Minggu, 26 Januari 2020 05:30 WITA

BPPT Klaim Bisa Cegah Hujan Turun di Jabodetabek dengan TMC, Termasuk Menghadapi Awan CB

Editor: Abu Asyraf
BPPT Klaim Bisa Cegah Hujan Turun di Jabodetabek dengan TMC, Termasuk Menghadapi Awan CB
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Rencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengundang rasa penasaran. Mereka mengklaim bisa mencegah hujan turun di daerah tertentu.

Teknik tersebut dianggap salah satu upaya yang bisa mencegah banjir terulang. Khususnya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Dalam Alquran, ada beberapa ayat tentang hujan. Disebutkan bahwa Allah Maha Kuasa menurunkan hujan. Termasuk memilih daerah mana yang diturunkan hujan dan mana yang tidak.

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu…" (QS. Al A’raf: 57)

Lantas, mampukah BPPT menghalau hujan yang ditakdirkan di wilayah tertentu? Menarik ditunggu.

Yang pasti BPPT akan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Di dunia, TMC digunakan untuk berbagai tujuan, seperti menambah curah hujan, meningkatkan hujan salju, mengurangi hujan es, dan mengurangi kabut. 

Namun, di Indonesia, TMC biasanya digunakan untuk mengisi waduk, membasahi lahan gambut, memadamkan karhutla, atau mengurangi curah hujan penyebab banjir.

"TMC dilakukan dengan menyemai awan-awan yang diprediksi oleh BMKG yang tergabung Tim TMC akan memasuki wilayah Jabodetabek dan berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir," ujar Kepala Balai Besar TMC BPPT, Tri Handoko Seto kepada wartawan, Sabtu (25/1/2020).

Cara kerjanya, menyemai atau menanam awan buatan. Awan buatan ini nantinya akan menghasilkan hujan di atas laut menahan masuk ke Jabodetabek. Kemudian, hujan akan kembali diturunkan ke beberapa titik yang masih membutuhkan.

loading...

"Awan-awan tersebut biasanya tumbuh di atas Lampung, Selat Sunda, dan Laut Jawa, lalu tumbuh sambil bergerak menuju Jabodetabek. Awan-awan ini kita semai agar bisa jadi hujan lebih awal di atas laut sebelum memasuki Jabodetabek," katanya.

Awan yang sudah matang, hujan bisa segera terjadi 10 menit setelah penyemaian. Namun, bisa juga jadi hujan 20 menit, 30 menit, bahkan 1-2 jam setelah penyemaian. 

"Umur awan dan arah serta kecepatan angin kita hitung agar awan bisa jatuh di atas laut," jelasnya.

Pada kondisi tertentu, awan juga diupayakan jatuh menjadi hujan di wilayah yang masih membutuhkan air hujan misalnya waduk. Namun ini sangat jarang terjadi kecuali memang arah dan kecepatan anginnya memungkinkan untuk itu.

Curah hujan ekstrem biasanya berupa awan cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi. Bisa juga awan Cb yang dikenal dengan Super Cloud Cluster (SCC). TMC, katanya, memiliki keahlian mengondisikan awan saat cuaca hujan ekstrem.

"Tim TMC Nasional telah memiliki teknik penerbangan penyemaian pada awan Cu aktif. Seandainya pun awan sudah menjadi Cb, pada batas tertentu Tim TMC masih mampu melakukan penyemaian pada titik-titik yang aman menurut pengamatan dan perhitungan kru pesawat," tutur dia.

Namun, upaya ini tak semudah yang dibayangkan. Di banyak negara, lanjutnya, dukungan riset dari perguruan tinggi cukup kuat. 

Diperlukan pula penguatan armada baik melalui skema penggunaan pesawat TNI maupun pengadaan pesawat baru. Termasuk penggunaan metode baru seperti roket atau artileri sebagaimana dilakukan oleh China. 
 

Tags
Loading...
Loading...