Jumat, 31 Januari 2020 21:28 WITA

Tekan Hepatitis A, Begini Langkah yang Ditempuh Dinas Kesehatan Bantaeng

Penulis: Irmawati Azis
Editor: Abu Asyraf
Tekan Hepatitis A, Begini Langkah yang Ditempuh Dinas Kesehatan Bantaeng
Konferensi pers Kadis Kesehatan Bantaeng, dr Andi Ihsan

RAKYATKU.COM,BANTAENG - Dinas Kesehatan Bantaeng mencatat ada 65  orang pasien terduga Hepatitis A. Data itu hingga 30 Januari 2020.

Pasien terdiri atas 34 pasien yang masih duduk di bangku sekolah. Mulai dari tingkatan SD hingga SMA yang tersebar di 18 sekolah dari berbagai tingkatan.

"Semua pasien tersebut telah mendapatkan perawatan yang maksimal di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng sebanyak 43 pasien dan 22 pasien dirawat di klinik dan puskesmas yang tersebar di Kabupaten Bantaeng," ujar Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, dr Andi Ihsan, Jumat (31/1/2020). 

"Berdasarkan data RSUD Bantaeng, saat ini tersisa 11 pasien atau 7 persen dari total pasien yang masih dirawat. Sisanya telah membaik dan dinyatakan bisa rawat jalan di rumah," katanya.
 
Hepatitis adalah penyakit peradangan yang terjadi pada hati. Hepatitis disebabkan infeksi virus Hepatitis A, B, C, D, atau E. Selain infeksi virus hepatitis dapat disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol, penyakit auto imun, serta zat racun atau obat-obatan tertentu.

Peningkatan kasus hepatitis klinis yang dirawat di rumah sakit, klinik, dan puskesmas yang terjadi di Kabupaten Bantaeng adalah terduga Hepatitis A.

Kasus Hepatitis A jarang dijumpai namun kadang kala mengakibatkan peningkatan kasus secara signifikan.

Andi Ihsan memaparkan, sejumlah langkah dilakukan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan kasus tersebut.

Salah satunya dengan melakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi. Yakni ilmu tentang penyebaran penyakit menular pada manusia dan faktor yang dapat mempengaruhi penyebarannya. 

"Alhamdulillah, dalam kurun waktu kurang dari satu pekan kami melakukan intervensi jumlah pasien yang awalnya 65 turun drastis menjadi 11 pasien," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bantaeng periode 2008-2011 itu. 

Ada 12 langkah Dinkes Bantaeng guna mengintervensi pasien terduga Hepatitis A. Mulai dari penyelidikan epidemiologi mendalam terhadap pasien terduga Hepatitis A.

Pemeriksaan sampel makanan pada seluruh kantin sekolah terutama sekolah yang terjangkit kasus terduga Hepatitis A dan warung-warung makanan di sekitar Pantai Seruni, dan wilayah lain di Kabupaten Bantaeng sebanyak 119 sampel makanan.

Pemeriksaan sampel air pada seluruh depot air minum se-Kabupaten Bantaeng sebanyak 32 depot air minum. Ditemukan 8 depot air minum yang tidak memenuhi syarat kesehatan untuk dikonsumsi.

loading...

Pemeriksaan sampel air di sarana rumah tangga sebanyak 60 titik. Hasilnya 7 sampel yang kemungkinan tercemar bakteri escherichia coli (bakteri yang hidup di dalam usus manusia untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan).

Hasil random sampling lima titik sumber air PDAM ditemukan bahwa seluruh sumber air masih memenuhi syarat kesehatan atau layak dikonsumsi.

Kepala Dinas Kesehatan mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kepala puskesmas dan camat, kepala desa/lurah dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hepatitis di masyarakat.

Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin telah mengeluarkan surat imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit berbasis lingkungan.

Penyuluhan atau sosialisasi terkait penyakit hepatitis dan upaya pencegahan dan pengendaliaannya di tempat-tempat umum seperti di 118 masjid, 6 pasar dan terminal, 115 sekolah, dan empat tempat kelompok kerja. 

Pembagian alat pelindung diri kepada penjaja makanan berupa masker dan sarung tangan untuk menjaga sterilitas makanan yang disajikan.

Mengedukasi masyarakat dalam meningkatkan kebersihan pribadi terutama cara melakukan cuci tangan pakai sabun menggunakan enam langkah.

Penyuluhan keliling di semua desa dan kelurahan se-Kabupaten Bantaeng. Kampanye setop buang air besar di sembarang tempat di seluruh wilayah Kabupaten Bantaeng.

Sumber penularannya diduga kuat adalah para pengusaha makanan yang berpindah-pindah. 

"Jadi penyebaran virus ini sifatnya common source (sumber umum). Artinya kasus-kasus terjadi karena paparan terhadap sumber yang sama dan umum atau peningkatan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadinya dalam waktu relatif singkat," jelasnya.
 

Loading...
Loading...