Selasa, 30 Juli 2019 15:18 WITA

Chat Balasan Punggawa dari Singapura Bikin Mata Saya Berkaca-kaca

Editor: Abu Asyraf
Chat Balasan Punggawa dari Singapura Bikin Mata Saya Berkaca-kaca
Ichsan Yasin Limpo bersama Arief Saleh beberapa waktu lalu.

“Ok Dik.” Balasan Ichsan Yasin Limpo setelah saya meminta izin mengirimkan rilis berita ke media tentang ucapan selamat atas terpilihnya, Dr Amran Mahmud (Bupati Wajo) sebagai ketua PMI Wajo, 20 Juni 2019.

Tidak seperti biasanya, balasan ke kontak WhatsApp saya tergolong lama. Dua hari setelah rilis itu saya buat, ia baru memberikan konfirmasi. Padahal sepekan sebelum itu, kami masih berbalas pesan mengenai kondisi kesehatannya di Singapura.

Meski semenjak kami saling mengenal satu tahun sebelum Pilgub Sulsel 2018, ia memberikan kepercayaan mengolah isu, sekaligus membuatkan pernyataan yang akan dimunculkan di media, tapi kali ini saya tidak “berani” mengirimkan rilis itu ke media tanpa persetujuannya. 

Semenjak saya meminta izin mengirimkan rilis ucapan selamat ke ketua PMI Wajo terpilih, saya memang tidak berharap banyak jika ia meresponnya begitu cepat, seperti sebelum terbaring sakit. Kondisi kesehatannya yang menurun, pasti sudah membatasi dirinya memegang alat komunikasi.

Apalagi informasi dari pimpinan saya yang pernah membesuk dan mendampinginya beberapa hari di Singapura, mengabarkan jika Punggawa, julukan yang disematkan ke Ichsan Yasin Limpo, sangat jarang lagi membuka WA. Ditambah ia sudah menjalani kemoterapi untuk penyakit kanker yang dideritanya.

Dua hari menunggu balasan konfirmasinya, saya masih punya keyakinan dalam hati jika ia pasti memberikan respons begitu membaca chat saya. Sebab, selama saya mengenalnya lebih dekat, kira-kita setahun sebelum Pilgub Sulsel 2018, ia sangat antusias jika bicara tentang kemanusiaan.

Dan benar, di tengah kondisi kesehatannya yang semakin menurun kurang lebih satu bulan lalu, ia masih sempat membalas chat saya, sekaligus konfirmasi persetujuan untuk ucapan selamat dan harapan ke Amran Mahmud yang menakhodai PMI Wajo.

Begitu membaca balasan WA-nya sungguh mata saya berkaca-kaca. Di tengah perjuangannya melawan vonis kanker ganas, ia masih sempat-sempatnya memberi perhatian tentang organisasi PMI yang dipimpinnya di Sulsel selama tiga tahun terakhir. 

Begitu pun tujuh hari sebelum itu, ia juga membalas pesan WA saya yang meminta terus didoakan untuk kesembuhannya, setelah saya mengirimkan permintaan maaf belum sempat membesuknya di Singapura.

Pasca-komunikasi via WA di atas, saya tidak “memberanikan” diri lagi mengirimkan chat. Selain alasan tak ingin menganggunnya, juga kabar dari keluarganya, termasuk yang pernah membesuknya jika kondisi kesehatannya semakin menurun. Salam dan kerinduan saya, hanya saya “titipkan” ke dua putra beliau, Sadli Nurjjafia Ichsan dan Adnan Purichta Ichsan melalui kontak WA. Termasuk ke pimpinan saya di JSI.

Pekan lalu, Kamis (25/7/2019) malam, saya meluangkan waktu menghadiri doa dan zikir untuk Ichsan Yasin Limpo yang digelar Suara Sulsel. Bersama puluhan anak yatim, kami memohon kepada Sang Khalik, agar ‘Punggawa’ diberikan kesabaran, ketegaran dalam melawan kanker paru-paru yang saat itu sudah dirawat di Jepang.

