Sabtu, 14 September 2019 15:13 WITA

Wali Kota Tutup FKN, Raja Johor Ungkap Hubungan Kerajaan Luwu dan Melayu

Editor: Aswad Syam
Wali Kota Tutup FKN, Raja Johor Ungkap Hubungan Kerajaan Luwu dan Melayu
Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau (kiri) tampak berbincang akrab dengan Wali Kota Palopo, HM Judas Amir.

RAKYATKU.COM, PALOPO -- Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII 2019, secara resmi ditutup oleh Wali Kota Palopo, HM Judas Amir. Penutupan digelar di Istana Langkanae, Kedatuan Luwu, Palopo, Jumat, (13/9/2019) malam.

Tari Katendong-tendong membuka suasana kegiatan penutupan Festival Keraton Nusantara ke XIII tahun 2019. Dilanjutkan dengan laporan Ketua panitia, Muslimin Aky.

Dalam laporannya, Muslimin menyampaikan perihal keorganisasian FKIKN, dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terkait, atas terselenggaranya FKN XIII, 2019, dan mohon maaf atas segala kekurangan.

YM. Dato  Seri DR. Tengku Daeng Baha Ismail  Al Haj dari Kerajaan Melayu Malaysia, memberi sambutan. Dia menyampaikan tentang hubungan sejarah yang sangat erat antara kerajaan Luwu dengan Kerajaan Melayu serta Kerajaan Johor dan sekitarnya.

Dia juga mengaku sangat berbahagia  berjumpa para Raja se-Nusantara, khususnya dapat berjumpa Datu Luwu. Dia mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua yang hadir, sambil menyapa dengan beberapa bait pantun.

Raja Ahmad Samu-Samu dari Maluku, juga menyampaikan rasa terima kasihnya, dan rasa berbahagia tak terkira karena mendapatkan kain dan badik buatan tahun 1319, dari Tana Luwu Palopo. Ia menyampaikan, bahwa Kerajaan Luwu adalah pela (saudara) Raja Samu Samu Maluku.

Sepatah kata dari YM Raja Krisna Bali, Pemangku Adat di Bali mengatakan, kesuksesan FKN 2019 dia rasakan dalam suasana Kerta Yuda, artinya sangat sukses. "Semoga Nusantara dimulai dari sini, dan semoga FKN membawa perdamaian," ungkapnya. 

Sementara itu, YM Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih setulusnya. Karena secara bersama-sama melaksanakan FKN XIII, 2019. 

Loading...

"Jika kita diberikan amanah, maka kita wajib melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. 'Toddo Puli Temmallara' artinya menikam hingga tembus keluar. Perlambang itu adalah tanggung jawab, sifat kesatria seperti kisah Andi Djemma yang melaksanakan amanah sampai tuntas. Ini adalah pelajaran berharga, bahwa apa yang dilakukan Bangsawan Luwu, jika diberi tanggung jawab, maka harus dilaksanakan meskipun nyawa taruhannya. Mohon Tanah Luwu ini menjadi saudara semua kerajaan," ungkapnya. 

Datu Luwu juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terkait, atas terselenggaranya FKN XIII 2019. Dia juga memohon maaf atas segala kekurangan.

Wali Kota Palopo, HM Judas Amir, menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada seluruh raja-raja nusantara, yang sudah mengikuti FKN dengan saksama. FKN ini kata dia, dapat mempererat jaringan silaturahmi yang harmonis, tersosialisasinya budaya kerajaan, membangun toleransi, promosi wisata dan potensi wisata masing-masing daerah, dan kiranya membawa kesan yang baik, dan dapat kembali ke kota Palopo lagi.

Selanjutnya Wali Kota Palopo menyerahkan piala Kirab Budaya Terbaik kepada Kesultanan Jogjakarta, dan Plakat  Penghargaan Kepada Kesultanan Buton dan beberapa penghargaan lainnya.

Penyerahan Cendra Ati oleh YM. Dato  Seri DR. Tengku Daeng Baha Ismail  Al Haj dari Kerajaan Melayu Malaysia kepada Makole Baebunta, Andi Mashita Kampasu, juga penyematan pin penghargaan, pemberian cendera mata kepada beberapa pemuka adat.

Hadir pula dalam kegiatan penutupan FKN ke XIII ini, Wakil Wali Kota Palopo, H. Rahmat Masri Bandaso, Ketua TP. Penggerak PKK Palopo, Hj. Utiasari Judas,  para YM Raja, para YM Sultan, para  Pelingsir dan Pemangku adat se-Nusantara, para bupati se-Tana Luwu, unsur Forkopimda se-Tana Luwu,  tamu undangan lainnya, serta ribuan masyarakat Luwu Raya.

Loading...
Loading...