Jumat, 11 Oktober 2019 08:28 WITA

Kisah Pengawas Jembatan Selamatkan Ratusan Orang yang Mencoba Bunuh Diri di Jembatan Golden Gate

Editor: Nur Hidayat Said
Kisah Pengawas Jembatan Selamatkan Ratusan Orang yang Mencoba Bunuh Diri di Jembatan Golden Gate
Mia Munayer dan Kevin Briggs sudah menyelamatkan ratusan nyawa dari bunuh diri di Golden Gate. (FOTO: BRIDGEWATCH ANGELS)

RAKYATKU.COM - "Tidak ada yang datang ke jembatan untuk bunuh diri. Mereka hanya ingin tahu bahwa seseorang peduli dengan mereka."

Kalimat di atas adalah pernyataan Kevin Hines, yang mencoba mengakhiri hidupnya dengan loncat dari Jembatan Golden Gate di San Francisco, September 2000.

Sejumlah orang melihatnya di jembatan itu sebelum dia mencoba bunuh diri, seorang turis bahkan memintanya mengambil foto dirinya.

Namun, tak seorang pun menyadari dia sedang menderita atau bertanya apa masalahnya. Akhirnya dia pun loncat. Ajaib, Hines selamat setelah loncat 75 meter ke air dingin Samudera Pasifik.

Lebih dari 1.700 orang telah bunuh diri dengan loncat dari Golden Gate. Data itu dihitung Badan Jalan Tol dan Transportasi Golden Gate sejak jembatan tersebut didirikan Mei 1937.

Hal ini membuat bangunan buatan manusia yang paling sering difoto dan jembatan yang paling sering dikunjungi di dunia tersebut salah satu lokasi bunuh diri terpopuler di dunia.

Saking seringnya, jembatan ini punya tim sukarelawan yang berdedikasi untuk mendeteksi calon peloncat dan berusaha menghentikannya.

Mereka menyelamatkan nyawa manusia dengan metode sederhana: mendengarkan masalah mereka.

'Malaikat'

Pada 2018 saja, 214 orang mencoba bunuh diri di jembatan ini, atau satu orang setiap dua hari.

Namun, hanya 27 orang yang mati bunuh diri. Ini adalah bukti keberhasilan kerja penegak hukum dan sukarelawan.

Sukarelawan seperti Mia Munayer dan Kevin Briggs telah membantu menyelamatkan nyawa ratusan orang dalam dua puluh tahun terakhir.

Mereka adalah polisi, walaupun Briggs sudah pensiun dari unit Patroli Jalan Tol California yang terkenal (anggotanya lebih dikenal dengan nama CHiPs).

Jaringan sukarelawan Munayer, Bridgewatch Angels (Malaikat Pengawas Jembatan), sering ditugaskan ke jembatan Golden Gate untuk membantu otoritas mendeteksi setiap upaya bunuh diri.

Saat ia masih bertugas, Sersan Briggs dijuluki sebagai Pengawas Golden Gate lantaran ia secara langsung mengintervensi lebih dari 200 negosiasi yang sukses menghentikan percobaan bunuh diri di jembatan tersebut.

Kesehatan Mental
Bunuh diri adalah pembunuh papan atas di dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghitung hampir 800 ribu orang mati akibat bunuh diri setiap tahunnya.

Sementara itu menurut Unit Pengendali dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), 47 ribu orang bunuh diri di AS pada 2017 (tahun terkini untuk data tersebut) dan bunuh diri adalah pembunuh nomor dua bagi warga AS yang berusia antara 10 sampai 34 tahun.

Banyak alasan orang bunuh diri, tapi ada hubungan sangat kuat dengan kesehatan mental yang lemah, terutama depresi.

Sebanyak 90% orang yang mati bunuh diri memiliki penyakit mental atau masalah obat-obatan terlarang saat meninggal.

Penilaian itu dipaparkan SAVE, organisasi bergiat meningkatkan kesadaran dan mencegah bunuh diri di AS.

Walaupun depresi adalah gangguan kesehatan jiwa yang dapat diobati, bunuh diri kerap dilakukan secara tiba-tiba.

