Sabtu, 25 Mei 2019 08:00 WITA

Pertahankan Hukum Rajam, Sultan Brunei Kembalikan Gelar Kehormatan dari Oxford 

Editor: Abu Asyraf
Pertahankan Hukum Rajam, Sultan Brunei Kembalikan Gelar Kehormatan dari Oxford 
Layla Moran

 

RAKYATKU.COM - Dunia internasional mnengkritik habis pemberlakuan hukum rajam terhadap pelaku maksiat dari kalangan LGBT di Brunei. Namun, Sultan Hassanal Bolkiah bergeming.

Terbaru, dia berani mengembalikan gelar kehormatan bidang hukum dari Universitas Oxford, Inggris.

Hal itu dipoicu munculnya petisi yang ditandatangani 120 ribu orang yang meminta gelar kehormatan di bidang hukum yang dianugerahkan pada 1993 agar dicabut. 

Dukungan bagi petisi itu antara lain berasal dari anggota parlemen asal Oxford Layla Moran. Dia menulis dalam surat pencabutan gelar jelas tidak cukup. 

"Saya pikir sangat baik bagi universitas untuk mulai meninjau sistem pemberian gelar kehormatan untuk memastikan skandal seperti ini tak terjadi di masa depan," terang dia. 

Dikutip ABC, Oxford menyatakan telah membuka investigasi di tengah kekhawatiran akan hukum rajam yang diperkenalkan negara kaya minyak itu. 

Pihak universitas menyatakan sudah menulis surat kepada Sultan Bolkiah pada 26 April berisi permintaan penjelasan keputusannya itu paling lambat 7 Juni mendatang. 

Loading...

Dalam keterangan tertulis, juru bicara Oxford menuturkan mereka telah mendapat pemberitahuan bahwa Sultan memutuskan mengembalikan gelarnya itu pada 6 Mei. 

Sultan memilih tetap mempertahankan hukum Syariah meski sudah mengumumkan adanya moratorium berisi perpanjangan penundaan pemberlakuan aturan. 

Sultan Bolkiah menyatakan dia memahami jika terdapat banyak pertanyaan dan mispersepsi mengenai hukum yang dinamakan Aturan Pidana Syariah (SPCO). 

"Bagaimanapun setelah mispersepsi dan pertanyaan ini bisa dijernihkan, hukum ini bisa ditegakkan dengan kuat," tegas sultan berusia 72 tahun itu seperti dikutip BBC.

Brunei memperkenalkan hukuman mati bagi pelaku LGBT yang ketahuan berhubungan seks. 

Diperkenalkan pada April, hukum syariah yang menjadi perbincangan internasional itu menjatuhkan hukum rajam sampai mati bagi pelaku LGBT maupun zina. 

Namun setelah diperkenalkan pada 3 April, Sultan Bolkiah memutuskan untuk menangguhkan hukuman mati itu setelah menerima kritikan hingga gelombang boikot dari komunitas internasional. 
 

Loading...
Loading...