Kamis, 06 Februari 2020 23:50 WITA

Misteri Ayunan Parang di Balik Tewasnya Polisi Berpangkat Brigadir di Lampung Tengah

Editor: Abu Asyraf
Misteri Ayunan Parang di Balik Tewasnya Polisi Berpangkat Brigadir di Lampung Tengah
Foto para tersangka yang diamankan pasca penganiayaan anggota polisi.

RAKYATKU.COM - Tengah malam sudah lewat pada Minggu (2/2/2020). Hari baru sudah masuk, Senin (3/2/2020). Musik masih menghentak pengunjung.

Di Kampung Restu Buana, Kecamatan Seputih Banyak itu sedang ada resepsi pernikahan. Goyangan biduan kian panas pada tengah malam hingga dini hari itu.

Brigadir AJ berdiri di pinggir jalan. Dia polisi. Tapi tidak mengenakan seragam cokelat malam itu. Hanya berpakaian biasa.

Dia juga tidak membawa pistol. Justru parang. Itu diketahui saat beberapa anak muda lalu lalang naik motor.

Beberapa saksi mengatakan, Brigadir AJ mengayun-ayunkan parang kepada anak muda tersebut.

Aksi itu dilihat beberapa orang. Mereka marah. Beberapa di antaranya sudah terpengaruh minuman keras. 

Tak tahu bahwa Brigadir AJ seorang polisi, warga pun mengeroyoknya. Babak belur, bahkan hingga tewas. 

Hasil visum menunjukkan korban meninggal setelah dianiaya dengan benda tumpul. Tidak ada luka tusukan di tubuhnya. Hanya berupa memar.

loading...

Polisi akhirnya menetapkan 18 orang sebagai tersangka atas kasus pengeroyokan. 

Kedelapan belas orang yang ditetapkan tersangka semuanya warga Kecamatan Seputih Banyak. 

Mereka yakni berinisial, RS (32), ST (41), DM alias T (24), SD (36), SK (31), DG (30), AD (20), RA (21), TH (23), SY (27), QM (25), SR (40), SY alias GB (30), AS (22), RRP (18), ES (21), RW (18) dan DA (19). 

Kapolres Lamteng, Ajun Komisaris Besar I Made Rasma mengatakan, selain mengamankan 18 orang tersangka, pihaknya juga telah menyita barang bukti. Ada batu berbagai ukuran, botol minuman keras, dan pecahan beling. 

Dijelaskan Yuda, dari hasil olah tempat kejadian perkara yang dilakukan pihaknya, kemungkinan besar korban meninggal akibat dianiaya dengan mengunakan batu, kayu, dan botol. 

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian, kronologi pengeroyokan terjadi saat ada pementasan organ tunggal di kampung itu.

"Belum diketahui alasan atas tindakan korban yang mengayunkan parang itu," kata I Made Rasma, Kamis (6/2/2020). 

Loading...
Loading...