Rabu, 11 September 2019 20:03 WITA

Meninggal Dalam Usia 83 Tahun, Ini 5 Prestasi Habibie yang Diakui Dunia

Editor: Abu Asyraf
Meninggal Dalam Usia 83 Tahun, Ini 5 Prestasi Habibie yang Diakui Dunia
BJ Habibie

RAKYATKU.COM - Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie meninggalkan nama yang amat harum, Selasa (11/9/2019). Dunia pun menaruh hormat.

Putra asal Parepare itu dikenal sebagai teknokrat. Manusia cerdas. Ahli pesawat terbang. Dia juga sukses mengubah Indonesia setelah 32 tahun berada dalam kekangan Orde Baru.

Lulusan Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen itu punya segudang prestasi. Berikut lima di antaranya seperti dikutip dari merdeka.com:

1. Lulus dengan Summa Cum Laude dari Jerman

Habibie pernah menimba ilmu teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di Universitas Teknologi Rhein Westfalen (RWTH) Aachen, Jerman.

RWTH Aachen adalah salah satu universitas yang mengembangkan teknologi ke depan dalam riset maupun aplikasi untuk dunia industri di Jerman. Di sana Habibie menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

2. Pernah Jadi Wapres Perusahaan Penerbangan di Jerman

lkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Habibie mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi di perusahaan tersebut.

Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto. Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.

Sebelum menjabat sebagai Presiden (21 Mei 1998-20 Oktober 1999), BJ Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret 1998-21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.

3. Habibie Bikin Pesawat Melebihi 20 Kali Kecepatan Suara

Habibie pernah menceritakan pengalamannya dalam industri penerbangan. Ketika masih kuliah di Jerman dan tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat mendapat gelar doktor, Habibie diharuskan membuat pesawat yang kecepatannya 20 kali kecepatan suara.

Loading...

"Waktu saya mau selesaikan S-3, saya merancang pesawat terbang yang terbangnya 20 kali kecepatan suara. Seperti apa pesawatnya saya tidak bisa membayangkan tapi harus dikembangkan, kalau tidak, ya tidak dapat S-3," kata Habibie dalam sebuah kesempatan di Jakarta.

Sewaktu mengembangkan pesawat tersebut, Habibie bekerja di perusahaan kecil di Hamburg, Jerman. Singkat cerita, usai berhasil mengembangkan pesawat tersebut, Habibie langsung disuruh pulang ke Tanah Air. Dia diminta mengembangkan industri strategis di dalam negeri.

4. Merancang Pesawat R-80

BJ Habibie duduk sebagai komisaris di PT Regio Aviasi Industri (RAI). di bawah PT RAI itu, Habibie sedang membangun pesawat yang dinamai R-80.

Pesawat R-80 merupakan pengembangan dari pesawat N250 yang pernah dibuat BJ Habibie. Pesawat N250 merupakan pesawat yang dikendalikan secara elektronik atau dikenal dengan istilah fly by wire kedua, setelah pesawat keluaran Airbus yakni A-300.

"Pesawat terbang yang pernah dibuat manusia yang dikendalikan secara elektronik yang dikenal dengan fly by wire pertama kali adalah Airbus di Hamburg di mana saya kerja dulu. Di situ, saya pernah menjadi direktur dan executive vice president," kata pria asal Parepare, Sulsel itu.

"Fly by wire pertama A-300, fly by wire kedua N250, dan ketiga triple seven (B-777). Dalam skala regional, N250 merupakan fly by wire pertama," jelasnya.

5. Setumpuk Penghargaan di Dunia Kedirgantaraan

Segudang penghargaan juga pernah diraih Habibie di bidang kedirgantaraan. Habibie adalah menerima Award von Karman (1992) di bidang kedirgantaraan boleh dibilang gengsinya hampir setara dengan Hadiah Nobel.

Dua tahun kemudian suami dari almarhumah Ainun ini juga menerima penghargaan yang tak kalah bergengsi, yakni Edward Warner Award. Habibie juga mendapat gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Honoris Causa) dari berbagai Universitas terkemuka dunia, antara lain Cranfield Institute of Technology dan Chungbuk University.

Loading...
Loading...