Minggu, 25 Agustus 2019 09:29 WITA

Usai Bantai Rekannya di Tengah Laut, 3 ABK KM Mina Sejati Diduga Bunuh Diri

Editor: Aswad Syam
Usai Bantai Rekannya di Tengah Laut, 3 ABK KM Mina Sejati Diduga Bunuh Diri
Salah seorang ABK KM Mina Sejati yang selamat.

RAKYATKU.COM, TUAL - Sabtu, 17 Agustus 2019, sekitar pukul 10.00 WIT. Sebagian Anak Buah Kapal (ABK) KM Mina Sejati tertidur pulas, usai semalaman memancing cumi di perairan Dobo, Kepulauan Aru, ketika tiba-tiba mereka terlonjak kaget mendengar jeritan tertahan rekan-rekan mereka.

Mereka melihat tiga orang ABK lainnya memegang pisau dan menggorok leher ABK yang tertidur satu demi satu. Mereka pun berteriak dan melompat ke laut.

Nakhoda kapal, Ko Awi mendengar suara ribut dari ruang ABK. Dia melongok, tiga orang yakni Nurul (Masinis), Ferri, dan Qersim memegang pisau berlumur darah. Salah seorang baru saja menggorok leher seorang rekannya, ketika bergerak menuju arah Ko Awi.

Ko Awi lalu melompat ke laut, menyusul 8 ABK lainnya. Kru KM Gemilang Samudera yang melintas di sekitar lokasi, melihat adegan para ABK KM Mina Sejati melompat ke laut. 

Nakhoda KM Gemilang Samudera, Along lalu memerintahkan ABK-nya untuk menolong mereka. Sayang, dari 9 orang yang terjun, dua di antaranya tewas.

Di antara yang selamat, ada Ko Awi. Dari Ko Awi, Along mendapat informasi apa yang terjadi di KM Mina Sejati. Menurutnya itu adalah pembajakan. Dia lalu menginformasikan ke pengelola KM Mina Sejati yang ada di darat, bernama Rinto. 

Berbekal titik koordinat yang dikirimkan Along (nakhoda KM Gemilang Samudra), Rinto kemudian menyampaikan kabar pembajakan kapalnya ke Basarnas, yang lalu berkoordinasi dengan kepolisian dan TNI AL.

Ketiga institusi itu lalu melakukan rencana penyergapan. Kebetulan saat itu, KRI Teluk Lada-521 milik TNI AL sementara berada di sekitar lokasi untuk persiapan HUT ke-74 RI.

Komandan KRI Teluk Lada-521, Letkol Laut (P) Gunawan Hutahuruk mengatakan, kapalnya merapat ke lokasi KM Mina Sejati pada Minggu, 18 Agustus 2019. Sekitar pukul 18.00 WIT, dia menurunkan tim negosiator menggunakan sekoci. Dilengkapi dengan pengeras suara, personel TNI AL mengimbau mereka yang ada di atas kapal untuk menyerahkan diri dan membebaskan sandera.

Namun, imbauan itu tak direspons. Pada Senin pagi, 19 Agustus 2019, sekitar pukul 06.00 WIT, tim pengintai turun. Namun mereka tak melihat ada aktivitas di atas kapal. Pada pukul 08.00 WIT, diturunkanlah tim tindak untuk menggeledah kapal.

Loading...

Penggeledahan dilakukan pada pukul 09.00 WIT hingga pukul 13.00 WIT, namun kapal kosong. Para penyandera, sandera dan korban tewas tak ditemukan. Kapal juga sudah miring dan dimasuki air.

Komandan Lanal Aru, Letkol Laut (P) Suharto Silaban mengatakan, dari 11 ABK yang selamat dengan cara meloncat ke laut, termasuk nakhoda, 8 telah dievakuasi oleh KRI Teluk Lada-521 ke Dermaga Yos Sudarso Dobo, Rabu, 20 Agustus 2019, sekitar pukul 17.30 WIT.

Mereka yang dievakuasi ke Dermaga Yos Sudarso Dobo, adalah, Angger Bahari, Sopari, Rachmat Age, M Ridwan, Wawan Siswanto, Kermudi, Slamet, serta si nakhoda, Wisen Harmoko alias Awi.

Tiga ABK lainnya, Hendra, Mahendar, dan Kiswanto, di atas KM Gemilang Samudera, bersama dua jasad rekan ABK mereka.

Seluruh korban selamat kini berada di Markas Polres Pulau Aru untuk dimintai keterangan terkait insiden pembantaian di kapal tersebut. Sementara dua korban tewas tengah diautopsi di Rumah Sakit Cenderawasih Dobo, Kepulauan Aru.

Salah seorang ABK yang selamat mengatakan kepada petugas, tiga pelaku Nurul (Masinis), Ferri, dan Qersim, melompat ke laut usai membunuh rekan-rekannya. Diduga ketiganya bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut.

Sebelum melompat, ketiganya mematikan alat komunikasi, serta membocorkan lambung kapal sehingga miring.

"Kami enggak tahu apakah dia sudah meninggal, yang pasti tidak ada saat pemeriksaan di atas kapal KM Mina Sejati, tidak ditemukan orang, barang juga tak ada yang dicuri," jelas Danlanal Aru, Letkol Laut Suharto Silaban. 

Loading...
Loading...