Jumat, 01 November 2019 18:46 WITA

Benny Wenda: Jokowi ke Papua hanya Liburan, sementara Militer Indonesia Membunuh Kami

Editor: Nur Hidayat Said
Benny Wenda: Jokowi ke Papua hanya Liburan, sementara Militer Indonesia Membunuh Kami
Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Papua, pekan lalu. (Foto: Liputan6.com)

RAKYATKU.COM - Pemimpin Gerakan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda, mengkritik Presiden Joko Widodo yang berkunjung ke Papua, pekan lalu.

Benny Wenda menyebut kunjungan Jokowi ke Papua hanya sebatas liburan, bukan untuk menyelesaikan masalah.

Benny yang kini menjadi pelarian politik di Oxford, Inggris itu menegaskan, Jokowi berlibur di Papua sementara militer Indonesia terus melakukan operasi.

"Presiden Jokowi kembali mengunjungi West Papua, seperti perjalanan liburan, sementara militer Indonesia membunuh dan menyiksa kami," kata Benny Wenda seperti diberitakan Suara.com, Jumat (1/11/2019).

Ia mengatakan hal itu berdasarkan foto-foto Jokowi dan istrinya, Iriana, menikmati senja di Kaimana, Papua.

Benny menuturkan, pada 2014, ketika Jokowi kali pertama menjadi presiden, sudah menerka tak bakal banyak membawa perubahan signifikan terhadap masalah Papua.

"Kini, perilaku pemerintahan Presiden Jokowi telah menunjukkan kebenaran hal itu," tuturnya.

Ia juga menyayangkan terpilihnya Indonesia menjadi anggota Dewan HAM PBB, tidak dibarengi iktikad Presiden Jokowi untuk memerangi pelanggaran hak asasi manusia.

"Presiden tidak menyebutkan hak asasi manusia, tidak menyebutkan Papua Barat," kata Benny, menyinggung pidato pelantikan Presiden Jokowi.

Dunia internasional dapat menilai elite politik Indonesia tidak berkomitmen terhadap penegakan HAM atau untuk mengatasi akar masalah di Papua.

Loading...

"Tidak ada kemanusiaan dalam sistem pemerintahan Indonesia: itu benar-benar busuk," ujar Benny.

Ia mengatakan, Indonesia justru menggunakan posisi di Dewan HAM PBB untuk meredam persoalan Papua agar tak dibahas kalangan internasional.

Benny menuturkan, berdasarkan pemberitaan-pemberitaan jurnalis, Indonesia menghabiskan ratusan ribu dolar untuk membiayai buzzer di Facebook guna mengonter beragam isu tentang rakyat Papua.

Sementara pada pekan ini, kata dia, Indonesia mengumumkan dana USD 200 juta untuk diplomasi di kawasan Pasifik, guna menghentikan kemajuan kampanye referendum Papua Barat di wilayah tersebut.

"Indonesia sekarang melakukan propaganda, represi, dan suap," klaimnya.

“Pemerintah Indonesia juga memaksa orang Papua untuk menerima program 'pembangunan' palsu Indonesia. Polisi bahkan pergi ke desa tempat saya dibesarkan, membawa para kepala distrik dan memaksa mereka dengan todongan senjata untuk menerima proyek 'pembangunan' kolonial baru," kata dia.

Ia juga mendesak Indonesia membebaskan semua tahanan politik Papua, termasuk mengembalikan 7 tahanan polik Papua yang kekinian dibawa ke Kalimantan Timur.

"Jokowi, berhentilah menggunakan Papua sebagai tempat liburan di tengah genosida. Kami menginginkan kebebasan kami, dan referendum kemerdekaan. Sejarah akan menghakimi Anda, sebagaimana para pendahulu Anda yang melakukan genosida di Timor Timur," tuturnya.

Sumber: Suara.com

Loading...
Loading...