Jumat, 12 Juli 2019 21:05 WITA

Saat Panglima TNI Bicara Pelibatan Polisi dan Warga dalam Peperangan, Ada Apa?

Editor: Abu Asyraf
Saat Panglima TNI Bicara Pelibatan Polisi dan Warga dalam Peperangan, Ada Apa?
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

RAKYATKU.COM - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tiba-tiba berbicara tentang peperangan. Katanya, melibatkan Polri dan warga. Apa maksudnya?

Hal itu disampaikan Panglima di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (12/7/2019). Dia berbicara di depan calon perwira remaja (Capaja) Akademi TNI-Polri.

"Saya ingin menyampaikan terkait dengan tantangan revolusi industri terhadap perkembangan generasi peperangan. Perlu saya sampaikan bahwa peperangan domainnya bukan hanya TNI saja. Peperangan domainnya Polri dan seluruh warga negara dalam rangka bela negara," kata Hadi.

Hadi menjelaskan proses pemisahan Polri dan TNI pada 1998. Menurut Hadi, pemisahan itu tidak bisa dilakukan secara total sebab dalam praktiknya TNI dan Polri selalu sinergi dalam menjaga keutuhan bangsa. TNI dan Polri memiliki tugas menjaga stabilitas politik keamanan negara. 

Mantan kepala staf TNI Angkatan Udara itu lalu bicara panjang lebar mengenai taktik peperangan dari masa ke masa. Hadi menekankan setiap perkembangan zaman membuat rapot pertempuran menjadi berbeda-beda. 

Tahun 1750-1850 mulailah lahir revolusi industri pertama. Demikian juga masuklah pada generasi peperangan tahap kedua. Manusia mulai berpikir bagaimana berubah pertempuran menggunakan tanpa kapal. 

"Yang perlu dicatat adalah setiap produksi akan merubah rapot pertempuran. Namun batas-batas pertempuran masih jelas antara negara karena memiliki kepentingan," papar Hadi seperti dikutip dari Detikcom. 

Pada era industri keempat, Hadi mengatakan perubahan begitu cepat terutama di bidang siber. Jarak pertempuran pun berubah menjadi tanpa batas. 

Loading...

"Revolusi industri keempat semuanya sudah melakukan pergerakan luar biasa yang menghasilkan dimensi yang luar biasa atau disebut cyber. Jarak-jarak pertempuran sudah berubah, ancaman sudah berubah, ancaman sudah tanpa batas. Bahkan manusia pun utamanya bisa diretas. Kita paham betul manusia ini akan berbuat apa. Dan batas-batas pertempuran pun sudah tidak bisa dibedakan mana militer mana sipil, semua nya menjadi kaku, lurik masuk ke revolusi industri 4.0," bebernya. 

"Platform pertempuran baru adalah cyber dan itu ada saat ini. Tidak bisa dibedakan bahwa mana militer mana sipil dan yang memiliki kemampuan itu tidak bisa dibedakan. Oleh karena itu muncul 1 tekad bahwa daripada dikuasai lebih baik mengendalikan dengan cara menguasai cyber. Bahkan ilmu yang dulu dipelajari bahwa siapa yang kuat akan menang, siapa yang besar akan menang. Semua berubah bahwa siapa yang cepat akan menang," imbuhnya.

Hadi menegaskan perkembangan revolusi industri 4.0 merupakan suatu keniscayaan. Karena itu, dia menegaskan Indonesia harus diisi dengan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

"Seperti yang disampaikan oleh Kapolri bahwa kita harus mencari angsa-angsa hitam itu, angsa hitam pertama adalah bahwa peperangan ke depan tidak menginginkan kehancuran infrastruktur atau korban jiwa. Sehingga angsa hitamnya apa? Angsa hitamnya adalah melumpuhkan semua sistem jaringan cyber pesawat kapal tank semua dilumpuhkan sehingga tidak bisa apa-apa," ujar Hadi. 

"Angsa hitam kedua adalah melemahkan seluruh tentara dengan ancaman geologi dan mengembang penyakit-penyakit untuk menghantam para prajurit TNI maupun Polri," sambung dia. 

Atas berbagai kondisi itu, Hadi berpesan kepada para taruna untuk berpikir terbuka. Mereka juga diminta untuk menguasai teknologi.

"Kalau kita tidak paham betul revolusi industri 4.0 maka sia-sia lah menjadi perwira remaja dengan pangkat letnan 2 atau ipda. Kita akan ditinggalkan oleh negara-negara lain yang lebih besar paham betul revolusi," ujarnya.
 

Loading...
Loading...