Senin, 10 Februari 2020 06:30 WITA

Gadis Kecil Meninggal Usai Disunat, Dokter Kandungan dan Orang Tuanya Ditangkap

Editor: Abu Asyraf
Gadis Kecil Meninggal Usai Disunat, Dokter Kandungan dan Orang Tuanya Ditangkap
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM,KAIRO - Sunat perempuan kembali makan korban. Nada Hassan (12) meninggal karena komplikasi usai menjalani operasi mutilasi genital perempuan (FGM). 

Khitan itu dilakukan di sebuah klinik swasta di kota asalnya, Assiut. Berjarak 380 kilometer selatan Kairo.

Polisi menangkap dokter yang melakukan operasi ilegal. Orang tua dan bibinya dituduh terlibat. 

Dokter itu kemudian dibebaskan dengan jaminan 50.000 pound Mesir sambil menunggu persidangan. Tiga lainnya dibebaskan tanpa jaminan.

Kematian Nada hanya sepekan sebelum Hari Toleransi Nol Internasional untuk Mutilasi Alat Kelamin Perempuan. Setiap tahun diperingati pada 6 Februari.

Hasil investigasi menemukan, tersangka dokter telah melakukan pada anak tanpa dukungan anestesi. Ketahuan juga bahwa dia ternyata dokter kandungan, bukan ahli bedah.

Jika dinyatakan bersalah, dokter dapat menghadapi hukuman tujuh tahun penjara. 

Sebelumnya, pemerintah Mesir telah melakukan serangkaian kampanye anti-FGM di seluruh negeri.

Dewan Nasional untuk Perempuan yang dikelola pemerintah mengutuk kematian FGM anak itu sebagai kejahatan keji. Mereka menyerukan penerapan hukuman maksimum terhadap mereka yang terlibat.

Otoritas Islam resmi Mesir, Dar Al Iftaa, sementara itu memperbaharui dekritnya yang melarang prosedur itu sebagai tidak Islami.

Namun kematian Nada telah menimbulkan keraguan atas kelayakan upaya semacam itu.

loading...

"Kelanjutan operasi sunat perempuan menunjukkan ketidakefektifan inisiatif pemerintah dan kampanye kesadaran terutama di daerah pedesaan," kata anggota parlemen, Mona Muneer.

"Kedokteran dan agama menentang operasi ini. Namun, praktiknya masih merajalela," tambahnya. 

Sekitar 90 persen wanita berusia di atas 40 tahun telah menjadi sasaran FGM di Mesir, menurut temuan survei pemerintah yang dilakukan pada 2014.

Pada tahun 2016, parlemen Mesir menyetujui hukuman yang keras terhadap FGM. Undang-undang itu menghukum siapa pun yang terlibat dalam praktik itu, yang dilarang di Mesir sejak 2007. 

Hukuman juga diperberat menjadi 5-7 tahun penjara. Sebelumnya maksimum tiga tahun penjara.

Orang tua yang memaksa anak perempuan untuk disunat menghadapi hukuman penjara 1-3 tahun.

Praktek FGM, yang mencakup penghapusan semua atau sebagian dari klitoris, biasanya dilakukan untuk anak perempuan lokal sebelum mencapai masa pubertas.

Para pendukung sunat perempuan percaya bahwa sangat penting bagi kesucian wanita yang diduga dengan mengekang hasrat seksual mereka.

Para ahli mengatakan bahwa bentuk FGM yang parah dapat menyebabkan masalah psikoseksual seumur hidup. Masalah ini berkaitan dengan menstruasi, hubungan seksual, dan melahirkan.

Loading...
Loading...