Kamis, 09 Januari 2020 17:43 WITA

Penelitian Terbaru di Inggris: Larangan Kemasan Plastik Justru Dapat Alam

Editor: Nur Hidayat Said
Penelitian Terbaru di Inggris: Larangan Kemasan Plastik Justru Dapat Alam
Foto: Reuters.

RAKYATKU.COM - Tekanan dari konsumen mengakhiri penggunaan kemasan plastik di toko-toko dapat merusak lingkungan. Demikian menurut sebuah laporan di Inggris.

Beberapa perusahaan telah memilih beralih ke bahan kemasan lain yang ternyata berpotensi memberi dampak yang lebih buruk bagi lingkungan. Demikian menurut sebuah kelompok Parlemen lintas-partai di Inggris.

Botol kaca, misalnya, jauh lebih berat daripada plastik sehingga dampak polusi dari proses pengangkutan akan lebih buruk.

Sedangkan kantong kertas cenderung memiliki emisi karbon lebih tinggi daripada kantong plastik - dan lebih sulit untuk digunakan kembali.

Langkah untuk mengubah bahan dasar kemasan telah dipicu oleh kekhawatiran dari pembeli tentang dampak limbah plastik di lautan.

Namun, para peneliti laporan mengatakan konsekuensi dari penggunaan bahan-bahan baru itu belum dinilai dengan benar.

Beberapa supermarket, misalnya, menjual lebih banyak minuman dalam karton yang berlapiskan bahan lain dengan asumsi dapat didaur ulang.

Faktanya, kelompok Green Alliance mengatakan, Inggris hanya memiliki fasilitas untuk mendaur ulang sepertiga dari kontainer berlapis yang beredar.

Kelompok ini telah bekerja sama dengan sebuah organisasi yang berfokus pada proses daur ulang untuk mensurvei tanggapan beberapa toko anonim terhadap kecemasan publik tentang polusi plastik di lautan.

Juru bicara kelompok itu, Libby Peak, mengatakan "Banyak toko-toko yang menjual kemasan yang disebut dapat terurai secara organik (biodegradable) atau dapat dijadikan kompos."

"Faktanya barang-barang itu hanya dapat dijadikan kompos hanya dengan menggunakan mesin pengolah kompos tingkat industri - dan bahkan, dengan itu pun, beberapa barang mungkin tidak sepenuhnya dapat diolah."

Menurut laporan itu: "Lebih dari 80% konsumen berpikir plastik yang biodegradable atau plastik yang dapat dijadikan kompos merupakan ramah lingkungan, tetapi pemahaman tentang apa arti istilah tersebut dan bagaimana bahan tersebut harus ditangani masih terbatas.

"Orang yang kami wawancarai menginginkan pendekatan yang lebih jelas tentang di mana bahan itu harus digunakan dan bagaimana bahan itu harus ditandai untuk menghindari membingungkan konsumen yang berpotensi menyebabkan lebih banyak masalah."

loading...

Para peritel khawatir kebingungan berpotensi merusak lingkungan ketika orang memasukkan plastik "kompos" ke dalam plastik konvensional, atau membuang sampah sembarangan, dengan anggapan bahwa plastik itu akan terurai.

Beberapa perusahaan yang telah mencoba menggunakan jenis plastik ini juga mengatakan bahwa bahan tersebut tidak terurai seperti yang diharapkan.

Sebuah perusahaan dikutip mengatakan: "Konsumen sangat bingung antara apa yang berbasis bio, dapat dijadikan kompos dan terurai secara organik, atau biodegradable."

"Kami menyadari bahwa [dengan beralih dari plastik ke bahan lain] kami mungkin, dalam beberapa kasus, meningkatkan jejak karbon kami."

Ada juga yang mengatakan: "Jika saya memiliki tongkat ajaib, saya ingin melihat lebih banyak intervensi pemerintah dari level atas hingga bawah... Kami ingin melihat pemerintah lebih berani."

Sebuah perusahaan lain mengatakan: "Inovasi teknologi pengemasan bisa menjadi keunggulan kompetitif saat ini."

Andrew Opnie, dari sebuah kelompok peritel di Inggris, British Retail Consortium, menyuarakan seruan untuk adanya sebuah strategi yang jelas.

Dia mengatakan: "Semua peritel yang bertanggung jawab setuju bahwa perubahan iklim harus menjadi unsur inti dari bisnis mereka, baik itu dalam mencari produk atau mengubah kemasan.

"Plastik tetap menjadi bahan paling efektif dalam banyak keadaan - misalnya, ketimun yang dibungkus plastik dapat bertahan hingga 14 hari lebih lama, dengan begitu dapat mengurangi limbah makanan.

"Strategi limbah dan sumber daya yang koheren adalah strategi yang memprioritaskan pengurangan dampak lingkungan dari barang yang kita beli, bukan hanya mengurangi penggunaan plastik."

Sumber: BBC Indonesia

Loading...
Loading...