Rabu, 26 Juni 2019 11:46 WITA

Lewat Otopsi Verbal dan Survei, Peneliti UGM Sebut KPPS yang Meninggal Umumnya Perokok

Editor: Abu Asyraf
Lewat Otopsi Verbal dan Survei, Peneliti UGM Sebut KPPS yang Meninggal Umumnya Perokok
Peneliti UGM bersama Ketua KPU RI, Arief Budiman, Selasa (25/6/2019).

RAKYATKU.COM - Penyebab kematian petugas KPPS sempat jadi polemik pada pemilu 2019. Benarkah ada unsur kesengajaan? Peneliti Universitas Gajah Mada (UGM) mengumumkan temuannya.

Penitian ini melibatkan lintas disiplin di UGM dari tiga fakultas. Melibatkan ahli setingkat doktor dan profesor. Mereka yang terlibat antara lain Dr Erwan Agus Purwant (Fakultas Ilmu Sosial Politik), Prof dr Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD., Sp.OG (K) dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK), dan Prof Dr Faturochman, MA dari Fakultas Psikologi.

Penelitian dilakukan selama satu bulan sejak 20 Mei 2019. Di Provinsi DIY, terdapat 12 petugas KPPS yang meninggal dunia. Tim UGM lalu mengambil sampel 10 di antaranya. Tim melakukan otopsi verbal.

"Otopsi verbal kami lakukan dan dianalisis oleh panel ahli yang beranggotakan tiga dokter spesialis forensik," kata dr Riris Andono Ahmad, MPH, PhD dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM di kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Hasilnya, Kajian UGM menyimpulkan 10 petugas KPPS meninggal dipastikan karena alasan medis, dan jauh dari praduga kesimpangsiuran yang berkembang. Data mencatat, sebesar 80 persen petugas KPPS meninggal dunia di DIY mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular, dan 90 persen dari mereka adalah perokok.

Loading...

"Jadi seluruh kematian terjadi secara natural, dan tidak ditemukan indikasi adanya kekerasan maupun kejadian tidak wajar," jelas pria karib disapa Doni ini.

Selain metode otopsi verbal, Kajian UGM juga menggunakan metode survei TPS di 400 titik yang dinilai telah merepresentasi total 11.781 TPS di DIY. Hasilnya, dari pengambilan sampel secara acak di lima kabupaten kota, Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Bantul, ditemukan gejala kelebihan jam bekerja.

"Dari sample total 212 KPPS di DIY, baik yang sehat maupun sakit, 80 persen menilai tuntutan pekerjaan sebelum, saat, dan setelah tergolong tinggi. Mereka mengalami kelelahan, ditambah tak memiliki waktu istirahat cukup dan harus langsung melanjutkan aktivitas kerja formalnya di hari berikutnya," kata dia.

Meski demikian, Kajian Lintas Disiplin UGM ini belum dapat memberi masukan terhadap KPU atau Parlemen terkait hasil riset ini. Mereka beralasan perlu waktu, sumber daya, dan anggaran, lebih untuk menyimpulkan temuannya sebagai jawaban atas apa yang menimpa KPPS dalam lingkup nasional.

Loading...
Loading...