Bridgewatch Angels ingin mencegah bunuh diri, yang efektif mengakhiri potensi penyembuhan gangguan mental.

'Kami mendengar'
Munayer dulu adalah satu dari banyak warga setempat di Bay Area yang "buta" sejarah gelap jembatan Golden Gate.

Hal itu berubah saat pada 2010 ia menonton film The Bridge, sebuah dokumenter tentang sisi kelam jembatan Golden Gate.

"Saya dan kolega sedang kursus dan kami disuguhi dokumenter tersebut," katanya kepada BBC.

"Saya tahu saya harus berbuat sesuatu untuk menghentikan lebih banyak orang bunuh diri."

Munayer lalu mendirikan Bridgewatch Angels yang sejak tahun 2011 berpatroli di Golden Gate di sejumlah tanggal penting, seperti saat Valentine atau malam Natal. Mereka dilatih untuk berbincang kepada siapapun yang menurut mereka bermasalah.

Munayer telah mengeluarkan lebih dari US$10 ribu (sekitar Rp141 juta) dari kantongnya sendiri untuk mendanai kampanyenya, yang mencakup seminar bagi mereka yang tertarik turut berpatroli di jembatan di hari-hari penting.

Polisi perempuan tersebut juga melatih sukarelawan untuk berbicara kepada siapapun yang terlihat sendirian dan sedih. Mereka diajari tanda-tanda yang harus mereka perhatikan, serta cara-cara berguna untuk meresponnya.

"Kami bicara kepada mereka. Kami memberitahu mereka kalau mereka tidak sendirian," kata Munayer. "Kami mendengarkan. Terkadang itu respons terbaik."

Sukarelawan lalu mengajukan pertanyaan dasar seperti "apa kamu baik-baik saja?" lalu menunggu orang tersebut bicara.

"Yang penting mereka tidak bicara soal topik yang membuat mereka sedih dan terus bicara," kata Munayer kepada BBC.

Mantan sersan CHiP Kevin Briggs sebenarnya tidak punya pilihan ketika ia mulai menggeluti hal ini: selama hampir 20 tahun jembatan Golden Gate adalah bagian dari rute patroli hariannya.

Dia pertama kali menemui calon pelompat pada 1994.

Loading...

"Saat itu polisi tidak dilatih secara resmi soal cara untuk menangani situasi tersebut. Saya takut ketika saya melihat seorang perempuan muda naik ke atas pagar," kata Briggs kepada BBC.

"Saya mulai membaca tentang cara intervensi bunuh diri di waktu luang saya dan menurut saya itu adalah ide yang bagus, karena selama hampir 20 tahun saya sering harus berurusan dengan situasi tersebut."

"Terkadang saya bertanya kepada orang yang saya selamatkan, seperti survei. 'Apa hal yang saya katakan yang bagus dan apa yang saya katakan, lakukan, yang tidak?'," jelasnya.

Briggs pun berhasil meyakinkan lebih dari 200 orang untuk kembali ke belakang pagar. Ia hanya gagal dalam dua kesempatan.

"Saya lebih sering mengingat orang yang gagal saya selamatkan ketimbang orang yang saya selamatkan," kata mantan polisi tersebut, yang di kemudian hari menderita post-traumatic stress disorder (PTSD).

Briggs menjadi terkenal pada tahun 2005 ketika ia terlibat dalam sebuah penyelamatan yang banyak diliput media setempat: ia menyelamatkan Kevin Berthia, yang saat itu berusia 22 tahun dan dilanda depresi.

Berthia juga terlilit utang US$250 ribu (Rp3,5 miliar) untuk mengobati putrinya yang terlahir prematur.

"Saya bicara kepadanya selama lebih dari 90 menit dan ia kembali ke belakang pagar," ingat Briggs.

Foto dari intervensi itu lalu dipublikasikan oleh media di seluruh dunia.

Delapan tahun kemudian, Berthia ditunjuk sebagai pemberi penghargaan yang dipersembahkan oleh Yayasan Amerika untuk Pencegahan Bunuh Diri kepada petugas patroli.

