Minggu, 05 Januari 2020 17:51 WITA

"Mestinya Soleimani Sudah Mati 2007," Jenderal Stanley McChrystal Frustasi Diminta Tahan Pelatuk

Editor: Abu Asyraf
Jenderal Stanley McChrystal

RAKYATKU.COM - Suatu hari di tahun 2007. Jenderal Iran, Qassem Soleimani sedang berada di Irak. Itu pertama kalinya dilihat dengan mata kepala oleh tentara Amerika Serikat.

Soleimani selama ini dipercaya memiliki "kesaktian". Dia bolak balik ke medan perang di Timur Tengah. Namun, jarang terlihat oleh musuh. Dia juga tak pernah menderita cedera.

Amerika Serikat masih dipimpin George W Bush pada 2007 itu. Soleimani terlihat berada di persimpangan di Irak. Jenderal Stanley McChrystal, pimpinan tentara AS, melihatnya setelah lama dicari.

Dia memiliki kesempatan untuk menembaknya. Namun, dia membiarkan Soleimani pergi.

"Keputusan untuk tidak bertindak sering kali merupakan yang paling sulit untuk dibuat, dan itu tidak selalu benar," kisah Jenderal Stanley beberapa tahun kemudian.

Ali Khedery, seorang mantan penasihat AS di Irak, mengatakan kepada The Daily Beast bahwa tidak menyerang Soleimani ketika mereka memiliki kesempatan adalah frustrasi yang sangat besar bagi saya dan banyak rekan saya.

"Saya ingat selama gelombang (pasukan Irak 2007) duduk bersama Duta Besar Ryan Crocker dan (Jenderal) David Petraeus dan mengatakan, 'Bukankah memalukan jika Soleimani bertemu dengan salah satu EFP-nya sendiri?" tambah Khedery.

loading...

Saat itu, bom buatan Iran menewaskan puluhan dan bahkan ratusan tentara Amerika di Irak. "Tapi jelas, ini adalah keputusan yang harus diambil oleh presiden secara pribadi karena implikasinya," lanjut dia.

Di era pemerintahan Barack Obama, pembunuhan jenderal paling terkenal di Korps Pengawal Revolusi Islam Iran itu bahkan tak pernah disinggung sama sekali. Tidak dianggap serius.

Tidak pernah ada perburuan, menurut Derek Chollet, asisten menteri pertahanan dari 2012 hingga 2015. "Setahu saya, tidak pernah ada keputusan, 'Kita harus mencari orang ini dan menangkapnya'." 

Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Soleimani terbunuh. Tidak ada skenario yang terlihat bagus. Pada masa itu, prioritasnya adalah menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir tanpa harus berperang. Pembunuhan Soleimani bisa menghambat negosiasi.

Kalkulus itu cukup sederhana, kata Chollet. "Apakah potensi risiko mengambil tindakan seperti ini lebih besar daripada keuntungan membawanya keluar dari medan perang?" Jawabannya adalah ya.

Sampai pemerintahan Trump meledakkannya di Baghdad dalam Jumat dini hari, Qassem Soleimani telah menjadikan fakta bahwa kelangsungan hidupnya menjadi bagian dari mistiknya yang cukup besar.
 

Loading...
Loading...