Minggu, 28 Juli 2019 18:43 WITA

Citizen Report

Majelis Keturunan Tomanurung Satukan Bangsawan Se-Sulsel

Editor: Aswad Syam
Majelis Keturunan Tomanurung Satukan Bangsawan Se-Sulsel
Dari kiri, Ketua Majelis Keturunan Tomanurung Drs. A. Pamadengrukka dan permaisuri, bersama Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan Datu Suppa ke-30 Hj. Andi Dala Uleng Bau Massepe seusai pengukuhan.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Minggu, 28 Juli 2019. sekitar 200 orang berkumpul di Baruga Karaeng Pattingalloang, Rujab Gubernur Sulsel.

Yang pria mengenakan songkok to bone, lengkap dengan jas tutup dan sarung. Sementara yang perempuan mengenakan baju bodo, dipadu hijab.

Mereka adalah keturunan para bangsawan di Sulsel. Mereka dipersatukan dalam komunitas Majelis Keturunan Tomanurung.

Majelis ini diinisiasi oleh bangsawan trah asli dari kerajaan besar di Sulawesi Selatan, seperti Datu Luwu XL H.Andi Maradang Mackulau, Drs.A.Pamadengrukka Mappanyompa Arung Amali, Datu Suppa ke-30 Hj. Andi Dala Uleng Bau Massepe, almarhum Andi Maddusila Raja Gowa ke-36.

Majelis Keturunan Tomanurung Satukan Bangsawan Se-Sulsel

Juru bicara Majelis Keturunan Tomanurung, AM Nur Bau Massepe dalam keterangan tertulisnya kepada Rakyatku.com menyebutkan, terbentuknya Majelis Keturunan Tomanurung ini, karena kondisi munculnya “oknum” yang mengatasnamakan kerajaan, yang merugikan nilai-nilai budaya dan trah asli kerajaan tersebut.

"Kehadiran Majelis To Manurung ini memiliki tugas mulia, sebagai wadah silaturahmi antar keluarga, mempersatukan kerajaan dan kedatuan, serta pemangku adat se-Sulawesi Selatan skala nasional dan Internasional, yang sudah mulai pudar," ungkapnya.

Majelis Keturunan To Manurung Sulawesi Selatan ini kata dia, telah mendapat legalitas Keputusan Menteri Hukum dan H.A.M. RI Nomor : AHU 0005580-AH01.07 Tahun 2019.

Drs. Andi Pamadengrukka Mappanyompa Arung Amali, selaku Ketua Majelis Keturunan Tomanurung, mengatakan, raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan besar seperti Bone, Gowa dan Luwu adalah tomanurung, yang berarti orang yang diturunkan dari langit oleh Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki keadaan yang kacau balau pada waktu itu. 

Lebih lanjut, mantan Bupati Barru ini mengatakan, Majelis Keturunan Tomanurung ini akan menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan budaya dan pembangunan ekonomi di wilayah kerajaan.

Ketua Panitia, Andi Sirajuddin Oddang, mengatakan, kegiatan ini merupakan pengukuhan pengurus dan rapat kerja, sejak dideklarasikan pada pada 27 Januari 2018 di Hotel Singgasana Makassar. 

Dirangkaikan juga dengan dialog kebudayaan yang dihadiri oleh pakar budaya, seperti Suriadi Mappangara (pakar sejarah Universitas Hasanuddin), dan Prof halilintar Latief.

Loading...

Datu Luwu ke XL H. Andi Maradang Mackulau Opo To Bau dalam sambutannya mengatakan, menjadi bangsawan itu bukan hal mudah. 

“Pertama dia harus memiliki sifat dan pribadi bangsawan, yang terpuji, sopan santun, saling menghargai, lalu tentu memiliki garis keturunan bangsawan. Itulah harus dipenuhi oleh seorang bila ingin disebut bangsawan,” ujar Datu Luwu ke-XL ini.

Dalam AD/ART Majelis Keturunan Tomanurung kata Datu Luwu, disebutkan, bangsawan memiliki visi untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kebudayaan Sulawesi, yang terdiri dari suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja, sebagaimana yang diamanahkan Undang-Undang Kebudayaan No 5 tahun 2017 dengan menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. 

Misi dari majelis ini yang paling utama adalah menyatukan semua rumpun keluarga dan etnis bangsawan se-Sulawesi Selatan, termasuk trah asli dari kerajaan-kerajaan yang ada.

Organisasi ini membina keluarga agar mampu mandiri, mengangkat potensi daerah-daerah berbasis kerajaan dan kebudayaan untuk pengembangan ekonomi kreatif, serta membangun semangat gotong royong, bagi bangsawan se-Sulawesi Selatan.

Pada kegiatan kali ini dirangkaikan dengan pengukuhan Pengurus periode 2018 sd 2022 oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bertempat di Baruga Pattingalloang Rujab Gubernur. 

Dalam sambutannya, Gubernur mengatakan, adanya kemajuan teknologi informasi yang ada seperti Facebook, Twitter yang dengan mudah menyebarluaskan berita-berita berbau hujatan, saling menghina, dan menjatuhkan, yang menurutnya bukan budaya sebagai Bugis-Makassar.

Hadirnya Majelis Keturunan Tomanurung kata dia, diharapkan menjadi organisasi induk dan perekat dalam menegakkan kembali nilai-nilai luhur budaya kita, seperti sipakatau dan sipakalebbi.

Lebih lanjut, Nurdin Abdullah menyebutkan, akan membuat Perda(Peraturan Daerah) terkait penguatan budaya di Sulawesi Selatan, dan akan berkordinasi dengan bupati-bupati untuk memperkuat keberadaan Majelis Keturunan Tomanurung di daerah-daerah.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pj Wali Kota Makassar M Iqbal Suhaeb, A.M. Yamin, Brigjen Pol A. Latif Mapparessa (Wakil FSKN Pusat), Aminuddin Salle (tokoh adat), Prof. Dr. H. Paturungi Parawansa, Andi Bau Rum (Mantan Bupati Barru), Prof Halilitar Latief, H. Andi Makmun Bau Tayang (Kerajaan Gowa), Andi Makmur Sadda dan beberapa pewaris takhta dan keturunan arung dan datu se-Sulawesi Selatan, yang berjumlah kurang lebih 200 orang.

Loading...
Loading...