Selasa, 01 Oktober 2019 20:39 WITA

Setahun Setelah Kematiannya, Jamal Khashoggi Jadi Ikon Kebebasan

Editor: Suriawati
Setahun Setelah Kematiannya, Jamal Khashoggi Jadi Ikon Kebebasan
Jamal Khashoggi

RAKYATKU.COM - Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi kini telah menjadi ikon bagi para pencari kebebasan di seluruh dunia.

Khashoggi dibunuh secara brutal pada 2 Oktober 2018, di Konsulat Saudi di Istanbul. Menurut laporan oleh PBB dan organisasi independen lainnya, ia dibunuh dengan dipotong-potong. Namun tubuhnya tak pernah ditemukan.

Pembunuhan itu memicu kemarahan internasional, di mana PBB menyerukan penyelidikan atas peran Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam operasi tersebut. Namun sang Pangeran telah membantah jika ia terlibat.

"Khashoggi adalah episode penting dalam perjuangan Teluk dan Arab [untuk kebebasan]," kata wartawan terkemuka Mesir Fahmy Huwaidi pada Anadolu Agency.

"Sejak kemunculannya, Khashoggi adalah bagian dari fenomena kebangkitan di daerah yang selalu ditutup," katanya. "Kematiannya telah mendorong fenomena ini ke depan."

Jamal Khashonggi dilahirkan pada tahun 1958 di kota suci Madina. Ia menerima pendidikan dasar dan menengah di Arab Saudi dan memperoleh gelar BBA dari Indiana State University di AS pada tahun 1982.

Dia telah bekerja di beberapa surat kabar Saudi, dan menjadi satu dari sedikit wartawan yang berhasil melakukan wawancara langka dengan mantan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Pada tahun 2017, ia melarikan diri dari Arab Saudi ke AS dan menjadi kritikus vokal terhadap kebijakan Saudi.

loading...

Meski telah tiada, bagi Huwaidi, "Khashoggi akan tetap menjadi bagian penting dari transformasi yang dapat terjadi di Teluk dan masyarakat Arab".

Sementara itu, pemikir Mesir terkenal, Jamal Sultan menggambarkan pembunuhan Khashoggi sebagai "gempa bumi".

Dalam sebuah artikel, Sultan mengatakan pembunuhan wartawan Saudi itu "seperti gempa bumi yang mengguncang dunia, karena nama dan fotonya mendominasi berita utama dan televisi di seluruh dunia".

Mohamed ElBaradei, mantan kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menggambarkan kematian Khashoggi sebagai "tragedi".

“Garis perak dalam tragedi #Khashoggi adalah bahwa hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia masih penting. Semoga kita dapat membangun ini untuk menciptakan pola pikir global di mana setiap kehidupan di mana-mana penting,” katanya di Twitter.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan pembunuhan Khashoggi sebagai "insiden yang paling berpengaruh dan kontroversial di abad ke-21, selain serangan teroris 11 September 2001."

Sumber: Anadolu Agency

Loading...
Loading...