Jumat, 24 Mei 2019 18:45 WITA

Pengebom Masjid Ini Terpilih Jadi Anggota Parlemen India

Editor: Aswad Syam
Pengebom Masjid Ini Terpilih Jadi Anggota Parlemen India
Sadhvi Pragya Thakur

RAKYATKU.COM, NEW DELHI - Sebelas tahun lalu, Sadhvi Pragya Thakur, jadi terdakwa kasus terorisme, terkait pengeboman masjid di India. Saat ini, dia terpilih menjadi anggota parlemen India.

Tidak hanya itu, Sadhvi juga merayakan pembunuhan pahlawan kemerdekaan India Mahatma Gandhi.
Dia menyebut pembunuh Mahatma Gandhi, sebagai seorang patriot. Pekan lalu, Perdana Menteri Narendra Modi, mengecam Sadhvi karena perayaan tersebut.

Sadhvi dituduh berpartisipasi dalam serangan masjid pada 2008 yang menewaskan enam orang, dan melukai lebih dari 100 lainnya.

Dia lalu ditahan 9 tahun penjara, atas tuduhan itu, dan masih menunggu persidangan untuk kasus terorisme, meskipun dibebaskan dengan membayar jaminan pada 2017.

Wanita ini juga kontroversial, karena pernyataannya bahwa urine sapi yang dia minum telah menyembuhkannya dari kanker.

Namun, di luar dari serangkaian catatan kriminal, perempuan berusia 49 tahun ini, sukses melenggang ke parlemen di Bhopal. Dia maju dari partai pimpinan Modi, Bharatiya Janata (BJP). Sadhvi bergabung dengan BJP pada April 2019. Jelas saja, hasil ini mengejutkan banyak pihak.

Sementara itu partai menyebut terpilihnya Sadhvi sebagai simbol kebangkitan nasionalisme Hindu ekstrem di India di bawah kepemimpinan Modi.

Loading...

Namun, Modi tak begitu akur dengan Sadhvi. Dia mengecam wanita itu atas perayaan pembunuhan Gandhi, hanya beberapa hari setelah Modi mendukung pencalonannya.

"Dia meminta maaf secara terbuka atas komentarnya, tetapi saya tidak akan memaafkannya secara pribadi," kata Modi, dalam sebuah wawancara televisi, seperti dilaporkan kembali AFP, Jumat (24/5/2019).

Namun Sadhvi mendapat pembelaan dari presiden BJP Amit Shah dan menyebut tuduhan terorisme terhadapnya palsu.

Polisi mengatakan sepeda motornya digunakan untuk membawa bahan peledak untuk serangan pada 2008. Selain itu Sadhvi ambil bagian dalam rapat perencanaan serangan.

Persidangannya berlarut-larut dan sangat lamban. Selain itu aturan pemilu di India memungkinkan siapa pun untuk mencalonkan diri selama belum ada keputusan hukum tetap. Beberapa kandidat lain juga ada yang menghadapi dakwaan pembunuhan.

Loading...
Loading...