Sabtu, 18 Mei 2019 12:11 WITA

Pimpinannya Diadili Secara Kriminal, OPM: "Dia Harusnya Tahanan Perang"

Editor: Aswad Syam
Pimpinannya Diadili Secara Kriminal, OPM:
Kepala Yogor Telenggen ditutup saat ditangkap kembali 2018 lalu.

RAKYATKU.COM, PAPUA - Seorang pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tertangkap, Yogor Telenggen, diadili di peradilan umum atas kasus kriminal.

Namun pihak OPM menyebut, seharusnya Yogor diadili dalam statusnya sebagai tahanan perang.

Hal itu disampaikan kuasa hukum Yogor, Veronica Koman, sebagaimana diposting di Fanpage TPNPB News.

Menurut Veronica, diadilinya Yogor di pengadilan kriminal biasa, bertentangan dengan ketentuan hukum humaniter internasional.

"Gerilyawan yang menjadi bagian dari perang pembebasan nasional, adalah kombatan iregular yang seharusnya mendapat status tahanan perang apabila tertangkap oleh musuh," ujar Veronica.

Dia menambahkan, tahanan perang berhak atas imunitas dari peradilan kriminal domestik, atas tindakan perangnya yang telah sesuai dengan hukum humaniter.

Menurut Veronica, Yogor Telenggen memenuhi syarat gerilyawan kombatan yang layak mendapatkan status tahanan perang, sebagaimana diatur Pasal 44 dan 45 Protokol 1 dari Konvensi Jenewa.

Aturan dimaksud adalah, ada salah satu pihak yang berkonflik, terorganisir, ada rantai komando yang bertanggung jawab, tunduk pada hukum perang dan ada mekanisme indisipliner internal apabila terjadi pelanggaran, serta membawa senjata secara terbuka ketika berperang.

Loading...

Yogor Telenggen adalah pentolan OPM yang tertangkap Sabtu, 12 Mei 2018 lalu di Puncak Jaya. 

Dia menjadi buron kelas satu pada 2016, setelah melarikan diri dari Lapas Abepura seusai divonis seumur hidup. Dia ditangkap kembali oleh Timsus Mabes Polri, dan terpaksa mendapat timah panas di lututnya karena mencoba melawan.

Yogor terlibat sejumlah kasus kriminal. Pada 2011 dia menembak anggota Brimob Bripda Eko, Bripda Priyanto dan Bripda Agus Syukur. Tiga polisi itu terluka. Di tahun ini pula Yogor menyergap seorang anggota Brimob dan membunuhnya. Dia berhasil merampas 1 pucuk senjata jenis Arsenal.

Pada 2012 merampas dan menyerang Polsek Pirime dan berhasil merampas 3 senjata api. Selain itu pada 21 Februari 2013, dia terlibat penembakan di Sinak.

Berdasarkan data kepolisian, pada 10 Januari 2013 Yogor terlibat penembakan Bripka Hasan dan seorang anggota TNI hingga kritis. Seorang anggota masyarakat atas nama Haji Ito atau Hadis turut ditembak hingga korban meninggal dunia.

Selain itu Yogor juga diduga kuat melakukan penembakan terhadap anggota TNI atas nama Pratu Sandi pada 12 Februari 2018. Senjata Sandi berhasil dibawa kabur.

Loading...
Loading...