Jumat, 12 Juli 2019 17:07 WITA

Tersangka Pelanggaran Pileg Mengaku Dibayar, Rahman Pina: "Jangan Tanya Saya"

Penulis: Syukur
Editor: Mays
Tersangka Pelanggaran Pileg Mengaku Dibayar, Rahman Pina:
Anggota DPRD Kota Makassar, Rahman Pina, dalam sebuah kegiatan.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kasus dugaan tindakan pelanggaran Pileg Sulsel yang menyeret legislator Partai Golkar, Rahman Pina, terus bergulir.

Terkait kasus tersebut, Rahman Pina juga telah menjalani pemeriksaan dari dari penyidik. 

Dari keterangan Kabid Humas Polda Sulsel, Komnas Pol Dicky Sondani, Jumat 12/7/2019 saat menjalani pemeriksaan, Rahman Pina membantah terlibat dalam dugaan pelanggaran Pileg tersebut.

"RP sudah diperiksa penyidik Polda, namun dia tidak mengaku telah menyuruh operator mengubah suara," ungkap Dicky.

Pengakuan yang disampaikan Rahman Pina tampaknya berbeda dengan pengakuan para tersangka, yang telah ditetapkan penyidik. 

Pasalnya menurut penjelasan Dicky, para tersangka mengaku dibayar atau disuruh RP.

"Kalau Tersangka mengaku. Operator mengaku kalau dia dikasih uang untuk menambah suara RP. Namun hal itu disangkal oleh RP saat diperiksa oleh penyidik," tambah Dicky.

loading...

Sementara itu, Rahman Pina yang saat ini masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, enggan berkomentar saat dikonfirmasi dugaan pelanggaran Pileg yang menyeret namanya.

"Jangan tanya saya. Tanya saya tentang itu sama saja menjerumuskan saya. Jangan menjerumuskan saya," ungkap RP saat ditemui di kantor DPRD Makassar.

Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Adapun ketujuh tersangka tersebut, di antaranya Umar selaku Ketua PPK Kecamatan Panakkukang dan Adi selaku Ketua PPK Kecamatan Biringkanaya. Keduanya berperan lalai dalam pengawasan saat pelaksanaa penghitungan perolehan suara pemilu, sehingga penetapan suara tidak sesuai antara C1 dari TPS dengan DAA1 yang dikeluarkan oleh PPK.

Selanjutnya, Fitri selaku PPS Kelurahan Panaikang yang berperan meminta kepada pengimput untuk mengubah suara dengan cara mendapatkan imbalan. Rahmat selaku operator KPU Kecamatan Biringkanaya yang mengubah suara dari inputan dan mendapatkan upah berupa uang.

Kemudian Ismail selaku PPS Kecamatan Panakkukang yang mengubah suara pada formulir DAA1, Firman selaku PPK Biringkanaya serta Barliansyah selaku KPPS kelurahan Karampuang.

Loading...
Loading...