Keinginan kami tentu sangat besar agar ia bisa diangkat penyakitnya. Apalagi, semenjak di vonis kanker, IYL beserta keluarganya berusaha sekuat tenaga menghadapi cobaan itu. Tapi Allah punya rencana lain dan sekaligus yang terbaik bagi pencetus Perda Pendidikan Gratis pertama di Indonesia ini.

Hari ini, kami mendapat kabar duka atas berpulangnya ke Rahmatullah sosok yang kami banggakan. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Jepang setelah kurang lebih lima bulan berusaha melawan sakit kanker paru-paru. Dan sungguh, kepergiannya membuat kami kehilangan. 

Chat Balasan Punggawa dari Singapura Bikin Mata Saya Berkaca-kaca

***
Di tengah rasa duka dan kehilangan, izinkan penulis yang pernah merasakan kehangatannya mengurai kembali ungkapan  apresiasi untuk Bapak Ichsan Yasin Limpo atas bakti dan dedikasinya selama ini. Sekalipun tulisan ini saya buat sehari pasca-pencoblosan Pilgub Sulsel 2018, tetapi  selalu ada kebanggaan jika menyebutnya.

Bangga, karena banyak pembelajaran berharga bisa dipetik selama bersentuhan  dengannya. Bangga, karena di hatinya selalu ada nawaitu untuk masa depan anak-cucu kita. Bangga, karena tak pernah lelah memberi yang terbaik untuk rakyat.

Bagi penulis yang baru satu tahun berinteraksi langsung dengannya, tentu masih tergolong sangat "belia" untuk mengurai lebih jauh tentang sepak terjang dan kepribadian  mantan anggota DPRD Sulsel dua periode ini. 

Tapi terlepas itu, ada pembeda yang penulis rasakan tentang Ichsan Yasin Limpo. Pembeda, karena perkataan dan perbuatannya seiring. Pembeda, karena punya konsitensi. Pembeda, karena ada ketegasan dalam bersikap. Pembeda, karena punya nyali tinggi menerobos sistem yang berbelit-belit.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Ichsan adalah tipikal pemimpin zaman now. Punya kematangan berpolitik. Terukur menjanlankan kebijakan. Pikiran dan ide-idenya selalu jauh kedepan. Bukan asal-asalan, atau sekadar mencari sensasi sesaat untuk pencitraan.

Jangan pernah beranggapan jika Ichsan adalah tipikal pemimpin yang piawai berjanji, tapi gampang melupakan. Sebab jika itu ada di pikiran, maka percaya saja Anda akan 'tersipu malu' dan "kacele" dengan sendirinya. 

Siapapun yang pernah dan lama berinteraksi dengan Ichsan, pasti sangat tahu bagaimana dia memegang sebuah komitmen. Pantang baginya menarik ucapan, atau mengkhianati janji yang keluar dari mulutnya. Sekalipun itu dalam posisi sulit atau tersudut.

loading...

Bukan Ichsan Yasin Limpo namanya kalau lari dari komitmen. Bukan Ichsan Yasin Limpo panggilannya kalau plin-plan bersikap. Bukan Punggawa julukannya, kalau menjauh dari tanggung jawab. Bukan juga "Mister Komitmen" kalau menjadi "boneka" dari pihak tertentu.

Setidaknya ini yang penulis ikut rasakan selama menjadi "paggene-genne" dibarisan pemenangannya selama kurang lebih satu tahun terakhir. Arti sebuah komitmen, konsistensi, ketegasan, serta kemampuan begitu sangat dipegang erat-erat.

Kebanggaan tersendiri bisa mengenalnya, karena terobosan-terobosannya kadang di luar nalar dan prediksi kita. Di saat kita berpikiran jangka pendek, Ichsan justru jauh berpikiran jangka panjang. Dan itu penuh perhitungan, kematangan, serta sangat terukur.

Jangan pernah menilai setiap gagasan dan idenya yang dikeluarkan hanya sekadar untuk menarik simpati belaka. Sebab, di benaknya tak ada istilah main-main untuk kepentingan rakyat banyak. Ia tak alergi dicibir di awal. Ia tak takut terus menjadi "bulan-bulanan" kritikan. Asalkan di akhir, rakyat bisa menikmati sesungguhnya makna dari ide dan gagasannya itu.

