Minggu, 23 Februari 2020 23:42 WITA

Disebut Bangkrut karena Tak Mampu Bayar Utang ke Mantan Awak Kokpit, Ini Penjelasan Lion Air

Editor: Abu Asyraf
Disebut Bangkrut karena Tak Mampu Bayar Utang ke Mantan Awak Kokpit, Ini Penjelasan Lion Air
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM,JAKARTA - Lion Air diterpa isu miring. Gara-gara belum membayar utang kepada mantan awak kokpit, maskapai penerbangan itu disebut-sebut bangkrut.

Member of Lion Air Group itu akhirnya memberikan keterangan resmi. Terutama pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2020).

Corporate Communication Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pengajuan PKPU ini terkait pemberhentian awak kokpit Lion Air.

Awak ini dipecat karena dianggap melakukan pelanggaran, yaitu mogok kerja terbang pada Mei 2016.

Akibatnya, operasional penerbangan terganggu. Kerugian perusahaan cukup besar, serta ketidaknyamanan penumpang.

"Pengajuan PKPU ialah satu bagian rangkaian permohonan yang sama dengan permohonan pertama oleh mantan awak kokpit Lion Air, yaitu bernomor perkara 196/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN.Niaga.Jkt.Pst adalah sudah diputus dan ditolak oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat," jelas Danang dalam keterangan tertulis yang diterima Rakyatku.com.

Permohonan dimaksud sudah ada yurisprudensi atau merupakan keputusan pengadilan terdahulu yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.

Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung nomor: 3187 / K/ pdt/ 2018, yang menyatakan bahwa kewenangan untuk mengadili perjanjian yang disepakati tersebut adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bukan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). 

loading...

Telah ada keputusan dari Pengadilan Hubungan Industri (PHI) yang menyatakan Lion Air wajib membayar pesangon kepada mantan penerbang tersebut. 

Namun, Lion Air menggugat atas adanya kewajiban keuangan dari para awak kokpit yang disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian pelatihan.

"Lion Air dengan ini menyatakan tidak benar adanya informasi bahwa Lion Air tidak mampu dan atau tidak ingin membayar kewajiban tersebut," tambah Danang.

Lion Air, lanjut dia, menunggu kepastian hukum yaitu keputusan pengadilan terkait kewajiban hukum para mantan penerbang dimaksud kepada Lion Air yang nilainya jauh lebih besar, kurang lebih Rp89 miliar.

Karena adanya percampuran utang, maka penyelesaian akan dilakukan oleh Lion Air. Apabila gugatan Lion Air terhadap para penerbang tersebut telah berkekuatan hukum tetap.

Lion Air menegaskan, bahwa tidak ada hubungan dan keterkaitan pengajuan PKPU dengan status keuangan perusahaan. 

"Saat ini kondisi keuangan dan operasional Lion Air masih berjalan normal," kata Danang.

Loading...
Loading...