Kamis, 04 Juli 2019 16:37 WITA

Terancam Buta Total, Rizwan Korban Gempa Palu Butuh Uluran Tangan

Penulis: Azwar Basir
Editor: Nur Hidayat Said
Terancam Buta Total, Rizwan Korban Gempa Palu Butuh Uluran Tangan
Rizwan bin Sudarmin (berdiri depan).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Rizwan bin Sudarmin sudah 12 tahun menahan sakit karena mengalami kebutaan sejak berusia dua bulan. Sebenarnya, Rizwan terlahir dengan mata normal.

Hanya, demam dan cacar menyerangnya tanpa jeda saat balita. Inilah yang membuatnya mengalami kebutaan. Dokter pun tak berani berbuat banyak, lantaran usianya masih dua bulan.

Sejak saat itu, Rizwan tak pernah lagi dibawa ke rumah sakit lantaran tak ada biaya. Padahal kondisi sepasang matanya sangat mengkhawatirkan, nyaris buta total.

Si bungsu empat bersaudara ini awalnya tinggal di Donggala, namun sejak peristiwa gempa yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu, ia sekeluarga pindah di pengungsian Huntara.

Relawan Inspirasi Rumah Zakat di Donggala, Tanti Hartuti, menuturkan Rizwan bukan hanya sakit fisik. Secara psikologis Rizwan merasa tertekan karena berbeda dengan anak sebayanya.

Terlebih saat ibunya meninggal dunia sejak dia menginjak usia 5 tahun. Dunia sungguh terasa makin gelap bagi Rizwan.

Bukan hanya ibunya yang meninggalkan, ayahnya pun pergi entah kemana. Padahal di usianya yang masih sangat dini, tentu membutuhkan pelukan hangat seorang ayah.

Sungguh, Rizwan sangat ingat bertemu dan berlari memeluk sang Ayah dan bilang,”Ayah, Rizwan Rindu," tutur Tanti menirukan ucapan Rizwan, Kamis (04/07/2019).

loading...

Tumbuh tanpa ibu, tanpa ayah di kolong langit ini memang terdengar sangat mengerikan. Tak ada satupun anak yang menginginkannya, termasuk Rizwan.

Tiga saudaranyalah yang membuat Rizwan bertahan dan mencoba tegar menjalani tahun demi tahun. Namun, di relung hati terdalamnya, dia ingin sekali melihat dunia, berkumpul dan memandang orang yang dia cintai.

Kurniawan (20 tahun), kakak tertua Rizwan mengambil tanggungjawab sebagai tulang punggung keluarga. Kerja apapun asal halal, dia jalani. Namun, apa daya uang hasil kerja serabutan hanya cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari.

Kurniawan sedih dan tak jarang merasa bersalah karena tak sanggup membawa si bungsu berobat. Seluruh tenaga sudah ia kerahkan, namun dana masih tak bisa terkumpul. Kadang ia dihampiri lelah dan ingin menyerah, namun wajah adik-adiknya menjadi sumber semangat agar tetap tegar menjalani hidup.

Relawan Inspirasi Rumah Zakat di Sulawesi Tengah, Tanti menuturkan prihatin melihat kondisi terakhir Rizwan. Menurutnya, anak ini masih bisa tertolong bila segera melakukan pengobatan yang intensif dan serius.

"Namun, jika pengobatan terlambat maka terancam buta total," tutupnya.

Loading...
Loading...