Senin, 05 Agustus 2019 17:59 WITA

"Tak Cukup Minta Maaf," Tamsil Bilang Ini yang Harus Dilakukan PLN untuk Tutupi Kerugian Rakyat

Editor: Aswad Syam
Tamsil Linrung

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Blackout (Padam Total). Itulah kondisi di sebagian besar Pulau Jawa, pada Minggu, 4 Agustus 2019. 

Pemadaman listrik besar-besaran ini menuai sorotan. Pasalnya, kerugian yang ditimbulkan diprediksi mencapai triliunan. 

Wakil ketua Komisi VII DPR yang membidani masalah energi, Tamsil Linrung, menyesalkan sistem di PLN yang kurang antisipatif dalam menghadapi masalah kelistrikan. Akibatnya, puluhan juta rakyat dirugikan. 

"Komisi VII meminta pertanggungjawaban PLN. Tidak cukup hanya permohonan maaf," ujar Tamsil.

Menurut Tamsil, aturan kompensasi akibat kelalaian PLN sudah diatur. Yaitu mengacu pada UU Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Lalu dijabarkan dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 27 Tahun 2017.

"Pada Pasal 6 sudah jelas tentang kewajiban PLN memberikan kompensasi. Angka kompensasinya juga tertuang di sana. Namun saya melihat, kompensasi dalam aturan tersebut tidak bakal bisa menutupi kerugian yang ditimbulkan," ungkapnya.

Tamsil berharap PLN berani bertanggung jawab dengan memberikan kompensasi sesuai kadar kerugian masyarakat, melampaui aturan yang tertulis. 

Karena kerugiannya bervariasi. Tamsil mencontohkan, pengusaha budidaya ikan hias koi yang melaporkan ikan mereka mati saat pemadaman. 

Loading...

Demikian pula asosiasi pangkas rambut yang menolak permintaan maaf PLN.

“Daya listrik yang dipakai pengusaha koi dan pangkas rambut, mungkin tak besar. Tetapi kerugiannya bisa puluhan hingga ratusan juta. Kalau perlu gratiskan listrik selama 6 bulan buat para pelaku UKM yang dirugikan tersebut. Ini bentuk pertanggungjawaban. Bukan sekadar ganti rugi, apalagi kompensasi,” ungkap politisi yang namanya digadang-gadang sebagai Ketua DPD RI ini.

Apalagi, lanjut Tamsil, kejadian balckout sudah pernah terjadi pada tahun 2002 dan 2005. Sehingga PLN, kata Tamsil, semestinya belajar dari pengalaman sehingga menyiapkan backup plan.

Ke depan, Tamsil meminta pemerintah untuk memantapkan tata kelola energi nasional yang masih semrawut. Terutama dengan pemanfaatan energi alternatif yang selama ini kurang diseriusi oleh pemerintah. 

Padahal, Indonesia sangat kaya dan prospektif menjadi kampiun di sektor energi alternatif.

“Jika hanya bertumpu pada sumber energi yang dikelola secara konvensional, Indonesia tidak akan pernah mampu mencukupi kebutuhan domestiknya. Energi ini variabel kedaulatan nasional. Ketahanan energi kita harus bisa dipastikan bisa membawa Indonesia menjelajahi era kompetisi masa kini dan masa depan, yang bertumpu pada energi,” pungkas politisi asal Sulawesi Selatan ini.

Loading...
Loading...