Jumat, 07 Februari 2020 08:39 WITA

Dikira karena Makanan Kedaluwarsa, Ternyata Ini Penyakit Bocah di Takalar

Penulis: Irmawati Azis
Editor: Fathul Khair Akmal
Dikira karena Makanan Kedaluwarsa, Ternyata Ini Penyakit Bocah di Takalar
Dewi (tengah) bersama kedua orang tuanya

RAKYATKU.COM, TAKALAR - Seorang anak bernama Dewi dari Desa Cikoang, Kec. Mangarabombang, Kabupaten Takalar mendadak 'viral'.

Hal itu setelah tersebar isu jika anak berusia 10 tahun itu diduga memakan makanan kedaluwarsa. Orang tua anak itu pun membantah.

Rakyatku.com pun berkesempatan mewawancarai kedua orang tua Dewi, Kamis (6/2/2020). Dari jalan poros, menempuh perjalanan sekitar 8 KM tiba di rumah Dewi.

Tiba di kediaman keluarga Dewi, terlihat rumah yang terbuat dari kayu berwarna biru. Dari depan, tampak beberapa pakaian terjemur.

Saat mengunjungi kediamannya bersama ACT-MRI (Aksi Cepat Tanggap-Masyarakat Relawan Indonesia) Korda Takalar, ibunya, Esyah menyambut kami bersama beberapa tetangganya. Ia pun membawa keluar Dewi di ruang tengah dengan memegang kedua tangannya untuk berjalan.

Tidak mengenakan atasan, hanya bawahan celana pendek. Dewi hanya diam. Ia berbaring di atas tikar anyaman. Tubuhnya ditutupi selimut bergambar kartun frozen.

Ibunya tak banyak bicara, karena yang selalu menemani Dewi selama dirawat itu, ayahnya, Bahar atau akrab disapa Dg. Bella. Ibunya berasal dari Banjarmasin, sementara ayahnya warga asli Desa Cikoang. Keluarganya sempat tinggal di Banjarmasin, kemudian pindah ke Kabupaten Takalar sekitar 3 tahun lalu.

Dewi merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Seorang laki-laki dan 3 perempuan. Ibunya kini mengandung usia 9 bulan.

Dg Bella mengaku, Dewi pertama kali mengeluhkan sakitnya pada bulan Desember 2019 lalu. Kala itu, bocah kelas 4 SD itu mengeluhkan sakit di bagian kepalanya.

"Awalnya panas (demam) ki, baru sakit kepalanya. Biasanya kalau minum obat sembuhmi. Tapi tetap sakit, kepalanya juga susah diluruskan, dimiringkan kepalanya. Jadi dibawa ke Puskesmas," ujarnya.

Sekitar dua hari di Puskesmas, kemudian dirujuk ke RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle. Disana, Dewi dirawat selama seminggu. Kemudian dirujuk lagi ke RS Wahidin. Sebelum itu, Dewi sempat melakukan CT-Scan bagian kepalanya di RS Dadi Makassar.

Hasil CT-scan kepalanya, Dewi terkena penyakit hidrocephalus. Disebabkan karena ada cairan di kepala, disebabkan karena ada massa pada cerebelluponts.

loading...

Di RS Wahidin, Dewi dirawat lebih dari seminggu. Ia dioperasi pada tanggal 17 Januari 2020. Operasi itu dilakukan di bagian kepala dan perut sebelah kanan. Untuk pemasangan selang di dalam tubuhnya untuk pembuangan cairan yang di kepalanya. 

Beruntung Pemerintah Kabupaten Takalar, melalui Dinas Kesehatan pun cepat tanggap. Pihaknya memfasilitasi keluarga Dewi sebagai peserta KIS.

Sehingga selama dirawat selama kurang lebih 20 hari, Dewi tidak dibebankan biaya alias gratis. "Alhamdulillah diuruskan KIS, jadi selama dirawat, tidak ada dibayar, biar Rp500 tidak ada saya bayar," ungkap Dg. Bella.

Mengenai kabar beredar jika anaknya 'kerap' makan makanan kedaluwarsa dibantah oleh keluarganya. Meski pun hidup pas-pasan, ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan ini mengaku, masih sanggup memberi makanan yang baik kepada anak-anaknya.

"Setelah viral beritanya, kepala desa ke sini bilang, kenapa dikasih makan begini (kedaluwarsa) anakta? Kenapa orang luar tahu, kami tidak tahu. Makanya kami di sini kaget. Padahal tidak seperti itu," kata ibunya.

Mengenai, anaknya yang kerap memungut 'makanan yang dibuang' di Pasar Jonggoa, Dewi mengaku tidak pernah. "Memang sering ke pasar, tapi dia ambil gelas-gelas bekas. Itu untuk kakaknya, umpan kepiting," aku ibunya dan juga tetangganya.

"Kata dokter, penyakitnya karena ada cairan di kepalanya. Makanya dipasangkan selang. Kata dokter, (penyakitnya diakibatkan) bukan makan sembarangan (kedaluwarsa) tetapi pernah kena benturan di bagian kepalanya," jelas Dg. Bella.

Rencananya, kata ayahnya, Dewi akan dibawa ke RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle untuk pemeriksaan, Jum'at (7/2/2020) hari ini. "(Dewi) mengeluhkan sesak nafas. Jadi mau dibawa kontrol besok," bebernya.

Selama dua bulan sakit, selama itu pula Dewi tidak sekolah. Ia pun sangat merindukan suasana sekolah. "Minta ki sepatu baru, saya bilang, sembuh pi dan masuk pi sekolah baru dibelikan," ujar Ibunya.

Setelah 'viral' kondisi Dewi, Pemerintah dari Kabupaten maupun Provinsi pun mendatangi kediamannya. Membawa bantuan berupa peralatan rumah tangga seperti kasur, dan adapula sembako.

Pihak Dinas Sosial Takalar pun telah melakukan pendataan untuk keluarga Dewi, untuk diuruskan salah satu penerima bantuan sosial.

Loading...
Loading...