Rabu, 27 November 2019 10:32 WITA

Ciputra Meninggal di Singapura, Atlet Lari yang Sukses Bangun Gurita Bisnis

Editor: Mays
Ciputra Meninggal di Singapura, Atlet Lari yang Sukses Bangun Gurita Bisnis
Ir Ciputra

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Taipan properti terkemuka Indonesia, Ciputra meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Dia meninggal di Singapura. Rabu, 27 November 2019 dini hari.

Akun twitter Panji Pragiwaksono menginformasikan, Chairman dan Founder Ciputra Group itu meninggal pukul 01.05 waktu Singapura.

Salah seorang sahabatnya, Haryadi Sukamdani mengatakan, kesehatan Ciputra memang menurun beberapa waktu terakhir. Dia cuci darah di negeri Singa itu.

Ciputra terlahir dengan nama Tjin Hoan. Lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931.

Saat ayahnya meninggal, bungsu tujuh bersaudara itu harus banting tulang. Perekonomiannya terganggu.

Dia sekolah di SMA Don Bosco Manado. Di situ bakatnya sebagai atlet lari jarak menengah 800 dan 1.500 meter muncul.

Suatu hari, Pemerintah Kota Manado meminta ke Don Bosco agar mengizinkan Ciputra bergabung dengan kontingen Sulawesi Utara untuk PON II di Ikada, Jakarta.

Ciputra begitu bahagia. Sudah lama dia mengidamkan menginjak ibu kota. Meski tak berhasil juara, namun dia menembus final di nomor 800 dan 1.500 meter.

Masuk ke babak final, sudah sangat luar biasa. Karena masuk dalam list undangan Presiden Soekarno ke Istana Merdeka. Ciputra begitu takjub melihat kemewahan istana.

Setamat SMA, Ciputra masuk ITB. Di situ dia juga merintis usahanya. Nasihat mendiang bapaknya begitu membekas. "Jika ingin sukses, lawannya bukanlah orang lain, tetapi diri sendiri."

Bersama dua sahabatnya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, bermodal ilmu arsitektur, ketiganya mendirikan CV Daya Tjipta.

Awalnya berkeliling dari sebuah garasi di Jalan Soetjipto, Bandung.  Terus dari rumah ke rumah, menawarkan jasanya. Setelah menikah, dia mulai berbicara kepada temannya. "Sampai  kapan kita hanya bergantung dan menunggu orderan?" tanyanya.

loading...

"Saya harus membuat lompatan besar," tekadnya.

Dia memutuskan hijrah dari Bandung ke Jakarta. Itu pada 1960-an. Melihat Jakarta berbenah, dia bertekad bertemu Gubernur DKI Jakarta. Soemarno Sasroatmodjo waktu itu.

Melalui bantuan asisten Gubernur bernama Mayor Charles, Ciputra berhasil bertemu Gubernur Soemarno.

Soemarno tertarik dengan gagasan anak muda di depannya. Dia pun memberikan daerah Senen untuk dibenahi.

"Tapi pemerintah tak punya dana," ujar Soemarno.

Ciputra tak menyerah. Dia terus bolak-balik Senen, memutar otak. Dia kemudian meminta bantuan dua sahabatnya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan.

Gubernru Soemarno dan Ciputra lalu menghadap Presiden Soekarno. Ide membangun Senen disetujui presiden pertama RI itu. Lagi-lagi, kendalanya adalah uang.

Gubernur Soemarno membantu Ciputra mengumpulkan pengusaha besar kala itu. Ada Hasjim Ning, Agus Musin Dasaad, sejumlah petinggi bank seperti Jusuf Muda Dalam (bos BNI), juga ada Jan Daniel Massie (Dirut Bank Dagang Negara).

Dari situlah, lahirlah PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya (Pembangunan Jaya) pada 3 September 1961.

Akhirnya, tiga blok berhasil dibangun di Senen, Blok I, Blok II, dan Blok IV.

Keberhasilan Senen inilah yang menjadi pijakan pertama Ciputra, untuk kemudian membangun gurita bisnis propertinya. 

Loading...
Loading...