Rabu, 24 Juli 2019 22:43 WITA

Pakai Parang Kardus, Pekerja Sawit Peragakan Cara Bunuh Istri karena Cemburu

Editor: Mays
Pakai Parang Kardus, Pekerja Sawit Peragakan Cara Bunuh Istri karena Cemburu
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, SAMPIT - Rabu, 24 Juli 2019. Mengenakan pakaian serba hitam, MD memegang parang yang terbuat dari kardus.

Sambil membetulkan papan tersangka yang tergantung di lehernya, dia menempelkan parang kardus tersebut ke tubuh seorang wanita. 

Perempuan itu adalah model yang memerankan Hastian, istri MD yang dihabisi Juni 2019 lalu.

Dua orang berpakain jaksa dan seorang berpakaian biru muda, tampak mencatat adegan. Mereka memegang kertas tebal bersampul merah yang diduga adalah BAP, sambil mencocokkan dengan adegan rekonstruksi.

MD adalah seorang pekerja perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Haluan, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Hari itu, Jumat, 10 Juni 2019, cemburu menguasai dirinya. Dengan kalap, MD menghabisi istrinya dengan parang.

Kapolres AKBP Mohammad Rommel melalui Kapolsek Mentaya Hulu Ipda Muhammad Affandi dalam reka ulang di Sampit, Rabu mengatakan, sesuai berita acara pemeriksaan (BAP), kejadian ini murni dipicu karena pelaku cemburu terhadap istrinya.

Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Di perumahan karyawan sebuah perusahaan besar perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Haluan, sebagian penghuni perumahan karyawan masih ada di rumah mereka.

Tiba-tiba terdengar teriakan dua bocah yang meminta tolong.

"Ibu terluka...ibu terluka...tolong!!!," teriak bocah itu.

Tetangga yang mendengar, langsung berlarian menuju barak yang ditempati korban dan keluarganya.

loading...

Saat itu, MD keluar dari rumah dengan tangan berlumuran darah sambil memegang senjata tajam. Takut terjadi hal tidak diinginkan, warga yang merupakan sesama pekerja di perusahaan sawit itu, melaporkan kejadian kepada petugas keamanan perusahaan.

Setelah masuk ke rumah, warga kaget karena menemukan korban terkapar dengan bersimbah darah di dalam kamar tidur. 

Setelah diperiksa, Hastian sudah tidak bernyawa dengan luka parah di leher.

Selain MD, dua saksi juga dihadirkan dalam rekonstruksi yang digelar di aula Markas Polres Kotawaringin Timur tersebut. MD memeragakan 15 adegan.

Affandi mengungkap pengakuan tersangka. Menurutnya, rumah tangga tersangka dan korban mulai tidak harmonis. Diduga hadirnya orang ketiga jadi penyebab. Hal itulah yang membuat alasan tersangka mengajak sang istri merantau dari kampung halaman mereka di Sulawesi Utara ke Kotawaringin Timur. Harapannya, agar sang istri tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Saat beberapa bulan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur, tersangka mencurigai sang istri menjalin hubungan dengan seorang pria. Bahkan sebelum pembunuhan itu, tersangka curiga istrinya akan pergi ke Sampit meninggalkannya bersama anak-anaknya.

"Itulah yang diakui memicu terjadinya pertengkaran, hingga membuat tersangka emosi dan membunuh sang istri. Korban luka parah di leher bagian belakang sehingga nyawanya tidak tertolong," kata Affandi.

Usai membunuh sang istri, tersangka diduga berniat bunuh diri dengan meminum racun. Namun aksi itu diketahui warga yang kemudian langsung melarikannya ke klinik kesehatan di kawasan itu.

Tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan ancaman bui hingga 19 tahun.

Loading...
Loading...