Kamis, 04 Juli 2019 10:10 WITA

PAN Sulsel Tolak Gabung Jokowi, Anggap Pengkhianatan terhadap Pemilih

Editor: Abu Asyraf
PAN Sulsel Tolak Gabung Jokowi, Anggap Pengkhianatan terhadap Pemilih
Usman Lonta (kanan) bersama Ashabul Kahfi dalam sebuah kesempatan.

RAKYATKU.COM - Kecenderungan DPP untuk pindah haluan ke kubu Jokowi-Ma'ruf tidak sejalan dengan pengurus di daerah. Jika bergabung dengan pemerintah, maka itu dianggap pengkhianatan terhadap pemilih.

Penolakan itu ditegaskan Wakil Ketua DPW PAN Sulsel, Usman Lonta. Dia mengatakan, lebih mulia jika partai berlambang matahari terbit ini mengambil posisi di luar pemerintahan.

"Jika ada tawaran untuk berkoalisi, jauh lebih mulia jika tawaran tersebut ditolak dan mengambil posisi di luar pemerintahan untuk menjalankan fungsi pengawasan sebagai check and balances terhadap jalannya pemerintahan," kata anggota DPRD Sulsel ini. 

"Peran kebangsaan seperti ini tidak akan mengurangi kemuliaan PAN daripada ikut larut dalam rezim ini," lanjut Usman seperti dilihat Rakyatku.com di akun Facebooknya, Kamis (4/7/2019).

Usman Lonta menulis hasil pertemuan dengan Ketua DPW PAN Sulsel, Ashabul Kahfi. Dalam pertemuan itu, Kahfi yang terpilih menjadi anggota DPR RI meminta pendapatnya tentang sikap PAN pasca Pilpres 2019. 

Berikut tulisan Usman Lonta selengkapnya:

Mengubah Haluan atau konsisten di luar pemerintahan 

by Usman Lonta

Beberapa hari lalu saya dimintai pandangan oleh ketua DPW PAN Sulsel saudaraku H Ashabul Kahfi. 

Dalam pertemuan tersebut saya kemukakan bahwa bergabung dengan koalisi pemenang pilpres meskipun benar, akan tetapi belum tepat. 

Ketepatan berkaitan dengan momen, waktu pilpres dengan niat bergabung ke koalisi pemenang terlalu dekat. 

Masih segar ingatan warga pemilih PAN bahwa kita ke koalisi Prabowo, karena rezim inilah tumbuh suburnya ketidakadilan, dengan seluruh alamat yang dilekatkan oleh pemilih PAN kepada rezim ini. 

Loading...

Oleh karenanya terburu-buru bergabung ke koalisi pemenang pilpres terkesan penghianatan terhadap pemilih PAN.

Kesan pengkhianatan terhadap pemilih PAN susah dihindari, sehingga jauh lebih mulia kalau PAN tidak menjerumuskan diri pada rezim ini. 

Jauh lebih mulia jika PAN puasa. Puasa dalam makna mengendalikan diri masuk ke koalisi ini. Meskipun ada ajakan, karena itulah batu ujiannya, ketika ada ajakan dan kita mengendalikan diri. 

Apalagi kalau cuma mau sekedar masuk koalisi tersebut tanpa diajak. 

Hakekat puasa sesungguhnya adalah menahan diri dari makan dan minum yang tersedia yang halal serta baik, tapi kita mengendalikan diri untuk tidak makan dan minum meskipun itu halal. 

Ketika ada ajakan dan PAN bisa menahan diri maka itulah hakekat puasa PAN dalam menghadapi dahsyatnya godaan kekuasaan.

Alasan lain adalah PAN harus memahami suasana batin para pemilihnya pada pemilu legislatif 2019 yang lalu. Saya tidak ingin melakukan generalisasi terhadap semua pemilih PAN, tetapi setidaknya harus diperhatikan beberapa kalangan yang memilih PAN karena ingin menegakkan keadilan, ingin agar supaya rezim ini segera berakhir. 

Menjaga suasana batin ini jauh lebih baik daripada mengambil manfaat untuk bergabung di rezim ini. Dalam kaidah usul fikih dikatakan bahwa menghindari mudarat jauh lebih utama daripada mengambil manfaat.

Oleh karena itu jika ada tawaran untuk berkoalisi jauh lebih mulia jika tawaran tersebut ditolak dan mengambil posisi di luar pemerintahan untuk menjalankan fungsi pengawasan sebagai check and balances terhadap jalannya pemerintahan. 

Peran kebangsaan seperti ini tidak akan mengurangi kemuliaan PAN daripada ikut larut dalam rezim ini. 

Wallahu a'lam bishshawab

Loading...
Loading...