"Golden Gate merupakan contoh utama dari apa yang terjadi di Amerika Serikat. Masalah kesehatan mental telah menjadi terlalu besar untuk kita abaikan," ujar Briggs dengan yakin.

Pandangan akhirnya ini juga diyakini oleh otoritas Badan Jalan Tol dan Transportasi Jembatan Golden Gate.

Setelah puluhan tahun membahas soal pemasangan hambatan fisik untuk percobaan bunuh diri, otoritas membangun pagar di penghujung 2017.

Dengan biaya mencapai US$200 juta (Rp2,8 triliun), jaring tersebut baru akan jadi tahun 2021. Jaring akan berada enam meter di bawah jembatan dengan lebar enam meter--situs resmi Golden Gate memperingatkan bahwa orang yang jatuh atau loncat dari jembatan "masih akan terluka atau bahkan patah tulang."

Sedikit yang mengulang bunuh diri
Data statistik mengindikasikan bahwa setelah orang memutuskan untuk kembali ke belakang pagar, mereka yang tadinya berminat bunuh diri di jembatan tidak berminat untuk mencoba bunuh diri lagi.

Demikian kata Munayer, letnan di sebuah unit kepolisian di kota tetangga Pleasanton. Ia mengutip studi terkenal yang digagas psikiatris Richard Seiden, yang mengikuti hidup beberapa orang yang batal loncat dari Golden Gate antara tahun 1937 dan 1971.

Seiden menemukan bahwa dari 515 individu yang batal loncat, hanya 25 orang yang tetap bunuh diri.

Stigma
Munayer yakin, pendekatan seperti film dokumenter "The Bridge" yang tayang pada tahun 2006 mampu menyentuh hati orang dan mengubah apa yang disebutnya "mitos bunuh diri."

"Ada beberapa relasi keluarga sukarelawan yang ikut patroli kita di jembatan dan bicara di acara-acara kita."

"Kami telah menunjukkan bahwa terkadang aksi sederhana seperti mengajak bicara santai seseorang dapat membuat mereka membatalkan rencana bunuh dirinya."

"Lalu kenapa kita tidak berdebat soal masalah ini secara lebih terbuka di masyarakat?" katanya.

Hanya sedikit orang yang loncat dari jembatan ini selamat untuk cerita soal pengalamannya. Loncat dari jembatan Golden Gate berarti jatuh ke air dengan kecepatan mendekati 140 km/jam dan tingkat kematian mencapai lebih dari 95 persen, menurut Kantor Koroner San Francisco.

Besok masih hidup
Beberapa orang yang selamat yang mau bicara secara terbuka pada dasarnya menyesali keputusan mereka untuk bunuh diri sesaat setelah loncat dari jembatan. Beberapa kini menjadi bagian dari lobi untuk meningkatkan keamanan di jembatan.

"Jembatan itu pembawa kematian," kata Kevin Hines, yang loncat pada bulan Agustus tahun 2000, kepada CNN.

"Tapi saya tidak akan melakukannya jika ada seseorang yang mengajak saya bicara."

"Perasaan saya campur aduk saat itu di jembatan, saya menangis dan tidak ada arah tujuan," kata Hines.

"Tidak ada yang berhenti untuk bertanya apa masalah saya. Akhirnya, seorang turis menghentikan saya. Dia ingin saya mengambil fotonya. Saya setuju. Lima potret kemudian, saya masih menangis dan dia sudah berlalu."

"Saya tahu tidak ada yang peduli. Saya mundur dan melompati pagar pendek di jembatan."

Hines kini menjadi pembicara soal pengalamannya dan ikut dalam kampanye kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, dengan slogan #BeHereTomorrow.

"Jika Anda melihat seseorang yang sedih, tugas Anda adalah mendekatinya dan mengajaknya bicara kepada Anda untuk berbagi pikirannya," katanya.

"Anda dapat menjadi agen perubahan."

Hanya sedikit orang, termasuk Kevin Briggs dan Mia Munayer, yang mengerti hasil dari upaya ini.

Sumber: BBC Indonesia

Loading...
Loading...