Jumat, 13 Desember 2019 16:16 WITA

Nyambi Jadi Sopir Traktor untuk Biaya Nikah, Tentara Tampan Ini Tewas Usai Lamar Pacar

Editor: Abu Asyraf
Nyambi Jadi Sopir Traktor untuk Biaya Nikah, Tentara Tampan Ini Tewas Usai Lamar Pacar
Pierre Tendean dan Rukmini

RAKYATKU.COM - Berwajah tampan, Pierre dikenal cuek pada wanita. Dia tidak gampang tertarik. Apalagi jatuh cinta. Namun, perempuan Medan berambut ombak itu membuat hatinya bergetar.

Kala itu, Pierre sedang jalan-jalan ke rumah tokoh masyarakat. Pak Chaimin, begitu dia biasa disapa. Pierre ini tentara muda. Temannya juga. Namun, dia bertamu tanpa seragam. Memang sedang di luar dinas.

Pak Chaimin ternyata punya anak perempuan. Cantik. Namanya, Rukmini. Tutur katanya lemah lembut, pemalu, juga sopan. Pierre merasa baru kali menemukan perempuan seperti itu.

Diam-diam Rukmini juga jatuh hati kepada Pierre. Bukan semata karena ketampanannya, tapi sifat humoris dan kecerdasan yang membuatnya jatuh hati. Singkat cerita, mereka akhirnya menjalin asmara.

Kapten Pierre Andreas Tendean, nama lengkap pria tampan itu. Yang pernah belajar sejarah G30 S/PKI pasti mengenalnya. Rupanya dia punya kisah cinta yang menarik dengan Rukmini. Kisah yang berujung tragis.

Pierre lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Dia putra Dr AL Tendean yang berdarah Minahasa dan ibunya, Cornet ME yang berdarah Belanda-Prancis.

Pierre anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Mitze Farre dan adiknya, Rooswidiati. Ayahnya wakil kepala rumah sakit di Magelang.

Cita-cita Pierre menjadi tentara sudah tumbuh sejak kecil. Semasa kecil, Pierre kerap melihat pemuda pejuang kemerdekaan yang sering mampir ke rumah menemui ayahnya meminta persediaan obat-obatan untuk kepentingan gerilya.

Hal itu membuat Pierre bertekad memasuki Akademi Militer Nasional (AMN). Cita-citanya sempat ditentang orang tua. Ayahnya lebih menginginkan dia menjadi dokter. Tapi Pierre bersikeras mewujudkan cita-cita sebagai tentara.

Larangan orang tuanya cukup beralasan. Jika jadi tentara, maka dia harus siap mengorbankan jiwa. Belakangan, kekhawatiran orang tua Pierre itu benar-benar menjadi kenyataan.

Demi menyenangkan orang tuanya, selain mendaftar di AMN, Pierre juga mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hasilnya, dia tidak lulus di UI. Pasrah, ayahnya merelakan dia menempuh pendidikan di AMN.

Belakangan, Mitze Farre mengungkap bahwa Pierre bukan tidak lulus di Fakultas Kedokteran UI karena hasil ujiannya. Dia memang tidak mengerjakan soal ujian. Sengaja agar tidak lulus.

Pada tahun 1963, Pierre Tendean yang saat itu berpangkat letnan dua, bertugas sebagai komandan peleton Batalyon Tempur 2, Kodam II Bukit Barisan di Medan. Di sini lah kisah cinta itu bermula. Dalam sebuah kesempatan jalan-jalan ke rumah Pak Chaimin.

Pierre sempat berjauhan dengan Rukmini karena menempuh pendidikan intelijen. Setelah tamat, Pierre ditugaskan dalam operasi Dwikora memimpin pasukan relawan untuk mengadakan penyusupan ke wilayah Malaysia, berdasakan Surat Perintah No.507/11/1963, dirinya diperbantukan untuk Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat.

Karena tugas yang dipikul Pierre di garis depan, sang ibunda khawatir akan keselamatan anak laki satu-satunya itu.
Nyonya Cornet kebetulan berteman mertua Jenderal Nasution yang saat itu menjabat Menko Hankam.

loading...

Nyonya Cornet juga mengajukan hal serupa kepada Mayjen Dendi Kadarsan yang kenal dengan Pierre ketika menjadi taruna. Permohonan tersebut dikabulkan, lalu Pierre menjadi rebutan para jenderal untuk dijadikan ajudan akibat kedisiplinan dan kecerdasannya.

Jenderal Nasution yang mendapatkannya. Sejak 15 April 1965, Pierre Tendean resmi dijadikan sebagai ajudan. Pangkatnya dinaikkan menjadi letnan satu. Orang tua Pierre lega. Anaknya tidak lagi berada di tengah-tengah medan pertempuran.

Pada tahun 1965, Pierre dan Rukmini mantap melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Pierre menulis surat ke keluarganya, minta doa restu untuk menikahi Rukmini.

Saat mendampingi Jenderal Nasution bertugas ke Medan, pada 31 Juli 1965, Pierre menyempatkan diri menemui keluarga Rukmini untuk melamar. Hari pernikahan disepakati bulan November tahun 1965.

Keseriusan Pierre dalam menikahi Rukmini memang bukan main-main. Demi menambah biaya pernikahan, setiap malam Pierre mengambil kerja sampingan sebagai sopir traktor meratakan tanah pembangunan proyek Monas.

Selama berbulan-bulan Pierre menjalani profesi sampingan sebagai sopir traktor. Dia juga rutin mencari informasi rumah kontrakan di sekitaran Menteng. Rencananya akan ditempati bersama Rukmini jika sudah menikah kelak.

Sebelum 30 September 1965, Pierre sempat mengirim surat kepada keluarga. Dia tidak bisa pulang saat perayaan hari ulang tahun ibunya. Katanya dia sedang dinas. Namun, dia berjanji akan mengucapkan selamat ulang tahun lewat telepon.

Sebenarnya ketika terjadi pengepungan rumah Jenderal Nasution malam 30 September itu, Pierre tidak dalam tugas piket. Dia telah menyerahkan tugas jaga dengan Komisaris Polisi Hankam Mansyur.

Mendengar kebisingan suara tembakan, atas inisiatifnya lalu ia mengambil jaket dan senjatanya menghadapi pasukan itu. 
Tidak jelasnya instruksi operasi kepada pasukan Tjakrabirawa membuat mereka salah tangkap dan tidak mengenali Jenderal Nasution, mereka membawa Pierre.

Dia dibawa ke lubang buaya, di eksekusi di sana.
Ibunda Pierre Tendean yang sedang berulang tahun, menunggu telepon dari anak laki-laki satu-satunya itu. Tapi telepon tak kunjung datang.

Pada 5 Oktober 1965, pemerintah mengirim pesawat untuk menjemput keluarga Pierre Tendean di Semarang. Melihat peti jenazah Pierre Tendean, Nyonya Cornet menangis dan meratap. 

"Pierre, Pierre, mijn jongen, wat is er met jou gebeurd (Pierre, Pierre, anakku, apa yang terjadi denganmu)."

Kisah ini diceritakan dalam buku berjudul "Pierre Tendean" karya Masykuri yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1983. 

Lima tahun setelah Pierre tewas, Rukmini akhirnya menikah dengan laki-laki lain. Lima bulan lalu, Rukmini yang bernama lengkap Rr M CH A Nuridah Rukmini Chaimim meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 2019. Dia meninggal dalam usia 72 tahun.

Loading...
Loading...