Minggu, 25 Agustus 2019 15:25 WITA

Tiga Bulan Tidak Dapat Air, Petani Jagung di Takalar Terancam Gagal Panen

Penulis: Muh. Ishak Agus
Editor: Abu Asyraf
Tiga Bulan Tidak Dapat Air, Petani Jagung di Takalar Terancam Gagal Panen
Petani jagung di Takalar terdampak kekeringan.

RAKYATKU.COM,TAKALAR - Dampak kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Takalar membuat lahan pertanian jagung milik masyarakat ikut mengering.

Seperti yang terjadi di Desa Bontomanai, Kecamatan Mangarabombang. Hampir seluruh lahan pertanian jagung milik warga mulai berubah menjadi kuning. 

Hampir di sepanjang lahan jagung milik warga saat memasuki desa tersebut menguning.

Seorang petani jagung, Daeng Leo mengatakan, lahan jagungnya seluas satu hektare sudah hampir mati akibat kurangnya sumber air di daerah tersebut. 

"Sudah tiga bulan lamanya, jagung milik saya ini tidak diberi air. Sebelumnya saya pernah dapat air tapi jauh dari sini. Itu pun sumber air tersebut juga sudah kering karena mesin pompa sudah tidak mampu lagi menarik naik air," katanya, Minggu (25/8/2019).

Kondisi jagungnya yang mati berwarna putih dan tidak berwarna merah seperti jagung pada umumnya. 

Daeng Leo yang bermata pencaharian sebagai petani jagung, terpaksa harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dirinya sudah berusaha mencari sumber yang terdekat dari lahan sawahnya, namun sulit. 

Masih ada satu sumur yang berada di desa tersebut, namun air di sumur itu juga sudah kian sedikit. Matinya tanaman jagungnya tersebut, Leo tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Loading...

"Semua jagung saya rusak. Ini daunnya saja sudah kering. Gagal panen lah kalau sudah begini. Ini sebenarnya sudah hampir panen, tetapi yah beginilah kondisinya," tambah Leo.

Sebelumnya, kekeringan yang terjadi Desa Bontomanai, Kecamatan Mangarabombang sempat teratasi dengan bantuan air bersih dari pemerintah daerah. Namun bantuan air bersih tersebut dianggap warga tidak merata. 

Dikarenakan jumlah air tersebut tidak sebanding dengan jumlah kepala keluarga yang menjadi korban kekeringan di Desa Bontomanai.

Salah satu warga, Daeng Raja mengatakan, bantuan air bersih dari pemerintah saat itu dinilai tidak cukup. Penyaluran air tersebut hanya ditujukan di rumah kepala dusun dan rumah yang berada di sekitarnya.

"Pembagiannya tidak merata karena tujuannya hanya untuk di rumah kepala dusun dan rumah di sekitarnya. Jadi untuk warga lain, tidak dapat," katanya.

Dia menilai, pembagian air tersebut dikhawatirkan justru akan berpotensi menimbulkan masalah di masyarakat karena adanya kecemburuan atas pembagian yang tidak merata tersebut. 

"Ke depannya, sebaiknya tidak usah dilakukan distribusi air bersih jika mobil pengangkut air yang datang hanya satu unit. Takutnya akan timbul aksi kekerasan atas kecemburuan di benak warga. Meski demikian, penyaluran air tersebut oleh pemerintah kami ucapkan banyak terima kasih banyak. Tapi tolong nanti pembagiannya diperbanyak agar merata," tambahnya.
 

Loading...
Loading...