Bercermin dari kepemimpinannya di Gowa selama 10 tahun, Ichsan memang tak sehebat beberapa kepala daerah yang piawai mengumbar pencitraan di media, tapi didalamnya sangat keropos. Ichsan jauh tertinggal untuk urusan meletakkan batu pertama, namun tak ada realisasi. Karena sekali lagi, doktor bidang hukum pendidikan ini, memang lebih mengutamakan fakta ketimbang janji atau pencitraan.

Lewat kepemimpinan Ichsan, Gowa kini jauh lebih merdeka. Merdeka, karena tak ada lagi istilah pungutan satu rupiah pun ke orang tua siswa. Merdeka, karena kaya dan miskin semua bisa menikmati pendidikan yang benar-benar gratis.

Merdeka, karena rakyatnya juga benar-benar menikmati kesehatan gratis. Merdeka, karena rakyatnya merasa terlindungi. Tak ada kecemasan tanah dan haknya dirampas oleh konglomerat. Sebab siapapun itu yang ingin membeli tanah di wilayah Gowa, harus memiliki KTP Gowa. Bukan surat keterangan sementara.

Berkat kepemimpinan Ichsan pula, mini market yang menjamur di daerah lain, tetap bisa terkontrol di Gowa. Ada pembatasan di setiap kelurahan. Dan itu dilakukan, agar roda usaha menengah ke bawah yang dijalankan rakyat, tetap bisa berjalan dan bersaing.

Pembeda lainnya yang dimiliki IYL, tentu saja soal komitmennya menjalankan pemerintahan bersih atau bebas dari penyalahgunaan. Selama 10 tahun memimpin Gowa, ia berhasil membawa kabupaten yang wilayahnya sekitar lima kali lipat luasnya dibanding Bantaeng ini, mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) lima kali berturut-turut. Dan ini satu-satunya kabupaten di Sulsel.

Bukan hanya itu saja, berkat kegigihan memimpin dan melayani rakyat, Ichsan pernah membawa Gowa sebagai kabupaten pemerintahan terbaik kedua se-Indonesia. Dan lagi-lagi ini pertama untuk kabupaten di Sulsel.

Keberpihakan lainnya ke rakyat adalah penegasan ke siapapun investor yang menanamkan modal atau investasinya di Gowa. Syarat wajibnya, tenaga kerja atau karyawan yang direkrut harus memprioritaskan putra-putri daerah. Begitu juga untuk sektor lain yang di catatan ini tak sempat diurai.

Pembeda lainnya yang penulis rasakan, adalah kedisiplinan Ichsan. Bukan hanya "Mister Komitmen" yang layak untuk disandangnya. Tapi julukan "Mister On Time" patut juga disematkan. Ia bukan tipikal pejabat pengguna "jam karet".

Berulangkali penulis dibuat terkagum hingga "tertinggal" dengan aksi "Mister On Time". Jika ada undangan atau kegiatan yang ingin dihadirinya, jangan tunggu bergerak setelah jadwal yang ditentukan. Sebab kebanyakan ia memilih bergegas atau datang lebih awal.

Melalui catatan ini, izinkan penulis menyampaikan beribu terima kasih atas berbagai pembelajaran berharga selama ini. Fisikmu boleh pergi, tapi karya, pikiran dan ide-idemu, Insyaallah akan selalu terkenang 

Selamat jalan, ayahanda. Kami akan selalu merindukanmu!

Makassar, 30 Juli 2019

Muh Arif Saleh
Penanggung Jawab Tim Media IYL-Cakka di Pilgub Sulsel 2018

Catatan:

- Redaksi menerima tulisan tentang sisi-sisi menarik tentang Ichsan Yasin Limpo, terutama dari para pembaca atau orang-orang dekat yang pernah bersentuhan/berinteraksi langsung dengan mantan bupati Gowa dua periode itu. Tulisan dikirim ke email: redaksi@rakyatku.com yang dilengkapi dengan identitas yang jelas dan nomor HP/WA. Terima kasih

 

Loading...
Loading...