Rabu, 28 Agustus 2019 04:29 WITA

Donald Trump Minta Bertemu, Ini Kata Presiden Iran

Editor: Adil Patawai Anar
Donald Trump Minta Bertemu, Ini Kata Presiden Iran
Presiden Iran, Hassan Rouhani,

RAKYATKU.COM - Presiden Iran, Hassan Rouhani, membalas ajakan bertemu dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dia menyatakan hal itu tidak bakal terjadi sebelum AS menepati janji dengan mencabut sanksi, dan mencari solusi atas kegagalan perjanjian nuklir (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) yang diteken empat tahun lalu.

"Kalau AS tidak mencabut sanksi, kita tidak akan bisa melihat perkembangan apapun. Kuncinya ada di Washington," kata Rouhani dalam jumpa pers di Ibu Kota Tehran, seperti dilansir Associated Press, Selasa (27/8).

Padahal, Rouhani kemarin menyatakan ada kemungkinan kedua belah pihak bertemu untuk mencari solusi atas pertikaian yang selama ini terjadi. Dia juga menyatakan siap berunding dengan AS yang keluar dari kesepakatan pelucutan nuklir pada tahun lalu.

Hal itu terjadi atas campur tangan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, yang mengundang Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Biarritz.


Trump menyatakan siap bertemu dengan Rouhani setelah Macron mengatakan bakal memfasilitasi pertemuan tatap muka antara presiden AS dan Iran tersebut.

"Jika situasinya benar, saya pasti akan setuju," ujar Trump usai bertemu dengan Macron di sela konferensi tingkat tinggi G7 di Perancis.

Macron kemudian mengatakan bahwa Trump dan Rouhani kemungkinan akan bertemu dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.

Sebelumnya Trump sempat menolak bertemu dengan Zarif di sela G7. Kedatangan Zarif itu memang tidak diumumkan.

Loading...

Dia diundang oleh Macron yang berusaha meredakan tensi antara Iran dan AS akibat permasalahan program nuklir Teheran.

Ketegangan kedua negara bermula sejak Juli lalu, ketika Iran mengumumkan bahwa mereka melakukan pengayaan uranium melebihi batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menetapkan Iran harus membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen, jauh dari keperluan mengembangkan senjata nuklir yaitu 90 persen.

Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. 

Saat Trump memimpin, AS memutuskan menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.

ran bertekad bakal terus melakukan pengayaan uranium jika negara-negara lain yang menandatangani perjanjian itu tak berbuat apa pun untuk melawan AS.

Sejak saat itu, tensi antara Iran dan AS terus meningkat dengan isu pengerahan militer hingga uji coba rudal Teheran.

Loading...
Loading...