Minggu, 01 September 2019 08:34 WITA

Kebakaran Amazon: Kisah Ttragis Pasangan Petani Meninggal saat Coba Selamatkan Rumah Mereka

Editor: Nur Hidayat Said
Kebakaran Amazon: Kisah Ttragis Pasangan Petani Meninggal saat Coba Selamatkan Rumah Mereka
Pasangan petani Eidi dan Romildo meninggal dunia ketika mencoba untuk menyelamatkan rumah mereka. (Foto: Family Handout)

RAKYATKU.COM - Rumah kayu beratap jerami itu tinggal puing. Di sanalah pasangan Eidi Rodrigues dan suaminya Romildo pernah hidup.

Pasangan ini tinggal di Machadinho D'Oeste, sebuah desa pertanian 350 kilometer sebelah selatan Porto Velho, ibu kota negara bagian Rondonia di kawasan Amazon, Brasil.

Wilayah ini penuh dengan sengketa agraria. Juga lazim bagi penduduk di sana membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Api selalu menjadi ketakutan bagi pasangan Eidi dan Romildo. Mereka khawatir api bisa datang dari tetangga dan menyebar hingga halaman belakang, terutama saat kemarau.

Hal itu sungguh terjadi pada tanggal 13 Agustus lalu. Mereka meninggal dunia ketika berusaha melindungi rumah mereka dan terdesak ketika kobaran tak terkendali.

"Penduduk biasanya membersihkan lahan dengan membakar. Namun hari itu sangat berangin. Api menyebar cepat dan tak ada waktu untuk lari," kata Jeigislaine Carvalho, salah satu anak Eidi kepada BBC.

Tahun ini, jumlah kebakaran di Amazon merupakan yang tertiggi sejak 2012. Ada lebih dari 82.000 kejadian antara Januari hingga Agustus. Ini 80 persen lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data dari Brazilian Space Agency.

Di negara bagian Rondonia saja, ada lebih dari 6.400 titik api sejauh ini.

Eidi dan Romildo menabung selama 10 tahun untuk membeli tanah yang mereka pakai untuk membangun rumah mereka. Para tetangga berkata kepada polisi, pasangan ini menolak meninggalkan lahan mereka ketika kebakaran besar, demi untuk mengawasi jalannya api.

Sebagaimana para petani di kawasan itu, mereka menggunakan penghenti api berupa celah di antara tanaman guna menghentikan atau memperlambat jalannya api.

"Penduduk melakukan apa saja agar tak kehilangan harta mereka yang sudah minim," kata detektif Celso Kondageski.

Desa pertanian tempat tinggal Eidi dan Romildo terletak di kawasan yang mengalami deforestasi, sehingga api lebih mudah menjalar.

Pada 13 Agustus, video yang disebarkan penduduk setempat memperlihatkan api melalap wilayah itu.

loading...

Jeigislaine mengatakan ibunya dan ayah tirinya mencoba menyelamatkan atap rumah yang baru saja mereka beli ketika merenovasi rumah.

"Para tetangga bilang mereka menggotong bahan bangunan ke tempat jauh supaya tak terbakar."

Saksi mata bercerita api mendekati rumah mereka dari belakang, maka pasangan ini bisa menyelamatkan diri dari depan rumah. Namun secara tiba-tiba mereka terpojok oleh api yang datang dari depan.

Menurut laporan setempat, api di Machadinho D'Oeste melalap area seluas lebih dari 106 hektare. Rumah Eidi dan Romildo hancur bersama dengan dua bangunan milik mereka lainnya.

Seorang saksi mengatakan kepada BBC karena takut terhadap denda deforestasi, penduduk setempat enggan memanggil petugas pemadam kebakaran, bahkan ketika api sudah tak terkendali.

"Api hanya berhenti ketika seluruh tanaman sudah terbakar. Kebakarannya kuat sekali, bahkan petugas pemadam kebakaran juga kewalahan mengendalikannya," kata saksi yang minta dirahasiakan namanya.

Pada 14 Agustus petugas pemadam kebakaran muncul. Mereka menemukan tubuh Eidi dan Romildo sudah gosong sekitar 100 meter dari lokasi sisa-sisa rumah mereka.

Polisi meyakini pasangan ini meninggal karena keracunan karbon monoksida. Hanya Eidi dan Romildo yang menjadi korban jiwa dalam kebakaran ini.

Polisi sedang menyelidiki bagaimana api bermula. "Kebakaran ini adalah kejahatan lingkungan. Orang yang bertanggungjawab akan dikenai tuduhan pembunuhan," kata detektif Celso Kondageski.

"Orang yang memulai api di wailayah seperti itu harus sadar bahwa hal itu bisa menyebabkan kematian".

Anak Eidi mengatakan ia ingin keadilan. "Ini semua tak bertanggung jawab dan menyebabkan kematian dua orang. Siapapun yang melakukannya harus dihukum."

Sumber: BBC

Loading...
Loading...