Minggu, 21 Juli 2019 17:46 WITA

Kisah Jennifer Pan, Anak Emas yang Sewa Pembunuh Bayaran untuk Habisi Orangtuanya

Editor: Aswad Syam
Kisah Jennifer Pan, Anak Emas yang Sewa Pembunuh Bayaran untuk Habisi Orangtuanya
Hann dan Bich (kiri) jadi korban pembunuhan yang dirancang putrinya, Jennifer Pan (kanan).

RAKYATKU.COM, KANADA - Hann dan Bich, adalah pengungsi asal Vietnam, yang merantau ke Kanada. Sebagai perantau, mereka ingin kehidupannya sukses di negeri orang.

Harapan terbesarnya ada pada Jennifer Pan. Kedua orangtua itu pun bekerja keras sebagai buruh, demi pendidikan Jennifer.

Dilansir Elitereaders, Jennifer memang dikenal jenius. Namun tekanan dari orang tuanya agar dia terus berprestasi di sekolah membuatnya depresi.

Jennifer memang siswi berprestasi selama menempuh studi di SMA Katolik, dan dengan mudah lulus sebagai sarjana Farmasi dari Universitas Toronto Kanada yang dikenal sebagai kampus favorit.

Menurut adik Jennifer, Felix, kakaknya itu adalah anak emas dan menjadi kebanggaan orangtua.

Jennifer disiplin mengikuti les piano dan skating hingga menguasai keduanya dengan sangat baik.

Jennifer juga berlatih bela diri dan perenang yang baik.

Dan di luar kegiatan ekstrakulikuler, ia adalah pelajar teladan yang tekun belajar hingga larut malam.

Pesta dan pacaran menjadi hal terlarang di rumahnya karena pendidikan adalah segalanya.

Ternyata, di balik itu semua, Jennifer melakukan kebohongan, agar dia terkesan memenuhi harapan kedua orangtuanya, menjadi seorang pelajar berprestasi.

Saat duduk di kelas 8, prestasi belajar Jennifer mulai drop di mana tak lagi antusias belajar, nilai mulai anjlok dan perlahan kepercayaan dirinya menurun.

Untuk menutupinya, Jennifer mulai berbohong hingga kebohongan menjadi kebiasaannya.

Dan gadis itu pun menjalani kehidupan ganda yang penuh kepalsuan dan penipuan.

Orangtua Jennifer mengira putrinya adalah pelajar kelas "A", namun nyatanya ia hanyalah kelas "B".

Mendapatkan nilai B masih lumayan bagi siswa lain, namun di keluarga Jennifer, itu sebuah aib.

Untuk menutupinya, Jennifer memalsukan raportnya.

Kendati demikian, nilainya masih lumayan hingga dirinya diteriman di Ryerson University di Toronto.

Namun, ia tak jadi mendapatkannya karena gagal dalam mata pelajaran kalkulus di akhir masa studinya.

Tak ingin mengecewakan orangtuanya, gadis berkacamata itu berpura-pura kuliah.

Ia mengaku akan belajar sains selama 2 tahun di Ryerson University, sebelum melanjutkan kuliah di jurusan farmasi di University of Toronto yang terkemuka.

Jennifer mengumpulkan buku-buku bekas, berbohong bahwa ia mendapatkan beasiswa sehingga orangtuanya tak curiga mengapa mereka tak pernah dimintai uang untuk membayar kuliah.

Tiap pagi Jennifer pamit kuliah pada orangtuanya namun ia tidak menuju kampus melainkan pergi ke sebuah perpustakaan.

Tiba saat wisuda, gadis berambut hitam itu kembali berbohong dengan mengatakan undangan yang dibagikan pada pihak orangtua terbatas.

Suatu hari, Bich dan Hann curiga dengan perilaku putri mereka.

Keduanya pun menguntit Jennifer yang mengaku bekerja di sebuah rumah sakit.

Saat dusta itu terungkap, tak hanya hati orangtuanya yang hancur.

Loading...

Jennifer pun makin tertekan, Bich dan Hann makin keras pada putrinya yang kala itu berusia dewasa.

Telepon genggam dilarang, komputer menjadi barang haram, Jennifer pun tak boleh berkencan dengan kekasihnya Daniel Wong.

Bahkan, penunjuk jarak pada mobil Jennifer selalu dipantau.

Jennifer diperintahkan melanjutkan pendidikannya hingga pengawasan ketat pun diberlakukan padanya.

Pada saat Daniel memutuskan hubungannya, hal itu menjadi titik krisis baginya.

Setelah putus, Jennifer dekat dengan pria bernama Andrew Montemayor, teman sekolahnya saat SD.

Ia mulai berpikir bagaimana untuk lepas dari segala tekanan di mana ia bersama Montemayor dan teman sekamar kekasih barunya itu, Ricardo Duncan, mereka merancang sebuah plot.

Namun, apa yang mereka rancang hanya sekadar rencana hingga hubungan mereka bubar.

Jennifer pun dekat lagi dengan Daniel dan mereka berencana untuk menyewa tukang pukul.

Untuk memberi pelajaran pada "orangtua yang dianggap terlalu mengekang".

Jennifer mendapatkan ponsel baru dari Daniel, juga kontak ke seorang pria bernama Lenford "Homeboy" Crawford yang meminta duit 10 ribu dolar Kanada untuk mengerjai orangtua perempuan itu.

Entah bagaimana awalnya, rencana itu menjadi plot pembunuhan yang membuat Daniel mundur, karena merasa itu semua kelewatan.

Suatu malam pada tahun 2010, Jennifer memutuskan untuk mengeksekusi rencananya.

Kala itu, jarum jam menunjuk ke pukul 22.00 waktu setempat. Crawford, Mylvaganam, dan pria ketiga bernama Eric Carty memasuki pintu depan rumah orangtua Jennifer. 

Mereka semua membawa senjata.

Di bawah todongan, Bich dan Hann dipaksa turun ke lantai bawah. Kepala mereka ditutupi selimut.

Sang ayah, Hann ditembak 2 kali, salah satunya di bagian muka.

Sementara ibunya, Bich ditembak 3 kali di kepala dan tewas seketika.

Ajaibnya, Hann selamat dan mengingat semua yang terjadi pada momen mengerikan itu.

Pada 2014, pengadilan atas kasus itu digelar di mana saat vonis bersalah dijatuhkan, Jennifer tak menunjukkan emosinya alias datar.

Namun, saat awak media meninggalkan ruang sidang, ia menangis dan gemetar tak terkendali.

Dengan dakwaan tingkat pertama, Jennifer divonis seumur hidup, tanpa kesempatan mengajukan pembebasan bersyarat selama 25 tahun.

Ia berusia 28 tahun saat duduk sebagai pesakitan.

Dan untuk dakwaan percobaan pembunuhan terhadap ayahnya, ia juga divonis menerima hukuman seumur hidup, yang akan dijalani secara bersamaan. 

Carty, Mylvaganam, dan Crawford juga menerima hukuman serupa.

Loading...
Loading...