Selasa, 17 September 2019 18:43 WITA

Bom Bunuh Diri di Kampanye Presiden Afghanistan, 24 Orang Tewas

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Bom Bunuh Diri di Kampanye Presiden Afghanistan, 24 Orang Tewas
Foto/Reuters.

RAKYATKU.COM - Seorang pembom bunuh diri menewaskan sedikitnya 24 orang di lokasi kampanye Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.

Selain korban tewas, ada sekitar 31 orang yang mengalami luka-luka dalam insiden yang terjadi di Provinsi Parwan, Afghanistan utara itu.

Sementara Ashraf Ghani selamat dan tidak mengalami luka.

Menurut Direktur Rumah Sakit Parwan, Dr Abdul Qasim Sangin, para korban terdiri dari perempuan dan anak-anak.

"Jumlah korban termasuk wanita dan anak-anak," kata Abdul Qasim Sangin, dilansir AFP, Selasa (17/9/2019).

Juru bicara kementerian dalam negeri Nasrat Rahimi mengatakan, pembom itu menggunakan sepeda motor dan meledak di pos pemeriksaan pertama yang mengarah ke rapat umum.

Belum ada grup yang mengklaim serangan.

Loading...

Sementara itu, ledakan bom kedua terjadi di dekat gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul. Belum diketahui mengenai ada tidaknya korban dalam insiden itu. 

Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan-ledakan bom tersebut.

Ledakan-ledakan bom ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump tiba-tiba menghentikan pembicaraan damai dengan Taliban. Trump mengumumkan bahwa pembicaraan dengan kelompok militan tersebut telah mati. Hal ini memicu Taliban untuk menyatakan bahwa satu-satunya opsi saat ini adalah lebih banyak pertempuran.

"Kita punya dua cara untuk mengakhiri pendudukan di Afghanistan, satu adalah jihad dan bertempur, yang lainnya adalah berbicara dan negosiasi," cetus juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada AFP.

"Jika Taliban ingin menghentikan pembicaraan, kami akan mengambil cara pertama dan mereka akan segera menyesalinya," tandasnya.

Pemilihan presiden Afghanistan dijadwalkan digelar pada 28 September mendatang. Meningkat kekhawatiran bahwa tempat-tempat pemungutan suara dan acara-acara kampanye akan terus menjadi target serangan para militan.

Loading...
Loading...