Rabu, 04 September 2019 19:07 WITA

"Saya Gunakan Jilbab Dulu", Istri Terduga Teroris Merasa Dilecehkan Polisi yang Dobrak Pintu

Editor: Nur Hidayat Said
Istri-istri terduga teroris yang suaminya ditangkap Densus 88. (Foto: Detik.com)

RAKYATKU.COM, PALU - Istri-istri terduga teroris merasa dilecehkan saat momen penangkapan suami mereka oleh Densus 88. 

"Jam 12 malam sekitar 10 orang berpakaian preman datang ke kos dengan menggunakan senjata pistol. Saya bilang sabar, saya gunakan jilbab dulu, tapi pintu kos langsung didobrak, ditendang dan mengejar saya ke dalam kamar. Saya belum pake jilbab, tirai kamar dibuka petugas dan saya difoto-foto dan divideo," ungkap Risnawati (30), istri salah seorang terduga teroris, sambil menangis dalam jumpa pers di Sekretariat AJI Palu, Rabu (4/9/2019).

"Saya ini menggunakan jilbab cadar karena syariat Islam, dan petugas tidak mengizinkan saya menggunakan jilbab. Katanya lama, mereka langsung masuk dan ini termasuk pelecehan, saya paham aturan hukum," ujarnya.

Suami Risnawati yang ditangkap bernama Arkam (25), diamankan oleh petugas saat membeli makanan sejak jam 20.00 Wita. 

Sementara kediaman Risnawati yang didatangi Densus ada di sebuah indekos di Lorong Malaya, Jalan Towua, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

"Pokoknya habis salat isya, sekitar jam 8 malam, suamiku pergi beli makanan di depan lorong, sampai ada petugas melakukan penggeledahan di rumah dia tidak pulang. Saya tahu pergaulan suami saya seperti apa, karena dia hanyalah seorang buruh bangunan, pagi kerja sore sudah ada di rumah," ucapnya.

"Polisi tidak menyertai surat penggeledahan, mereka datang langsung geledah isi kos pakai sepatu. Senjata angin yang digunakan memburu burung pun juga disita, bahkan televisi dan mesin jahit," tuturnya

Loading...

Rezki Hairulnisa (24), istri dari Hadi Saputra (21) yang juga juga ditangkap oleh Densus 88, menyampaikan keterangan serupa. 

"Pokoknya kos langsung ditendang dan berteriak tangkap-tangkap dan dipaksa untuk mengaku sudah kerja sama yang dilakukan oleh suami saya, padahal suamiku juga hanya buruh bangunan," tutur Rezki.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Didik Supranoto menyatakan akan mengecek terlebih dahulu soal detail penangkapan itu ke Densus 88. Namun dia menegaskan ada prosedur berbeda untuk penangkapan kasus terorisme dibandingkan kasus biasa, mengingat terorisme digolongkan extraordinary crime.

"Kalau soal dugaan pelecehan itu, saya konfirmasi dulu ke pihak Densus 88, apakah benar seperti apa yang disampaikan keluarga terduga saat melakukan konferensi pers. Namun, pada intinya penangkapan dilakukan jelas berbeda dengan kasus biasa," ujar AKBP Didik.

Sumber: Detik.com

Loading...
Loading...