Selasa, 10 Desember 2019 16:34 WITA

Bocah yang Dipaksa Mengemis Ibunya Mulai Pergi Sekolah

Penulis: Azwar Basir
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Bocah yang Dipaksa Mengemis Ibunya Mulai Pergi Sekolah
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, terus melakukan pendampingan terhadap bocah perempuan berinisial SR (9), yang menjadi korban eksploitasi oleh ibu kandungnya, Saminah (34). 

P2TP2A Makassar menghadirkan psikolog untuk memulihkan kondisi fisik dan mental bocah malang itu. Bahkan, saat kondisinya berangsur membaik setelah beberapa hari didampingi psikolog. 

Ketua tim reaksi cepat P2TP2A Makassar, Makmur Payabo mengatakan, anak tersebut telah mulai pergi sekolah. Dia diantar jemput oleh pihak P2TP2A Makassar. 

"Untuk sementara anak itu masih tetap di rumah aman, kita belum kembalikan ke rumah orang tuanya, nanti dikasi kembali setelah 100 persen pulih," kata Makmur Payabo. 

Makmur Payabo mengatakan, anak tersebut sangat tertekan saat diamankan ke rumah aman. Terlihat dari tingkahnya yang selalu ketakutan dan susah untuk ditemani komunikasi. 

"Dia sering dipukul oleh ibunya kalau tidak pergi kerja atau mengemis, ibunya memang terkenal keras," paparnya. 

loading...

Psikolog pendamping P2TP2A, Haeriyah mengatakan, selama ini SR hidup dalam tekanan ibunya yang mendoktrin anaknya, agar mau mengemis  agar dapat menghasilkan uang sejak dua tahun terakhir. 

“Dia harus hasilkan uang minimal Rp50 ribu sehari. Bila dia tidak dapat itu, dia akan dipukul. Dia dapat jatah makan dua kali. Jam 7 pagi waktu berangkat dan nanti pulang dari mengamen jam 10 malam sebelum tidur. Dia tidur jam 10 malam setelah makan,” ungkapnya. 

Dia menambahkan, setiap harinya SR disuruh bekerja tanpa mengenal waktu, dalam kondisi apapun bocah itu harus mendapatkan uang sesuai dengan perintah ibunya. Hal itulah yang menjadi tekanan psikologis dari anak ke tiga dari enam bersaudara ini.

“Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau setiap hari hanya disuruh untuk kerja dan kerja. Tidak ada waktu bermain, belajar dan bersosialisasi,” tutupnya.

Loading...
Loading...