Jumat, 10 Mei 2019 15:29 WITA

Di Dekat Anak-anaknya yang Tidur, Ahli Bedah Ini Cekik Bu Dokter hingga Tewas

Editor: Mays
Di Dekat Anak-anaknya yang Tidur, Ahli Bedah Ini Cekik Bu Dokter hingga Tewas
Mohammed Shamji dan Elana Fric-Shamji

RAKYATKU.COM, KANADA - Seorang ahli bedah saraf Toronto, mengaku bersalah atas pembunuhan istrinya yang berprofesi sebagai  dokter pada 2016 lalu. Pembunuhan itu, hanya beberapa hari sebelum persidangan cerainya akan dimulai. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Kamis, 9 Mei 2019, tanpa ada kemungkinan pembebasan bersyarat selama 14 tahun.   

Di Pengadilan Toronto Kanada kemarin terungkap, 31 November 2016, Elana Fric-Shamji (40), tengah tertidur dengan anak-anaknya di rumah mereka. Tiba-tiba, Mohammed Shamji (43) datang dan mencekik leher sang istri.

Akibatnya, tulang leher dan tulang rusuk Elana patah. Dia pun tewas.  Sementara dua anaknya masih tertidur pulas.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di pengadilan, Shamji mengaku sebelum membunuh istrinya, ada pertengkaran. Sang istri telah mengajukan gugatan cerai dua hari sebelumnya.   

Alasan cerainya, Fric-Shamji mengaku telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga selama 12 tahun pernikahan mereka.

Usai membunuh istrinya, Shamji memasukkan mayat istrinya ke dalam koper, dan dibuang di dekat Sungai Humber di kota Vaughan, Ontario selatan.  Koper itu ditemukan keesokan harinya oleh dua orang yang lewat di pinggir sungai.

Menurut polisi, korban terbunuh dari pencekikan dan trauma benda tumpul. 

Ahli bedah saraf itu telah ditahan sejak penangkapannya pada 2 Desember 2016. Dia ditangkap di sebuah kedai kopi di Mississauga, sehari setelah tubuh Elana ditemukan. 

Menghukumnya, Hakim John McMahon mengatakan, kasus ini merupakan contoh tragis dari pembunuhan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terlalu sering dia lihat.

McMahon memuji terdakwa atas pembelaan bersalahnya di menit terakhir, yang menyelamatkan putrinya sehingga tidak jadi bersaksi di pengadilan. Tapi dia mengutuknya atas pembunuhan brutal itu.

Dan Ana Fric, ibu Elana, mengatakan keadilan tidak dilakukan.

"Aku sangat menyesal kita tidak memiliki hukuman mati di negara ini, karena Mohammed Shamji pantas dihukum mati untuk apa yang dia lakukan," katanya. 

Berbicara di luar gedung pengadilan setelah permohonan bersalahnya, Ana Fric, ibu Elana, mengatakan, keadilan tidak akan pernah menimpa kita. 

"Satu-satunya keadilan yang akan kita miliki adalah jika dia akan kembali - dan dia tidak akan pernah kembali," ujarnya. 

loading...

Berita pembunuhan dan keterlibatan Shamji mengejutkan penduduk di daerah Toronto saat itu, terutama di kalangan komunitas medis.

Shamji adalah dokter yang sangat dihormati yang pernikahannya menghasilkan tiga anak. 

Fric-Shamji bekerja sebagai dokter keluarga di Rumah Sakit Scarborough dan Rouge di Toronto. 

Sebelum penangkapannya, Shamji adalah seorang ahli bedah saraf di Toronto Western Hospital dan anggota fakultas di University of Toronto.

Mereka berdua lulusan Universitas Duke di AS.

Saksi mata mengaku mendengar pasangan itu berdebat di rumah mereka pada malam pembunuhan itu.

Aparat penegak hukum menuduh bahwa Fric-Shamji dipukul dengan benda tumpul di garasi pasangan itu. 

Tetangga mengatakan kepada surat kabar Toronto Sun, bahwa Elana Fric-Shamji telah mengajukan cerai dari suaminya, dan bahwa dia dalam 'semangat yang baik' pada hari-hari menjelang kematiannya karena dia sedang 'mencari kehidupan barunya'.

Pada saat pembunuhan, anak-anak pasangan itu - Yasmin (12); Faiza (9), dan Marius (3), ditempatkan dalam perawatan kakek nenek dari pihak ibu.

Kematian Fric-Shamji yang mengerikan jauh berbeda dari gambar-gambar yang dipresentasikan pasangan itu di akun media sosial mereka, yang memperlihatkan suami-istri saling menikmati kebersamaan.

Namun, sumber mengatakan kepada Toronto Sun pada 2016, bahwa pernikahan itu dinodai oleh insiden sebelumnya di mana polisi dipanggil ke rumah. 

"Ini sangat mengejutkan," kata seorang teman kepada Sun. "Dia hanya orang yang luar biasa, luar biasa."

Loading...
Loading...