Senin, 24 Februari 2020 23:34 WITA

Tangkap Ikan, Pemerintah Thailand Menahan 33 Nelayan Indonesia

Editor: Adil Patawai Anar
Tangkap Ikan, Pemerintah Thailand Menahan 33 Nelayan Indonesia

RAKYATKU.COM - Pemerintah Thailand menahan 33 nelayan asal Kabupaten Aceh Timur untuk menjalani proses hukum. Mereka ditangkap pihak Royal Thai Navy (RTN) pada 21 Januari 2020 lalu karena menangkap ikan di Andaman, perairan pemerintah tersebut.

Ada dua kapal yang ditangkap RTN, yaitu KM Perkasa dan KM Mahesa yang terdapat 33 nelayan berkebangsaan Indonesia. Sebanyak 30 orang Warga Negara Indonesia (WNI) dewasa dan 3 lainnya anak di bawah umur.

Saat ini 30 nelayan itu ditahan di pangkalan Thap Lamu, Provinsi Phang Ngah. Kasusnya dalam proses sidik oleh Kepolisian setempat. Masa sidik membutuhkan waktu 48 hari dan dapat diperpanjang bila dibutuhkan sesuai dengan regulasi di sana.

Kepala Dinas Sosial Aceh Al Hudri mengatakan, seluruh nelayan yang ditangkap itu berasal dari Tekong yang sama. Bahkan ada 11 nelayan sudah pernah ditangkap dalam kasus yang sama pada tahun yang lalu.

"Sedangkan anak di bawah umur sebanyak 3 orang sudah dititipkan di rumah penitipan anak di Phuket," kata Al Hudri, dilansir, Senin (24/2).

Kata Al Hudri, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah mengirimkan surat kepada Gubernur Aceh tentang penanganan proses hukum nelayan tersebut. Surat itu tertanggal 7 Februari 2020 menjelaskan proses penahanan 30 nelayan yang ditangkap itu.

Berdasarkan surat itu, pada 31 Januari 2020 Konsul RI di Songkhla telah melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Phang Nga. Pada kesempatan itu, Konsul RI meminta kasus itu dapat diselesaikan dengan baik oleh aparat hukum dan otoritas setempat.

loading...

"Adapun bantuan konsuler diberikan seperti tenaga penerjemah, bimbingan untuk proses hokum dan keperluan lainnya," jelasnya.

Hudri menjelaskan, Kemenlu akan memberikan pendampingan hukum jika kasus ini sudah dilimpahkan ke pengadilan. "Sekarang kami (pemerintah Aceh) bersama Kemenlu terus memantau perkembangan selama sidik," ungkapnya.

Adapun barang bukti yang disita RTN berupa kapal dan pukat trawl (alat menangkap ikan). Mereka ditangkap karena memasuki dan menangkap ikan dalam wilayah perairan Thailand.

Hudri mengimbau kepada nelayan di Aceh agar tidak menangkap ikan di wilayah perairan negara lain. Ia juga berpesan kepada berbagai pemangku kepentingan, terutama Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh agar mensosialisasikan terkiat itu.

"Leading sector masing-masing, Dinas Perikanan tolong beri pemahaman, jangan masuk ke negara orang," pintanya. 

Tags
Loading...
Loading...