Rabu, 25 Desember 2019 09:45 WITA

Pasien Dipaksa Bayar Rp115 juta Selama Operasi, atau Lukanya Tidak Dijahit

Editor: Suriawati
Pasien Dipaksa Bayar Rp115 juta Selama Operasi, atau Lukanya Tidak Dijahit
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, CHINA - Seorang pasien di rumah sakit China dipaksa untuk membayar 58.000 yuan (Rp115 juta) oleh ahli bedah ketika operasi sunat sedang berlangsung.

Pasien tak berdaya itu dipaksa menggesek kartu kreditnya di meja operasi. Dia harus melakukannya, karena jika tidak, dokter tidak akan menjahit lukanya.

Yang mengejutkan, uang yang harus dia keluarkan 32 kali lebih mahal dari prosedur sunat biasa.

Menurut laporan Southern Metropolis Daily, pasien itu dipaksa untuk melakukan pembayaran di ruang operasi karena dokter beralasan bahwa dia menemukan penyakit lain yang perlu segera ditangani.

Insiden mengejutkan itu terjadi di Rumah Sakit Kesehatan Pria Ouya di kota Yinchuan, provinsi Gansu di China barat laut.

Menurut kepolisian Yinchuan, rumah sakit swasta itu didukung oleh geng kriminal. Puluhan pasien telah menghubungi asosiasi konsumen setempat dan mengeluhkan bahwa mereka dipaksa untuk membayar uang setengah dalam operasi mereka.

Ma Xiaofei, direktur Komisi Kesehatan Yinchuan, mengatakan kepada CCTV bahwa otoritas telah melakukan inspeksi tahunan ke rumah sakit Ouya sejak 2016 dan menghukum rumah sakit setiap tahun.

loading...

Ma mengatakan bahwa mereka telah memerintahkan rumah sakit untuk tutup sementara waktu sehingga mereka dapat melakukan perbaikan. 

Setelah melakukan penyelidikan ekstensif yang melibatkan lebih dari 100 korban di enam provinsi, polisi Yinchuan menangkap lebih dari 50 orang, yang merupakan anggota geng yang memberikan perlindungan ke rumah sakit tersebut.

Para tersangka dikatakan terlibat dalam lebih dari 43 kasus. 

11 karyawan rumah sakit, berusia antara 19 hingga 65 tahun, juga ditangkap dan dianggap sebagai tersangka utama.

Seorang pejabat kesehatan yang memberikan perlindungan kepada rumah sakit tersebut dipecat. Dia juga diberikan hukuman observasi dua tahun pada oleh Komisi Inspeksi Disiplin kota dan Komisi Pengawas Nasional China.

Loading...
Loading...