Selasa, 03 Desember 2019 12:02 WITA

Pendeta Papua Ini Sebut Prabowo yang Perintahkan Teror terhadap Dirinya

Editor: Mays
Pendeta Papua Ini Sebut Prabowo yang Perintahkan Teror terhadap Dirinya
Pendeta Socratez Yoman dan Prabowo Subianto.

RAKYATKU.COM, PAPUA - Dr Socratez Yoman merasa diteror. Ada empat pria yang selalu menguntitnya. Juga mengabadikan gerak-geriknya lewat kamera.

Presiden Persekutuan Gereja Baptis Papua ini, dicurigai dekat dengan gerakan separatis Papua, OPM.

Teror itu tepat pada Minggu, 1 Desember 2019 lalu. Menurutnya, teror itu perintah dari Prabowo Subianto. 

"Teror ini adalah bagian operasi militer di seluruh tanah West Papua dari Sorong-Merauke, atas perintah Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto," ujarnya seperti dilansir dari Kabarmapegaa.

Menurutnya, ada beberapa perintah Prabowo, terkait Papua Barat. Di antaranya, Papua menjadi prioritas utama, tidak boleh lepas dari Indonesia. Hapus intervensi asing.

Perintah Prabowo lainnya kata Yoman, Jeremy Corbyn (pemimpin partai buruh) berpeluang menjadi PM Inggris, dimana dia memberikan dukungan kepada Benny Wenda. Untuk itu harus diambil langkah strategis.

Yang lainnya, Prabowo tidak akan mengizinkan kegiatan Papua Merdeka di ibu kota kabupaten, provinsi apalagi negara. Karenanya, dia melaksanakan operasi teritorial, intelijen dan tempur dari semua matra.

Sebelumnya, Yoman mengaku mendapat pesan singkat lewat ponsel dari warga jemaatnya. "Selamat sore Bapak Yoman. Tadi mobil patroli polisi satu Strada, tiga mobil Avanza dan dua truk patroli polisi, ada ke kantor dan rumah bapak. Truk dua dan Avanza satu, ada parkir di perumahan dosen kesehatan. Saya pantau mereka dan setelah 30 menit mereka kembali." Demikian bunyi pesan yang masuk ke ponsel Dr Socratez Yoman. 

Teror itu kata Yoman, terjadi pada 1 Desember 2019. Bertepatan hari ulang tahun OPM.

Dilansir dari Kabarmapegaa, Yoman mengaku, melihat dengan kepala sendiri. Ada satu mobil ke bukit Ita Wakhu Purom. Mereka memutar balik. 

"Saya tidak lihat truk polisi dan mobil Avanza, karena dihalangi gedung kantor Baptis dan rumah saya. Saya tunggu mereka datang ke rumah, untuk pertemuan dengan saya, tapi mereka hanya sampai di kantor, lalu pulang," ujar Yoman.

loading...

Menurut Yoman, ini teror dan intimidasi, serta tekanan terbuka terhadap pemimpin gereja. 
"Tujuannya, supaya pemimpin gereja merasa takut, diam dan tidak bersuara untuk membela dan melindungi rakyat West Papua yang tertindas dan teraniaya," tambah Yoman.

Menurutnya, teror dan intimidasi ini, bagian dari pelaksanaan operasi militer di seluruh tanah West Papua, dari Sorong ke Merauke.

Teror ini lanjut Yoman, bukan kali ini dia terima. Sebelumnya, pada 6 Oktober 2019 lalu, dia juga diteror orang yang sama. Mereka mengambil foto rumah, mobil, gubuk hingga WC-nya yang terletak di luar rumah di Ita Wakhu Purom, Padang Bulan, Abepura.

Orang-orang ini lanjut dia, datang pada saat ibadah minggu pagi, pukul 09.00-11.00 WIT.

Yoman mengaku ada empat orang. Curiga aksinya diketahui, dua lainnya pura-pura masuk ke ATM.

Dua lainnya terus membuntuti. Yoman sempat merebut ponsel dua penguntitnya. Ternyata benar, ada foto-foto rumah dan dirinya, yang dikirimkan ke atasannya.

“Adik-adik pantau siapa? Tujuan apa? Siapa yang perintahkan? Kamu tinggal di mana?” tanya Yoman.

Saat itu, jemaat Yoman datang mendekat. Ada yang sudah memegang kerah baju dua orang itu. Namun, Yoman mengaku menenangkan jemaatnya.

Setelah itu, Yoman mendekati dua orang lainnya di ATM. Yoman meminta ponsel kedua orang itu. Tapi keduanya memilih kabur dengan sepeda motor.

"Siapapun Anda, mata-mata yang menyamar menjadi sopir, penjual bakso, penjual sayur, penjual kue, menjadi PNS, menjadi mahasiswa, menjadi mantri, dokter, suster, bidan, menjadi majelis, gembala dan pendeta, peneliti, wartawan, sopir mobil, Anda perlu dan sadar, bahwa apa yang Anda tanam hari ini, akan Anda tuai pada hari tua, dituai oleh keluarga dan anak cucu dan lebih dari itu. Anda akan pertanggugjawabkan kepada Tuhan," tegas Yoman.

Loading...
Loading...