Selasa, 16 Juli 2019 09:20 WITA

Tragedi Tewasnya ASN Kemenag, Kenalan di Facebook, Selingkuh, Beri Piutang, Lalu Dimutilasi

Editor: Aswad Syam
Tragedi Tewasnya ASN Kemenag, Kenalan di Facebook, Selingkuh, Beri Piutang, Lalu Dimutilasi
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, BANYUMAS - Soib (51) sudah lama curiga. Istrinya, Komsatun Wachidah (51) sering pulang malam, juga keluar tanpa izin.

Sampai suatu ketika, sejak Minggu, 7 Juli 2019, Soib tak pernah lagi bertemu dengan istrinya.

Dia mulai resah. Soib lalu menelusuri jejak istrinya, termasuk jejak-jejak digital di dunia maya.

Dia sempat menelusuri dari akun google-nya akhirnya didapati rangkaian-rangkaian cerita, mulai dari inbox Facebook kemudian rute-rute yang dilewati oleh istrinya dan tempat-tempat yang dituju.

Kebetulan akun Facebook-nya belum log-out dan akun google-nya juga belum log-out, sehingga memudahkan suami untuk menelusuri tempat-tempat yang disinggahi, kemudian komunikasi dengan siapa terakhir.

Setelah Komsatun hilang, suaminya sempat curiga dan memeriksa BPKB mobil di lemari. Setelah hilang dia cari-cari seharian. Pada Hari Senin paginya dia feeling cek lemari, dia buka BPKB motor dua ada, BPKB mobil yang tidak ada. Nah, di situlah dia langsung lapor ke Polsek Cileunyi.

Pada saat sang suami sedang gelisah. Di sebuah ruangan berukuran 3x4, sebuah kamar indekos. Sang istri, Komsatun Wachidah sedang bersama pria lain, Deni Prianto (37). Deni adalah residivis yang baru saja bebas dari penjara setelah dihukum kasus penculikan mahasiswi.

Di atas sebuah kasur, keduanya menuntaskan birahi. Komsatun terbuai rayuan Deni, residivis kambuhan yang mengaku kerja di perusahaan pelayaran.

Komsatun berkenalan dengan Deni di Facebook dengan akun palsu yang sengaja dibuat Deni usai keluar dari bui yang dihuninya selama 4 tahun.

Loading...

Tergila-gila, Komsatun mau saja ketika Deni meminjam uangnya Rp25 juta, dengan alasan untuk menutupi gajinya yang belum terbayar oleh perusahaannya.

Lama tak dibayar, Komsatun akhirnya menagih Deni. Bukan itu saja, Komsatun yang masih bersuami, menuntut Deni untuk menikahinya. Sang residivis kemudian memutar otak. Akhirnya dia merencanakan sebuah aksi keji, pembunuhan terhadap ASN Kemenag itu.

Sebelum kejadian, Sabtu, 6 Juli 2019, Deni menghubungi Komsatun. Mereka janjian bertemu di tempat kos. Deni meminta Komsatun membawa mobil dan BPKB-nya. Dia sudah menyiapkan sebuah martil di bawah kasur, tempat mereka memacu birahi.

Usai melakukan perbuatan terlarang itu, Komsatun kelelahan dan membalikkan badan. Saat itulah, bagai kesetanan, Deni meraba palunya di bawah kasur, lalu menghantamkan ke kepala Komsatun tiga kali.

"Hari Sabtu dia sudah menyiapkan, kemudian mengajak bertemu bertemu hari Minggunya dan palu yang sudah disiapkan itu dia sembunyikan di bawah tempat tidurnya. Pada saat sedang melakukan hubungan, kemudian dipukulkan sebanyak tiga kali di kepala korban," papar Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun sebagaimana dilansir dari Detik.

Bingung menyembunyikan jasad korban, pelaku kemudian memutilasi tubuh korbannya, lalu membawa potongan-potongan tubuh itu pulang ke rumahnya di Banjarnegara. Potongan tubuh bagian kepala, tangan dan kaki dibuang dengan cara dibakar Watuagung, Kecamatan Tambak, Banyumas.

Sisa potongan tubuh lainnya dibawa ke Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Di tempat itu, Deni melihat ada gorong-gorong besar dan akhirnya membakar sisa potongan tubuh korban di lokasi tersebut.

"Di situ api menyala, kemudian dia tinggal langsung pergi menuju ke Purwokerto untuk menjual mobil. Sampai ke sebuah showroom di wilayah Purwokerto dia melakukan tukar tambah mobil korban dengan mobil Xenia 2007 dan dapat tambahan uang senilai Rp100 juta," pungkas Bambang.    

Loading...
Loading...