPB.

"Saya melihat, hitung-hitungan area lahan melalui satelit dan artificial intelligence itu adalah agroklimat yang sangat bagus karena bisa membaca data secara cepat tentang berbagai hal. Misalnya soal berapa area lahan, kapan hujan sampai dengan persediaan pupuk bisa kita lihat dari satu ruangan. Ini sejalan dengan teknologi yang sedang dikembangkan IPB," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir ketua Forum Rektor Indonesia diwakili Sekjen Dr Darsono dan rektor perguruan tinggi negeri dan swasta serta mahasiswa Institut Pertanian Bogor.

Loading...
Loading...